Breaking News:

Masih Banyak yang Ragu Divaksin, Ini Saran dari Ahli Epidemiologi Sumsel: Ajak Influencer

Masyarakat banyak yang salah memaknai efikasi atau kemanjuran 65,3 persen Vaksin Sinovac, dibandingkan dengan vaksin di Turki dan Brazil

SRIPOKU.COM/JATI PURWANTI
Pakar Epidemiologi Sumsel, Iche Andriany Liberty 

MASIH banyaknya informasi yang tidak benar atau hoaks menyebar di media sosial terkait vaksinasi, membuat masyarakat takut dan menolak untuk divaksin.

Ahli Epidemiologi Sumsel, Dr Iche Andriyani Liberty SKM MKes melihat fenomena ini banyak terjadi meskipun pemerintah sudah menginformasikan tentang vaksin Sinovac secara transparan.

Selain itu, vaksin yang pada awal Maret 2020 lalu sangat dinantikan oleh masyarakat namun sepertinya tidak terlalu disambut gembira oleh masyarakat.

Baca juga: Deru Pilih Divaksin di Gandus, Saya Ingin Masyarakat Yakin

"Vaksin ini sepertinya tidak terlalu disambut dengan gembira, karena masyarakat merasa takut divaksin, banyak informasi yang tidak benar padahal seharusnya edukasi ilmiah yang disebarluaskan," ujarnya, Rabu (13/1).

Tidak hanya itu, masyarakat banyak yang salah memaknai efikasi atau kemanjuran 65,3 persen Vaksin Sinovac, dibandingkan dengan vaksin di Turki dan Brazil yang memiliki efikasi lebih tinggi.

Padahal menurut Iche, terdapat perbedaan jumlah populasi atau subyek penelitian pada uji klinik fase 3 di Bandung, Turki dan Brazil, sehingga membuat adanya perbedaan presentase efikasi.

Ambang batas yang ditentukan WHO juga menjadi pedoman, bahwa 65,3 persen itu tetap aman, dan tidak bisa dikatakan rendah.

Baca juga: Jika tidak Ada Penyakit Saya Siap Divaksinasi, Wabup OKI tak Masuk Orang yang Terima Sinovac

"Efikasi itu di atas 50 persen, artinya sudah bagus dan sesuai dengan standar WHO, dengan jumlah segitu bayangkan berapa banyak orang yang bisa kita cegah tertular Covid-19 ini," ujarnya.

Sikap pemerintah yang siap untuk menjadi penerima vaksin pertama memang sangat bisa diapresiasi, karena dapat menjadi teladan bagi masyarakat sehingga tidak takut untuk divaksin.

Iche menyarankan agar pemerintah Sumsel mengajak lebih banyak influencer atau tokoh publik yang dapat memberikan contoh bahwa vaksin itu aman dan halal.

"Sebaiknya lebih banyak lagi influencer yang diajak untuk mendapatkan vaksin, sehingga tidak ada lagi ketakutan dan belum menerima vaksin dari masyarakat," ujarnya.

Baca juga: Video Persiapan Herman Deru Jelang Divaksinasi Covid-19 di Puskesmas Gandus: Tak Pilih-pilih Petugas

Menurutnya peran media massa, tokoh masyarakat dan tokoh agama sangat diperlukan untuk memberikan penjelasan kepada masyarakat bahwa vaksin ini, sehingga tidak ada lagi hoax yang menyebar dan menyesatkan masyarakat.

Iche juga meminta bagi kepala daerah yang akan melakukan vaksinasi, sebaiknya terus mengupdate dan monitoring kondisi terkini saat vaksin disuntik, selama 30 menit setelah vaksin dan saat sudah selesai vaksinasi.

Hal ini agar masyarakat dapat melihat apakah ada efek samping yang ditimbulkan setelah disuntik vaksin Sinovac.

"Seharusnya ada juru bicara dari Dinkes yang update memberitahukan kondisi Gubernur atau kepala daerah lainnya jadwal vaksin, monitoring bersama, bila perlu memberitahukan beberapa hari setelahnya, ada atau tidaknya merasakan efek samping vaksin," ujarnya. (cr39)

Editor: Soegeng Haryadi
Sumber: Sriwijaya Post
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved