Ini yang Akan Terjadi Kalau Ratu Inggris Elizabeth II Meninggal Dunia, Ada 'Kode Rahasia'
Melihat usianya yang kini sudah lanjut, yaitu 92 tahun, tidak sedikit publik yang bertanya-tanya, apa yang akan terjadi jika sang ratu meninggal dunia
Nama komite ini diketahui sebagai Golden Orb, menurut data yang didapat dari Daily Mail.
Golden Orb sendiri diisi kalangan yang berasal dari kelas aristokrat dan tidak ada kaitannya sama sekali dengan pemerintah.
Dipimpin oleh Duke of Norfolk, komite ini disebut-sebut memegang kendali atas setiap kegiatan seremonial yang berhubungan dengan Monarki dari Kerajaan Inggris.
Meskipun urusan perencanaan dari komite ini memiliki hubungan dengan keluarga kerajaan, komite ini diduga bekerja secara independen dari Istana Buckingham dan Clarence House.
Dilaporkan pula kalau komite ini bertanggung jawab atas pemakaman Ratu dan Pangeran Philip.
Kepada Daily Mail, ahli sejarah kerajaan Dr. Anna Whitelock mengatakan kalau nama London Bridge dan Forth Bridge (Kode yang dipakai saat Ratu dan Pangeran Philip meninggal) terinspirasi dari permata yang ada di mahkota yang dikenakan setiap penobatan.
Dr. Anna mengatakan :
"Lingkaran yang ada di mahkota itu adalah bola berongga yang terbuat dari emas dan adanya simbol otoritas Kristiani di mahkota menandakan kekuasaan Kristus atas dunia yang diwakili dalam kekuasaan Monarki berikutnya."
"Nama dari komite tersebut mengingatkan kita bahwa dalam setiap inti dari sebuah upacara, sang Raja akan bersumpah untuk mendedikasikan hidupnya, bukan kepada negaranya, atau siapapun yang diperintahnya, namun kepada Tuhan."
Detil terperinci dari pemahkotaan Pangeran Charles memang masih belum diketahui, namun beberapa laporan yang beredar menyebutkan jika penobatan itu nantinya tidak semewah di masa Ratu Elizabeth II dulu.
Selain itu, akan ada perubahan yang terjadi di beberapa aspek.
Salah satunya adalah berubahnya beberapa lirik dari lagu kebangsaan, perubahan wujud perangko serta gambar di mata uang yang semuanya akan menggunakan wajah Pangeran Charles, jika ia menjadi raja.
Tidak hanya itu, para anggota parlemen pun akan memberikan janji kesetiannya kepada raja dan sistem pemerintahan yang baru, meskipun masih ada tradisi dimana anggota parlemen kerap kali berseberangan meskipun sudah mengucapkan sumpah setianya.
Jika sang ayah naik tahta, maka Pangeran William akan menjadi Prince of Wales.
Hal ini akan membuat sang istri, Kate Middleton, mendapat gelar Princess of Wales, gelar yang dulu dimiliki oleh ibu suaminya, yaitu Putri Diana.
===
Raja Dengan Nama yang Berbeda
Saat Pangeran Charles menjadi raja, sosoknya tidak akan langsung dikenal sebagai Raja Charles atau King Charles.
Pangeran Charles bahkan bisa menggunakan nama lain karena itu merupakan hak prerogatif dari mereka yang berkuasa di Britania Raya.
Jika ingin tetap menggunakan nama Charles saat nanti sudah menjadi raja, maka ia akan dikenal sebagai Raja Charles III.
Akan tetapi, karena nama lengkapnya adalah Charles Philip Arthur George maka ada beberapa nama lain yang bisa dipilih, kalau Pangeran Charles mau.
Beberapa ahli sejarah ada yang meyakini jika Pangeran Charles mungkin tak akan menggunakan nama Charles karena nama tersebut memiliki kaitan erat dengan monarki terdahulu yang memiliki sejarah kurang baik.
Seperti diketahui, Raja Charles I adalah satu-satunya bagian dari monarki Kerajaan Inggris yang dihukum dan dieksekusi karena penghianatan.
Sementar putranya, Raja Charles II, adalah sosok yang dikenal sering memiliki masalah asmara.
Karena alasan inilah, spekulasi pun mulai muncul dan meyakini jika pangeran Charles bisa saja menggunakan nama George saat menjadi raja nanti.
Selain membuat nama tengahnya menjadi naik, hal ini juga memiliki kaitan erat dengan kakeknya, Raja George II, yang merupakan ayah dari Ratu Elizabeth II, ibu Pangeran Charles.
Selain George, Pangeran Charles juga berpotensi menjadikan dirinya sebagai Raja Philip I atau Raja Arthur 1 karena dua nama tersebut ada dalam bagian nama lengkapnya.
Salah satu juru bicara dari Clarence House pernah menyarankan agar pangeran Charles memilih namanya sebagai raja saat mendekati hari dirinya naik tahta.
Kemungkinan besar Pangeran Charles tetap akan menggunakan nama Charles.
Namun jika nama ini digunakan sebagai upaya untuk menjaga kestabilan di mata masyarakat Britania raya, maka saat nanti menjadi raja, masyarakat akan mengucapkan selamat tinggal kepada pemerintahan monarki yang sudah berkuasa setidaknya selama 7 dekade.
Kestabilan diyakini mejadi alasan mengapa Raja George VI memilih menggunakan nama George daripada Albert sebagai nama raja.
Saat saudaranya, Edward VIII turun tahta pada 1936, Raja George VI terpaksa mengikuti jejak ayahnya, Raja George V, untuk menggunakan nama George sebagai upaya menjaga kesinambungan dan keberlanjutan pemerintahan serta menawarkan rasa aman kepada masyarakat.
===
Pemakaman
Sebelum dimakamkan, jasad dari sang ratu nantinya akan dibaringkan dan bisa dilihat oleh semua masyarakat.
Tubuh Ratu Elizabeth II, jika sudah meninggal, nantinya akan dibaringkan di Westminster Hall dan terbuka untuk umum selama setidaknya 23 jam sebelum pemakamannya.
Saat peti jasadnya tiba akan ada sebuah upacara kecil sebelum masyarakat bisa memberikan penghormatan terakhir untuknya.
Beberapa pihak menduga kalau jumlah warga yang akan datang saat itu jumlahnya akan sangat banyak.
Dulu, sebanyak lebih dari 200.000 masyarakat memberikan penghormatan di hari meningglanya ibu dari ratu Elizabeth II pada 2002 silam.
Setelah Putri Diana meninggal pada 1997, ribuan masyarakat tumpah ruah dan berkumpul di depan istana untuk meletakkan bunga sebagai tanda berduka.
Nantinya pemakaman akan dilangsungkan 12 hari setelah sang ratu meninggal dunia dan pemakamannya akan ditayangkan di televisi dan disiarkan pula secara online.
Pemakaman kenegaraan akan dimulai dengan terlebih dahulu membawa peti jasadnya ke Westminster Abbey dengan menggunakan kereta meriam, dimana nantinya akan dipimpin oleh Uskup Agung dari Canterbury, Justin Welby.
Para pemimpin dan kepala negara dari seluruh dunia akan hadir dan diprediksi masyarakat akan berdiri di sepanjang jalan saat peti jasad sang ratu dibawa menuju Westminster Abbey.
Dalam pemakaman tersebut, jasad sang ratu bisa saja dikuburkan di beberapa tempat.
Beberapa pihak sempat berspekulasi kalau jasad sang ratu bisa saja dikuburkan di Balmoral atau Sandringham.
Yang lain meyakini jika sang ratu bisa saja dimakamkan di dekat ayahnya, Raja George VI yang makamnya berada di Kapel St. George di Windsor.
===
Dampak yang Lebih Besar
Efek berantai dari meninggalnya sang ratu dianggap memiliki dampak yang jauh lebih besar daripada naiknya raja baru atau masa berkabung dari sang ratu.
Dengan meninggalnya sang pemimpin yang sudah berkuasa sangat lama, beberapa dari 53 negara mungkin akan memilih untuk memutuskan ikatan kerjasama dan akan mendirikan republik sendiri.
Jika Ratu Elizabeth II meninggal, maka kepergiannya akan membuat lahirnya faham republikanisme di Britania Raya.
Meski nantinya masih ada dukungan kuat dari keluarga kerajaan, banyak pihak menilai jika hal ini merupakan hal yang sudah ketinggalan zaman.
Beberapa pihak bisa saja memiliki keinginan agar pemerintahan monarki yang selama ini berkuasa dihentikan, tapi semua itu tergantung dari bagaimana Pangeran Charles nanti berkuasa (jika ia menjadi raja).
Ada pula spekulasi yang mengatakan jika Pangeran Charles memiliki kemungkinan untuk turun tahta dan menyerahkannya pada Pangeran William, putra pertamanya.
===