Krisis Covid 19 di India
PENGGALI Kubur Jenazah Muslim India, 24 Jam Nonstop:'Semakin Banyak Peti Mati yang Datang'
Menggali tanah tanpa APD mungkin masih bisa dipahami, namun mengusung jenazah dan kemudian menguburkannya tanpa APD, sungguh di luar kebiasaan.
Mereka umumnya menolak mengkremasi jenazah, sebagaimana dilakukan banyak penganut ajaran Hindu.
Sesuai ajaran Islam, mereka juga menuntut agar jenazah dikuburkan sesegera mungkin.
Karena melonjaknya jumlah kasus dan jumlah kematian yang mengiringinya, permintaan akan kuburan juga meningkat.
Tak heran, banyak di antara para penggali kubur yang bekerja nonstop siang dan malam.
Tak jarang shift kerja mereka hampir sehari penuh.
Kamruddin, yang mengaku sebagai Muslim yang taat, terpaksa tidak berpuasa selama Ramadan.
“Ini Ramadan, saya tidak bisa berpuasa. Ini musim panas dan pekerjaan saya sangat berat, dan kami bekerja 24 jam setiap hari. Bagaimana saya bisa berpuasa dalam cuaca yang begitu panas? Saya merasa haus,” kata dia.
“Saya perlu menggali kuburan, Saya perlu menutupinya dengan lumpur, perlu mengusung mayat. Dengan semua pekerjaan ini, bagaimana saya bisa berpuasa?" jelasnya.
India sedang menghadapi gelombang kedua infeksi virus corona.
Setiap hari selama seminggu terakhir setidaknya 300.000 orang dinyatakan positif, dan jumlah kematian akibat Covid-19 meningkat melebihi 18 juta.
Sistem kesehatan dan krematorium-krematorium kewalahan.
Di New Delhi, ambulans membawa jenazah korban Covid-19 ke fasilitas-fasilitas krematorium darurat di taman-taman dan halaman-halaman parkir umum.
India juga sangat membutuhkan suplai oksigen.
Banyak pasien Covid-19 tak tertolong karena keluarga mereka gagal mendapatkan oksigen.
Shruti Saha, seorang warga New Delhi, mengalami situasi memprihatinkan ini. Ibunya wafat setelah Saha kelimpungan mencari orang yang menjual oksigen.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/palembang/foto/bank/originals/pengaglaikknga.jpg)