'Prank' 2 T Dan Masalah Sosial Yang Dihadapi
Seandainya 2 T itu betul ada maka ada 1,1 juta penduduk miskin yang tersebar di Sumsel akan terbantu dengan penurunan angka kemiskinan sebesar 12,52
SRIPOKU.COM - Beberapa waktu lalu publik dihebohkan pemberitaan sumbangan 2 Triliun yang diberikan ke-luarga Akidi Tio untuk Sumsel.
Jumlah ini tidak kecil, namun sampai hari ini bantuan tersebut menjadi “Prank” terheboh untuk tahun ini.
Ditengah kesulitan ekonomi dan turunnya daya beli masyarakat pasca pemberlakuan PPKM.
Munculnya pemberitaan terkait sumbangan 2 Triliun menjadi angin segar bagi penanganan Covid di Sumsel.
Seandainya dana itu betul ada maka ada 1,1 juta penduduk miskin yang tersebar di Sumsel akan terbantu dengan penurunan angka kemiskinan sebesar 12,52 persen jadi 12,36 persen. Dan itu juga akan membantu peningkatan rasio bantuan rumah tangga 0,339 pada Maret 2021 menjadi 0,341 di bulan Maret 2021 dan dapat membantu banyak warga masyarakat (data BPS Sumsel 2021).
Saya pribadi prihatin dengan “prank” yang dilakukan oleh Heriyanti sebagai anak Akidi Tio yang menipu satu Indonesia ditengah kondisi sulit ini.
Ditengah layanan kesehatan yang kolaps, ekonomi rontok dan sendi-sendi kehidupan dibatasi masih saja ada saja keisengan orang menipu pemerintah.
Meskipun sampai hari ini motif Heriyanti belum dijelaskan secara terperinci namun cukup melukai perasaan masyarakat.
Baca juga: Begini Penjelasan Irjen Argo Yuwono Terkait Hasil Pemeriksaan Kapolda Sumsel Sumbangan 2 T Akidi tio
Baca juga: Kakak Heriyanti di Jakarta, Tak Tahu Jika Ayahnya Akidi Tio Punya Aset Rp 2 T
Jangan lupa subscribe, like dan share channel Youtube Sripokutv di bawah ini:
Betulkah ini Prank ?
Penelusuran saya di media digital termasuk membaca artikel yang ditulis Dahlan Iskan terkait bantuan 2 Triliun betul atau tidak juga masih jadi tanda tanya.
Dalam tulisannya Dahlan menjelaskan Akidi Tio satu generasi dengan pengusaha minyak bernama Tong Djou yang dibesarkan oleh Dirut Pertamina Ibnu Sutowo pada zaman itu.
Pada era itu bukan barang aneh jika pengusaha Indonesia punya perusahaan di Singapura.
Pasca 12 tahun Akidi meninggal, anak-anaknya baru dikabari bahwa si ayah memiliki harta yang banyak di Singapura.
Namun pengurusan yang tidak sederhana sebab perusahaan yang dimiliki tersebut cukup besar dan mungkin melalui Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) perusahaan diambil alih orang lain.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/palembang/foto/bank/originals/zainul-arifin.jpg)