Breaking News:

Johan Anuar Sidang di Palembang

Johan Anuar Pilih Bungkam Tanggapi Keterangan Saksi, Kasus Mark Up Lahan Makam di OKU

Lima orang saksi dihadirkan oleh Jaksa Penuntut Umum (JPU) KPK di hadapan majelis hakim Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) Palembang

Editor: Refly Permana
sripoku.com/chairul nisyah
Lima orang saksi dihadirkan oleh Jaksa Penuntut Umum (JPU) KPK di hadapan majelis hakim Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) Palembang 

Laporan Wartawan Sripoku.com, Chairul Nisyah

SRIPOKU.COM, PALEMBANG - Lima orang saksi dihadirkan oleh Jaksa Penuntut Umum (JPU) KPK di hadapan majelis hakim Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) Palembang, yang diketuai Erma Suharti SH MH, Selasa (5/1/2021). 

Lima orang saksi tersebut yakni, Mujio, Supriono, Sastrawan, Hendri Heranopa dan Umirtom. 

Kelima saksi tersebut berasal dari Tim Anggaran Pemerintah Daerah (TAPD) pemerintah kabupaten OKU.

Baca juga: Video Harnojoyo Sebut Warga yang Menolak Divaksinasi Covid-19 Sinovac di Palembang Tidak Disanksi

Kelima saksi dihadirkan untuk memberikan keterangan pada majelis hakim dan Jaksa Penuntut Umum KPK, dalam kasus dugaan korupsi pengadaan lahan makam yang menjerat Wakil Bupati Ogan Komering Ulu (OKU) Johan Anuar.

Jaksa Penuntut Umum (JPU) KPK M Asri Irawan SH MH, menjelaskan dari kelima saksi yang dihadirkan ini pihaknya ingin memperjelas terkait pembahasan anggaran antara badan eksekutif dan legislatif.

"Yang kami gali di sini saat rapat pembahasan anggaran antara badan eksekutif dan legislatif ada penambahan anggaran dari Rp 2,5 milyar menjadi Rp 6,5. Milyar," ujar M. Asri Irawan saat scorsing sidang.

Menurutnya, penambahan anggaran tersebut secara tiba-tiba dilakukan diduga adanya keinginan dari Sekretaris Daerah kala itu. 

Baca juga: Video 3.145 Nakes Muara Enim Terdata Di Vaksinasi, Siapkan Cool Room Penyimpanan Vaksin Covid-19

Yang mana saat itu Sekda sebagai Ketua TPAD memerintahkan agar anggaran tersebut dapat terlaksana.

"Namun faktanya dalam dokumen, dr Rp 2,5 milyar kemudian berganti menjadi Rp 6,5 milyar. Yang jadi pertanyaan adalah kenapa ada perubahan nominal dari Rp 2,5 menjadi Rp 6,5.

Halaman
12
Sumber: Sriwijaya Post
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved