Breaking News:

Nakes Positif Usai Divaksin

Kenapa Setelah Vaksin Dosis Pertama Masih Terpapar Covid-19? Ini Penjelasan Prof Yuwono

Vaksin pada dosis pertama memang belum sepenuhnya dapat melindungi penerima vaksin dari Covid-19.

SRIPOKU.COM/JATI PURWANTI
Ilustrasi suntik vaksin: Gubernur Sumsel Herman Deru saat disuntik vaksin Sinovac dosis kedua di Puskesmas Multi Wahana Sako, Palembang, Kamis (28/1/2021). 

Laporan wartawan Sripoku.com, Maya Citra Rosa

SRIPOKU.COM, PALEMBANG - Sejumlah tenaga kesehatan di RSUP Mohammad Hoesin Palembang terpapar Covid-19 seusai menjalani vaksinasi dosis pertama.

Hal tersebut dianggap bisa saja terjadi karena kadar antibodi yang masih rendah.

Menurut Ahli Mikrobiologi Sumsel sekaligus Direktur RS Pusri, Prof Dr dr Yuwono M Biomed, vaksin pada dosis pertama memang belum sepenuhnya dapat melindungi penerima vaksin dari Covid-19.

"Pada vaksin dosis pertama kadar antibodi masih rendah, sangat mungkin untuk terinfeksi," ujarnya kepada Sripoku.com, Selasa (9/2/2021).

Namun pada vaksin dosis kedua atau booster, kadar antibodi sudah tinggi dan dapat lebih melindungi dari virus corona.

Apabila orang atau nakes terpapar Covid-19 seusai divaksin dosis pertama, mereka dapat melanjutkan vaksin dosis kedua setelah perawatan atau isolasi mandiri selesai dan dinyatakan negatif.

"Bila positif Covid-19 setelah vaksin dosis pertama, tetap bisa lanjut ke vaksin kedua, tapi tunggu negatif pemeriksaan PCR nya," ujarnya.

Ahli Epidemiologi Sumsel, Dr Iche Andriyani Liberty juga mengatakan bahwa vaksin tidak menjamin seseorang dapat meninggalkan protokol kesehatan.

Oleh karena itu, selagi vaksinasi masih dilakukan, seluruh lapisan masyarakat diminta untuk tetap menerapkan memakai masker, mencuci tangan dan menjaga jarak (3M).

"Dari data kurva epidemi yang belum stabil harus sinergitas dengan memperkuat 3M dan 3T seiring peningkatan vaksinasi terus berjalan," ujarnya.

Iche menyampaikan, meski data harian COVID-19 menyentuh angka kesembuhan hingga 82,32 persen secara menyeluruh dan mencapai persentase tinggi jauh di atas nasional yang hanya sekitar 60 persen.

Namun pandemi tidak akan berhenti jika tidak ada rantai antisipasi dengan kunci utama siap vaksin.

"Dibantu tren mobilitas yang menurun, vaksinasi COVID-19 bisa berjalan baik. Berdasarkan pendataan kurva epidemi, penyebaran terjadi karena mobilitas tinggi," ujar dia.

Penulis: maya citra rosa
Editor: Sudarwan
Sumber: Sriwijaya Post
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved