Breaking News:

Mimbar Jumat

Refleksi Memperingati Hari Pahlawan. Aqidah Yang Melahirkan Spirit Hubbul Wathan

Istilah hubbul wathan awalnya sering didekatkan dengan istilah jihad sebagai resolusi dan komitmen umat Islam untuk terus memperjuangkan kemerdekaan

Editor: Bejoroy
SRIPOKU.COM/Istimewa
DR Abdurrahmansyah MAg / Dosen Pascasarjana Universitas Islam Negeri Raden Fatah. 

Jangan lupa juga subscribe, like dan share channel Instagram Sriwijayapost di bawah ini:

Dalam kaitan ini, musuh bersama (common enemy) umat Islam saat ini adalah kebodohan, kemiskinan, dan ketidakberdayaan secara sosial.

Pada era sekarang, peran sebagai penjajah dan belenggu kemajuan u-mat Islam itu sesungguhnya adalah person yang menghambat dis-tribusi kemakmuran umat.

Kebijakan ekonomi, pendidikan, dan sosial yang berpotensi mengikat gerak laju pengembangan dan pemberdayaan umat adalah indikasi masih eksisnya semangat kolonialisme.

Karena itu, sasaran jihad regulasi harus diarahkan pada upaya meng-hentikan semua pikiran dan ide yang melemahkan potensi umat.

Ruang gerak para koruptor harus dibatasi seketat mungkin sampai perilaku koruptif dapat diminimalisir dan ditekan pada titik nadir paling rendah dari aktivitas penyelenggaraan negara.

Perilaku koruptif sangat merusak semangat jihad.

Sejarah perang Uhud yang mencatat kekalahan pasukan kaum muslimin di antaranya disebabkan perilaku koruptif dalam perjuangan pada saat itu.

Posisi para pemanah andal (sniper) dari pasukan kaum muslim yang berjaga-jaga di bukit Uhud tidak lagi menunjukkan komitmen yang baik.

Para pemanah muslim justru turun dan meninggalkan posisi di atas bukit karena tergiur dengan harta benda musuh yang berserakan di hadapan mereka.

Jangan lupa subscribe, like dan share channel TikTok Sriwijayapost di bawah ini:

Logo TikTok Sripoku.com

Hasrat dan nafsu menguasai harta rampasan perang merupakan perilaku koruptif yang menyebabkan kegagalan pasukan umat Islam.

Instruksi Nabi Muhammad agar para pemanah andal tetap pada posisi awal diabaikan dan mereka lebih memilih dorongan nafsu koruptif yang bersifat materialistik kebendaan semata.

Jika motivasi perjuangan tidak lagi digerakkan oleh iman dan ketaatan pada sistem dan instruksi pimpinan yang mulia, maka tuungglah masa kehancurannya.

Sejarah selalu membuktikan bahwa semangat mementingkan keben-daan (materialistik) akan mendorong seseorang bersifat egois dan anti sosial.

Sebaliknya, iman yang kuat dan ketundukan pada sistem yang benar akan melahirkan atmosfir kebersamaan, peduli, dan bertanggung-jawab.

Oleh karena itu, pemaknaan semangat jihad dan cinta tanah air (hubbul wathan) di era post-modern ini sesungguhnya berpusat pada kesadaran untuk menjaga keutuhan bangsa Indonesia dari segala u-paya yang akan melemahkan potensi dan eksistensi kemajuan bangsa.

Dengan demikian, semangat perang melawan kemiskinan, kebodohan, ketidakadilan hukum dan perilaku koruptif harus dianggap sebagai jihad dan bagian dari upaya mencintai bangsa ini. wallahu a’lam bi al-shawwab.

Sumber: Sriwijaya Post
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved