Breaking News:

Tak Perlu Ditakuti Varian Baru Covid-19: Prof Yuwono: Virulensi Rendah

Yuwono menambahkan, varian baru virus ini ditemukan dari ditemukan dari sampel yang dikumpulkan sejak April di Inggris.

Editor: Soegeng Haryadi
Dok Pribadi
Ahli Mikrobiologi Sumsel, Prof Yuwono. 

PALEMBANG, SRIPO -- Varian baru Covid-19 baru telah ditemukan di Inggris. Dikenal dengan nama VUI 202012/01, varian ini terdiri dari sekumpulan mutasi antara lain 9 mutasi pada protein S.

Ahli mikrobiologi Universitas Sriwijaya, Yuwono, menyebutkan, varian baru virus korona tidak bertambah daya bahayanya atau menurut istilah kedokterannya virulensinya rendah.

"Mungkin bertambah daya tularnya. Ada yang bilang 70 persen tapi berdasarkan yang tertular tidak menjadi semakin parah," ujarnya, Minggu (27/12/2020).

Yuwono menambahkan, varian baru virus ini ditemukan dari ditemukan dari sampel yang dikumpulkan sejak April di Inggris.

"Inggris terkenal untuk melakukan sequencing atau membaca setiap untai RNA dari Covid-19. Dari sana ditemukan banyak varian dan dari sekian banyak itu ada satu yang ditemukan secara nyata di pasien Covid-19," tambahnya.

Dia mengatakan, dia berbeda pendapat dengan berita yang ada saat ini. Menurut dia varian baru virus korona inu bukan berarti dari Inggris menyebar ke Eropa sampai ke Singapura.

"Varian baru ini bisa saja menyebar setiap negara termasuk di Indonesia. Sangat mungkin ada varian di mana pun," kata dia.

Yuwono meyakini, varian baru ini tidak menambah daftar gejala infeksi. Sejak awal gejala Covid-19 bervariasi hanya saja beberapa waktu ini ada pelaporan gejala.

"Dulu orang tidak melaporkan gejala. Misalnya gejala baru anosmia. Gejala cuma pusing dan sebagainya. Sekarang ada yang lapor," ujarnya lagi.

Dengan adanya varian baru virus Covid-19 ini Yuwono meminta masyarakat untuk tidak khawatir. Hal ini karena berdasarkan data di dunia hanya satu persen penduduk saja yang terinfeksi Covid-19. Dengan kata lalin, hanya 80 juta orang terinfeksi, lalu sekitar 60 juta orang dinyatakan sembuh kasus meninggal hanya 1 juta.

Kemudian, jumlah orang yang masih dirawat akibat dinyatakan positif Covid-19 dan bergejala sebanyak 20 juta. Dari jumlah tersebut sekitar 0,5 persen atau hanya 100 ribu orang yang dirawat secara intensif karena tertular.

Yuwono mencontohkan, misalnya di Palembang yang positif 1200 orang, setengah persennya 60 orang meninggal. Inilah yang kemungkinan meninggal setiap hari

"Tidak perlu heboh. Mohon maaf sudah satu tahun kita hidup dengan ketakutan tak beralasan karena objektif saja sampai hari ini data konsisten," jelas dia.

Tak hanya itu, selama tidak memiliki penyakit penyerta (komorbid) masyarakat pun memiliki risiko kematian rendah meski dinyatakan positif Covid-19.

"Kalau punya penyakit penyerta tapi penyakitnya terkendali, tetap aman.Tidak apa-apa. Tak perlu cemas. Biasa saja." kata Yuwono. (mg3)

Sumber: Sriwijaya Post
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved