Breaking News:

Wawancara Eksklusif

Ketua IDI Palembang Sebut Tiga Kelompok Terkait Covid-19, Yang tak Percaya Sedikit tapi Vokal

Pertama terkendala distribusi vaksin, pelaksananya dan masyarakat penerima vaksin. Jadi tiga hal ini untuk menyukseskan herd immunity.

Penulis: Odi Aria Saputra | Editor: Soegeng Haryadi
DOK. SRIPOKU.COM
Ketua Ikatan Dokter Indonesia Cabang Palembang Dr. dr. Zulkhair Ali, SpPD, KGH, FINASIM 

PEMERINTAH Indonesia terus menggaungkan Herd Immunity atau kekebalan kelompok agar Pandemi Covid-19 di Tanah Air bisa ditekan penyebarannya. Herd Immunity yang lakukan melalui vaksinasi dengan target mencapai 80 persen dari jumlah penduduk sudah menerima vaksin. Bagaimana Herd Immunity bekerja sehingga bisa membuat wabah ini mereda? Simak wawancara khusus Kepala Newsroom Sripo-Tribun Sumsel L Weny Ramdiastuti bersama Ketua Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Palembang Dr dr Zulkhair Ali, SpPD, KGH, FINASIM

********

Pemerintah menggaungkan Herd Immunity agar Pandemi segera berlalu, bisa dijelaskan apa Herd Immunity?
Herd immunity ini di awal Pandemi merupakan sesuatu diharamkan di dunia medis. Kita inginnya jangan sampai ada Herd Immunity karena resikonya sangat tinggi. Herd immunity adalah kekebalan kelompok, ini terjadi jika sebagian besar penduduk kita sudah terinfeksi dan vaksinasi.

Apakah ada negara di dunia yang menganut Herd Immunity sejak awal Pandemi?
Herd imunity ini dianut oleh Swedia. Mereka tidak ada namanya karantina, lockdwon dan PPKM. Masyarakat semuanya dibebaskan beraktivitas, kasus Covid-19 di sana dapat terkendali dengan baik. Tetapi memang, disana fasilitas kesehatannya juga lebih baik dari kita. Sementara untuk kita sekarang yang sedang dituju herd immunity vaksinasi.

Bisa dijelaskan apa artian Herd Immunity Vaksinasi?
Sudah dikatakan Presiden dan Kemenkes bahwa kalau kita sudah mencapai 80 persen herd immunity vaksinasi akan tercipta kekebalan kelompok dan dapat menekan sebaran Covid- 19. Maka itu pemerintah terus mengejar herd immunity dengan menggalakkan satu juta vaksin perhari.

Lalu untuk target vaksinasi apakah alami kesulitan saat ini?
Ternyata juga tidak mudah mengejar target vaksinasi ini. Sekarang kita terkendala tiga unsur. Pertama terkendala distribusi vaksin, pelaksananya dan masyarakat penerima vaksin. Jadi tiga hal ini mempunyai peran penting untuk menyukseskan herd immunity.

Selain kendala tiga itu, vaksin juga memiliki masa expired (kedaluwarsa). Itu bagaimana?
Ya betul vaksin ada masanya, tetapi itu berbeda-beda setiap vaksin. Kasus Covid-19 inikan masih baru, masing-masing pihak terkait masih meraba-raba dalam penelitian. Jadi waktu awal kemarin kita tidak tahu berapa lama vaksin bertahan dalam tubuh. Karena proses penelitian masih berjalan, kita tidak tahu berapa lama vaksin ini bertahan.

Apakah vaksinasi Covid-19 hanya cukup dua kali?
Saat ini sudah ada mulai ide untuk nakes yang awal-awal divaksinasi akan dibooster atau vaksin ketiga untuk penguatan setelah vaksinasi.

Apakah vaksinasi ketiga atau booster ini juga akan diterapkan ke luas?
Sementara untuk masyarakat luas cukup dua dulu. Tetapi ke depan bakal berkembang. Sebab, Covid-19 ini belum tahu bertahan sampai berapa lama. Karena kasus Covid-19 ini, ilmu hari ini belum tentu sama dengan hari besok. Sebab penyakit ini baru dan gejalanya juga baru.
Jadi banyak sekali permasalahan mengenai vaksin ini, sementara pandangan masyarakat tentang kasus ini berbeda.
Jadi kalau saya sarankan ke rekan medis jangan begitu banyak melihat informasi atau berita Covid-19. Ini akan membuat kita patah hati. Karena diinformasi banyak sekali tuduhan-tuduhan maupun informasi tidak menguntungkan terhadap nakes.

Saat ini masih banyak yang belum percaya keberadaan Covid-19, bagaimana Anda melihatnya?
Saat ini semua rumah sakit itu IGD-nya full (penuh), tapi miris masih banyak yang belum percaya. Padahal faktanya demikian sudah banyak korban.
Ada tiga kelompok masyarakat Indonesia ini mengenai Covid-19 pertama tidak percaya sama sekali, kedua percaya tapi tidak patuh dan ketiga yang beradaptasi dan patuh.

Dari ketiga kelompok ini, masyarakat kita banyak cenderung ke nomor berapa?
Paling banyak itu nomor dua percaya tapi tidak patuh. Nah yang tidak percaya ini relatif sedikit, tapi vokalnya bukan main melebihi kedua dan ketiga.

Masyarakat yang percaya poin kedua, sama halnya mereka tau vaksin tapi tidak mau divaksin. Bagaimana upaya IDI agar membuat orang percaya dan patuh terhadap vaksin?
IDI hanya memiliki kekuatan moral, hanya bisa menyerukan tetapi tak bisa memaksakan. Maka melalui media inilah kita ingin informasi mengenai Covid-19 dan vaksin ini bisa kita sampaikan dengan baik ke masyarakat.

Apakah benar saat ini ada ketentuan dari WHO semakin banyak orang memiliki komorbid jadi prioritas utama vaksinasi?
Betul, dengan berkembangnya penelitian dari hari ke hari soal Covid-19, akhirnya orang banyak menderita komorbid diperbolehkan divaksin bahkan jadi prioritas. Maka itu kita minta ke masyarakat agar mau menerima pentingnya vaksin ini bukan hanya untuk personal tetapi untuk semua orang demi menuju Herd Immunity 80 persen vaksin, supaya bisa penyakitnya hilang. (oca)

Sumber: Sriwijaya Post
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved