Tradisi dan Nilai-Nilai Transitif Islam

“Kalian adalah umat yang terbaik, yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang makruf dan mencegah dari yang munkar dan beriman kepada Allah

Editor: Salman Rasyidin
ist
Otoman, S.S., M.Hum 

Oleh: Otoman, S.S., M.Hum.

Dosen Sejarah Peradaban Islam UIN Raden Fatah Palembang Sumatera Selatan

“Kalian adalah umat yang terbaik, yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang makruf dan mencegah dari yang munkar dan beriman kepada Allah” (QS. Ali Imran:110).

Tradisi menjadi bahasan yang cukup menggugat dewasa ini.

Sebab modernitas de­ngan dampak-dampak negatifnya sampai batas tertentu telah mengikis sedikit demi sedikit cara hidup tradisional.

Padahal dalam realitasnya, kehidupan umat manusia sangat beragam.

Masa lalu itu yang sampai batas-batas tertentu mem­ben­tuk kehidupan yang berkembang saat ini.

Maka masa lalu, saat ini, dan masa depan merupakan kehidupan yang memiliki keterkaitan satu dengan yang lain.

Namun kehadirannya tidak selalu dipahami secara sama, bahkan tidak pula di­si­kapi secara adil.

Kajian terhadap tradisi terkesan masih bersifat dikotomi hitam-pu­tih.

Dalam konteks itu, permasalahan yang kemudian menggema baik di Ba­rat maupun di Timur adalah bagaimana menjadi “modern” dengan satu cara yang dapat disebut sebagai bagi saya sendiri (Robert Lee, Mencari Islam Au­ten­tik, hal.14).

Dalam konteks umat Islam saat ini, persoalan yang perlu mendapat penekanan adalah pencarian upaya untuk meletakkan tradisi dalam suatu kerangka pe­ma­haman yang lebih adil tanpa apriori atau prakonsepsi.

Melalui pendekatan se­ma­cam itu, apapun sikap dan pandangan selama ini terhadap tradisi, akan mampu menyikapinya secara arif dan kritis, dan diharapkan umat Islam dapat mem­per­la­kukan tradisi lebih signifikan bagi kehidupan saat ini dan masa depan.

Tradisi a­dalah sesuatu yang hadir dan menyertai kekinian atau suatu masyarakat ter­ten­tu yang berasal dari masa lalu, baik masa lalu suatu masyarakat atau masyarakat lain, dan baik masa lalu merupakan masa yang sangat jauh maupun yang masih dekat (Muhammad Abid al-Jabiri, Post tradisionalisme Islam, hal.24).

Definisi al-Jabiri cukup menarik untuk dikaji sebab netralitas yang dikan­dung­nya, dimana pada satu sisi batasan itu mencakup aspek-aspek yang cukup ho­listik yang selalu hadir dalam kehidupan umat manusia dari satu generasi ke generasi yang lain.

Sumber: Sriwijaya Post
Halaman 1/4
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved