Breaking News:

Wawancara Tokoh

Pakar Bicara Penyakit Kusta tak Perlu Ditakuti Lagi (2-Habis): Tak Ada Penyakit Kutukan

Stigma negatif, diskriminatif terhadap si penderita kusta ini sangat disayangkan.

ISTIMEWA
H Soleh Sakni 

PENYAKIT kusta ternyata sudah ada sejak zaman jahiliyah. Bahkan Rasulullah SAW pernah makan satu nampan dengan orang penderita kusta. Namun Rasulullah tidak pernah mendiskriminasi si penderita. Maka dari itu, penyakit ini dipastikan bukan sebuah kutukan. Bagaimana posisi penyakit kusta di dalam Islam, simak wawancara Sripo bersama Dosen UIN Raden Fatah Palembang, H Soleh Sakni.

Berbicara soal penyakit kusta, apakah benar penyakit ini merupakan sebuah kutukan?
Di dalam agama islam tidak ada namanya penyakit itu kutukan. Karenanya stigma negatif, diskriminatif terhadap si penderita kusta ini sangat disayangkan.

Apakah benar penyakit ini bukan sesuatu hal yang baru, bahkan sudah ada sejak zaman Nabi Muhammad SAW?
Benar, penyakit kusta ini sudah ada bahkan sejak zaman jahiliyah dulu. Karena itu di dalam literatur agama, hadits maupun ayat Alquran penyakit ini sering disebutkan.

Secara agama, apakah sama disebutkan penyakit kusta memiliki dua macam jenis?
Ya, dalam terminologi agama islam kusta ini disebut yuzam atau kusta basah dan al abros kusta kering. Maka itu, Rasulullah SAW mengajarkan doa kepada kita untuk berlindung kepada allah dari penyakit kusta san semacamnya.

Apakah ada dalil atau doa untuk menghindari penyakit kusta?
Ada hadist memang yang mengajarkan kita untuk menjauhi penyakit ini. Kata rasul fir minjusumi fir rika minal asa (hindari lah orang terkena penyakit kusta seperti engkau menghindari macan). Namun redaksionalnya tidak sampai disitu. Rasulullah SAW bahkan pernah makan satu nampan dengan orang terkena kusta.

Pada saat Rasullah makan bersama penderita kusta apakah Rasul mengindarinya?
Tidak, justru Rasulullah mengajak duduk dan makan bersama. Namun, pada saat akan makan Rasul menyuruh si penderita untuk berdoa.
Dengan mengucap nama allah aku yakin dan bertawakal kepada Allah SWT.

Artinya di dalam Islam, diajarkan kita tidak menghindari si penderita?
Dari sisi agama kita sudah memahami bahwa penyakit ini sudah ada sejak zaman dahulu. Jadi, sekarang bagaimana kita bersikap. Kita harus memahami dalil maupun pengetahuan penyakit ini secara mendalam dan komprehensif, sehingga tidak keliru dalam menilai orang terkena penyakit kusta.

Selama ini, bagaimana cara masyarakat memandang penderita penyakit kusta?
Masyarakat sering kali tidak seimbang dalam membaca. Kita juga harus seimbang dalam mencari suatu kebenaran. Dahulukan kajian akademis, kedokteran.

Zaman dahulu pengobatan belum secanggih seperti saat ini, apakah hal ini menjadai dasar masyarakat menjudge si penderita terkena kutukan?
Jadi zaman dahulu belum ditemukan cara pengobatan, sehingga sikap yang diambil masyarakat yakni menghindari penyakit ini layaknya kutukan. Paradigma keliru inilah yang harus kita luruskan di masyarakat.

Lantas bagaimana kita menyikapi penyakit ini secara agama Islam?
Paling utama, kita harus meyakini bahwa tidak ada namanya penyakit kutukan. Percayalah bahwa penyakit adalah cobaan dan ujian yang dikirimkan Allah SWT kepada umatnya.

Bagi si penderita apakah yang harus mereka lakukan?
Pertama tentunya harus berobat secara rutin. Kedua, percayalah di dunia ini Allah SWT menjadikan tempat untuk kita melewati ujian. Ujian setiap manusia itu berbeda-beda. Ada yang di uji dengan penyakit dan ada yang diuji dengan kesehatan. Sekarang bagaimana kita harus menyikapi dengan selalu tawakal kepada Allah SWT.

Untuk masyarakat, apa yang harus mereka lakukan ketika di lingkungannya ada orang terkena kusta?
Stigma buruk terhadap penyakit ini harus kita hilangkan mulai sekarang. Kita harus yakini penyakit ini bisa sembuh dan bukan sebuah kutukan.
Kalau stigma negatif terus digaungkan, maka akan menghadirkan ketakutan secara terus menerus dan diskriminasi terhadap si penderita kusta tidak akan berhenti. (oca)

Penulis: Odi Aria Saputra
Editor: Soegeng Haryadi
Sumber: Sriwijaya Post
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved