Wawancara Eksklusif

Direktur Marketing PT JSC Bambang Supriyanto: Wisma Atlet Siap Hadapi Lonjakan Covid, Ada 2 Tower

Tapi sebagai antisipasi kita tetap sesuai arahan akan menyiapkan tower yang ada di belakang, tower 7 dan 8.

Penulis: Abdul Hafiz | Editor: Soegeng Haryadi
SRIPO/ABDUL HAFIZ
Direktur Marketing PT JSC, Bambang Supriyanto 

Soal biaya, berapa rupiah yang dikeluarkan untuk setiap pasien yang masuk ke Wisma Atlet dan apakah pengelola mendapat subsidi dari pemerintah?
Kalau untuk berapa nilai cost-nya kita ditugaskan dari Pemprov. Kami nanti berkoordinasi dengan rumah sakit, dalam hal ini Dinkes karena yang membawa ke sini harus ada rekomendasi dari rumah sakit atau Puskesmas terdekat yang akan dikoordinasikan dengan petugas yang ada jaga di sini. Tidak bisa pasien langsung ke kami. Kita penyedia kamar saja. Ya kita dibayar oleh Dinkes.

Kemudian apakah pengelola sudah membuka kawasan Jakabaring Sport City (JSC) untuk masyarkat seperti sediakala?
Kalau untuk kawasan secara umum yang kita buka hanya untuk kegiatan berolahraga saja seperti joging, kegiatan atlet-atlet yang memang berlatih, tim sepakbola, termasuk juga renang, atlet PPLP, siswa SONS.

Sedangkan kegiatan yang sifatnya wisata ataupun pengumpulan massa itu tetap kita hindari dulu. Seperti contoh setiap Sabtu dan Minggu pagi biasanya kita ada senam bersama di depan Stadion Gelora Jakabaring. Ini sampai sekarang kita tunda dulu kegiatan-kegiatan tersebut.

Apakah sudah ada agenda event yang akan digelar dalam waktu dekat?
Kita kemarin sempat melakukan sosialisasi dan maping untuk kegiatan Asian Triathlon Championship. Cuma sampai sekarang mungkin terkendala izin/rekomendasi dari Satgas Covid 19. Agendanya sih seharusnya tanggal 26 (Juni) ini. Tapi sepertinya Panpel masih mengurusi perizinan tersebut.

Kabarnya pengelola JSC mengalami kerugian, bisa diterangkan penyebabnya?
Kerugian kita lumayan tinggi karena kemarin dua hari sebelum lebaran kita sudah ada surat peringatan dari pihak kepolisian terkait Palembang zona merah sampai batas waktu yang tidak ditentukan.

Kerugian mulai dari tiket masuk JSC saja lebih kurang Rp 1 miliar. Apalagi lebaran orang banyak melakukan wisata. Kegiatan pencaksilat yang akan menggelar kejuaraan selama 4 hari di GOR Dempo itu otomatis batal. Selain itu Popda tertunda.

Belum lagi akan ada Perkemahan Mahasiswa Islam Negeri Nasional di sini. Mudah-mudahan ada rekomendasi. Kalau tidak makin banyak kerugian kita dari event yang sudah pasti batal.

Sementara pengeluaran kita banyak dan tidak bisa distop. Antara lain tagihan listrik, air leding, dan honor pegawai. Belum lagi petugas kebersihan, petugas jaga, chemical untuk merawat air di kolam, di danau. Lantai ini kita punya 978 kamar.

Kamar-kamar ini harus dirawat. Kalau dipel saja akan lengket dan menimbulkan lalat serta bau. Kalau dilakukan chemical segala kutu bisa hilang karena standar perawatan. Belum lagi perawatan kamar, sprei, sarung bantal, guling, bed cover. Per bulan kurang lebih untuk operasional kita sebulan Rp 2,5 miliar.

Kita harap masyarakat sama-sama mematuhi Proses, kegiatan keolahragaan dan kegiatan yang lain bisa hidup kembali. Itu harapan kami.

Lantas apa siasatnya?
Mensiasatinya dengan menarik salah satunya mengoptimalisasi event. Meskipun event berskala kecil akan kita optimalisasi. Contoh kita akan memanfaatkan beberapa venue seperti lapangan bola. Kita kawan-kawan di wilayah Palembang ramai memanfaatkan lapangan, ada sewa juga.

Yang kedua menghidupkan kegiatan yang sifatnya sport tourism. Dengan membangun arena berkuda, kita sekarang sedang membangun mini GP lahan yang di depan rumah-rumah ibadah itu. Kita kerjasama dengan pihak ketiga. Dengan harapan yang event-event tadi batal, kita dapat pemasukan-pemasukan dari beberapa kegiatan sport tourism yang kita bangun baru ini. (fiz)

Sumber: Sriwijaya Post
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved