Musim Hujan, Petani Duku di OKI Justru Alami Penurunan Drastis, Ini Sebabnya
Sayangnya, pada musim panen kali ini para petani harus menerima hasil panen seadanya.
SRIPOKU.COM, KAYUAGUNG -- Musim panen duku di tahun 2021 sedang terjadi di wilayah Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI).
Yang mana kabupaten tersebut memang menjadi salah satu daerah penghasil duku terbaik di Sumatera Selatan.
Sayangnya, pada musim panen kali ini para petani harus menerima hasil panen seadanya.
Aliyanto, salah seorang penggarap kebun duku yang ada di Desa Kijang Ulu Kecamatan Kota Kayuagung mengungkapkan hasil panen kali ini sangat jauh menurun dibandingkan tahun sebelumnya.
• Saat Ibu Muda Kepincut Ikan Cupang, Rela Rogoh Kocek Puluhan Juta hingga Beralih Profesi
• Video Inilah Sosok Gunawan LIDA Yang Berhasil Meluluhkan Rara LIDA
"Pada tahun sebelumnya dalam satu pohon bisa menghasilkan hingga 30 kotak, atau banyaknya buah dalam sebidang kebun ini bisa menghasilkan 300 kotak. Namun pada tahun ini hanya mampu menghasilkan 30 kotak saja yang bisa dipanen," ungkapnya memendam rasa kecewa, Minggu (7/2/2021) siang.
Ketika langsung didatangi di lokasi kebun duku tersebut, memang terlihat sangat sedikit buah yang ada di atas pohon.
"Penyebabnya karena cuaca, karena tahun ini musim hujan yang baik itu jika cuaca kemarau panjang maka hasil panen semakin banyak," bebernya.
Penurunan produktivitas buah duku memang sangat dipengaruhi oleh curah hujan yang tinggi, kemudian memicu perontokan bunga dan buah duku yang masih kecil, sehingga produksi buah berkurang.
• Video Inilah Sosok Gunawan LIDA Yang Berhasil Meluluhkan Rara LIDA
• Biodata Gaga Muhammad Mantan Awkarin, Dicap Benalu yang Bikin Laura Bangkrut Bahkan Kini Lumpuh
"Iya sangat jauhlah perbandingannya. Apalagi masa panen di daerah sini benar-benar hanya satu kali dalam setahun," pungkasnya.
Dikonfirmasi terpisah, Ebit salah satu pemborong buah duku ikut merasakan dampak minimnya duku yang dihasilkan.
"Iya pokoknya dikit sekali buahnya, bayangkan saja tahun lalu dalam 50 pohon saja bisa menghasilkan hingga 800 kotak dengan berat masing-masing 15 kilometer,"
"Tetapi tahun ini duku yang dihasilkan tidak sampai 100 kotak. Kejadian serupa juga dirasakan petani di Kecamatan Sirah Pulau Padang dan Tanjung Lubuk," ungkap Ebit.
• Mengenang Tragedi Munich 1958, Kecelakaan Pesawat Tewaskan 8 Pemain, Hari Kelabu Bagi Man United
• Minta yang Fitnah Bertaubat, Rizieq Shihab Tanggapi Teroris yang Ngaku Anggota FPI
Dijelaskannya, proses mulai dari panen, mengepack ke dalam kotak, dan menaikkannya ke mobil hingga ongkos jual ke luar daerah Pulau Jawa tidak sebanding dengan keuntungan.
"Kalau harga jual di daerah Jawa per kotaknya Rp. 200.000 dengan keuntungan masing-masing hanya sekitar Rp. 10.000. Jadi tentunya keuntungan yang didapat tengkulak tidak sebanding dengan besarnya modal yang dikeluarkan," pungkasnya. (Nando/TS)