Jangan 'Kagok' Membaca dan Kelu Menulis Arab Melayu
Sejak 28 Oktober 1928 yang silam, bahasa Indonesia menjadi bahasa Nasional dan dikukuhkan sebagai bahasa negara dalam Undang-Undang Dasar (UUD) 1945
SRIPOKU.COM, BANGKA - “Bermoelanja kita mengloearkan kepada orang2 njang soeka batja ini Soerat Kabar, njang bergoena soeda terseboet di dalam Soerat Kabar Oostpost, jaini Soerat Kabar bahasa Melaijoe sanget didjadikan pertolongannja orang berdagang di negrie Djawa soblah timoer.
Mangka segala orang berdagang njang soeka taroh satoe kabar dari dagang atawa beladjar, berseangkat, datang dari pendjoewalan barang, harga oetawa dari lain2 kabar, ija boleh kirim di kantor tjitakan ini soerat di kota Soerabaija.”
(Pusat Dokumentasi Sastra Suripan Sadi Hutomo: 1995)
Bingung ya!?
Bisa dibaca!?
Atau mata terasa nanar saat melihat susunan hurufnya?
Yang jelas, kalimat di atas bukan karena typo, bukan pula karena ber-alay ria.
Baca juga: Peringatan HPN 2021, Bupati Musirawas Sampaikan Salam Hormat Untuk Insan Pers
Masih dalam atmosfer yang sama, 9 Februari 2021 diperingati sebagai Hari Pers Nasional (HPN) dengan tema “Bangkit dari Pandemi, Jakarta Gerbang Pemulihan Ekonomi dengan Pers sebagai Akselerator Perubahan”.
Terlepas dari tema, bila menelisik sejarah, kata “Melayu” pernah bersinergi dengan kata “Pers”.
Singkatnya, sehimpunan kalimat di atas adalah bukti sejarah berupa tulisan dari “Soerat Kabar Bahasa Melaijoe” yang dinobatkan sebagai surat kabar berbahasa Melayu pertama kali.
Surat kabar ini terbit di Surabaya pada tanggal 12 Januari 1856.
Hal yang perlu dicatat di sini adalah bahasa Melayu yang digunakan sudah dalam bentuk aksara latin.
Sebenarnya, menurut keterangan Ajib Rosidi, bahasa Melayu ditulis dengan huruf Arab.
Huruf Arab yang digunakan untuk menulis bahasa Melayu disebut juga huruf Jawi/ Arab-Melayu.
Tulisan Arab Melayu bermula saat bangsa Melayu menerima agama Islam kira-kira sejak tahun 1200-1300 M (Irfan Shofwani, 2005: 9).
Baca juga: Tangis Pecah Wahyu saat Kumandangkan Azan di Liang Kubur Ayahnya, Pandai Mengaji Ingin Jadi Ulama