Ini yang Akan Terjadi Kalau Ratu Inggris Elizabeth II Meninggal Dunia, Ada 'Kode Rahasia'
Melihat usianya yang kini sudah lanjut, yaitu 92 tahun, tidak sedikit publik yang bertanya-tanya, apa yang akan terjadi jika sang ratu meninggal dunia
SRIPOKU.COM -- Tanggal 2 Juni 1953 silam, Ratu Elizabeth II dinobatkan dan dimahkotai sebagai Ratu Inggris.
Seperti yang diketahui, Ratu Elizabeth II yang kini sudah berusia 95 tahun sudah menduduki tahtanya selama lebih dari 65 tahun.
Kini, di usianya yang sudah memasuki angka 90, banyak publik bertanya-tanya, apa yang akan terjadi
Melihat usianya yang kini sudah lanjut, yaitu 92 tahun, tidak sedikit publik yang bertanya-tanya, apa yang akan terjadi jika sang ratu meninggal dunia ?
Lantas, jika hal itu terjadi, apa yang akan dilakukan pihak kerajaan saat sang ratu meninggal dunia ?
Berikut beberapa hal yang akan terjadi jika Ratu Elizabeth II meninggal dunia, seperti dilansir dari Metro :
===
Operation London Bridge (Operasi Jembatan London)
Pertama-tama, jika meninggalnya sang ratu sudah dikonfirmasi dan dipastikan kebenarannya, sebuah kalimat khusus atau kode khusus akan digunakan untuk memberitahukan hal ini kepada Perdana Menteri Inggris yang menjabat saat itu.
Menurut informasi dari The Guardian, siapapun yang Perdana Menterinya saat itu, dia akan langsung dibangunkan saat itu juga kalau ia sedang tidur.
Ia akan diberikan kode yang berbunyi :
"London Bridge is Down" yang artinya "Jembatan London sudah runtuh."
Perdana Menteri pun akan menyadari kalau Ratu Elizabeth II sudah meninggal dunia dan beberapa hal lain akan terjadi dalam sebuah rangkaian peristiwa yang diberi nama "Operasi Jembatan London" tersebut.
Memberitahu pemerintah negara lain akan menjadi hal penting dan merupakan bagian dari tugas pertama yang akan dilakukan dan ditangani oleh Kantor Urusan Luar Negeri dari Inggris.
Mereka akan segera memberitahu 15 pemerintah yang berada diluar wilayah Britania Raya atau United Kingdom.
Pesan itu kemudian akan diteruskan kepada 36 negara lainnya yang berada dalam lingkaran persemakmuran dari Kerajaan Inggris atau yang dikenal dengan istilah Commonwealth.
===
Beritanya Menyebar
Setelah itu, bagian khusus media dari Kerajaan Inggris akan mengabarkan semua kantor berita dan media lain untuk menyatakan masa berkabung.
Meski begitu, dengan canggihnya perkembangan media sosial, kabar meninggalnya sang ratu bisa saja diketahui masyarakat lebih dulu, terutama melalui Facebook atau Twitter.
Sebuah info atau sekilas info pun akan dimuat oleh Asosiasi Pers untuk menginformasikan media lain di seluruh dunia secara serentak.
Sementara itu, lampu berwarna biru akan mulai dinyalakan di sebagian besar stasiun radio komersial yang ada di Inggris.
Hal ini akan memberitahu siapa saja yang saat itu sedang siaran untuk mengganti siaran atau musik yang sedang diputar dengan musik khusus sbeagai tanda berkabung.
Mereka yang sedang siaran di TV pun akan mengganti pakaiannya dengan pakaian bernuansa serba hitam dan hal ini akan berlangsung selama beberapa minggu ke depan.
===
Momen Berkabung
Tak lama, Britania Raya pun akan memasuki masa berkabung setidaknya selama 12 hari menyusul peristiwa meninggalnya Ratu Elizabeth II.
Dampak dari meninggalnya sang ratu akan terasa begitu besar, sampai-sampai mampu mempengaruhi seluruh hal yang ada di Britania Raya, mulai dari segi pemerintahan sampai jadwal tayangan di televisi.
Meninggalnya sang ratu yang sudah berkuasa sangat lama ini juga akan berdampak sangat besar dan berpotensi menyebabkan masalah dalam hal ekonomi dan juga akan mempengaruhi pasar saham dan bank yang ada di Britania Raya.
===
Bagaimana Berita Kepergian Sang Ratu akan Diumumkan ?
Cara menyampaikan kabar meninggalnya sang ratu tergantung dari bagaimana sang ratu meninggal dunia.
Sebagai contoh, jika sang ratu meninggal dunia karena sakit yang sudah lama atau karena hal yang serupa, maka pihak istana sudah menyiapkan rencana khusus jika sang ratu meninggal karena cara ini.
Karena didanai oleh pembayar yang sudah berlisensi, maka seluruh chanel dari stasiun BBC akan menayangkan program yang sama dengan chanel BBC 1 yang akan menyebarkan kabar terkait meninggalnya sang ratu.
Namun, jika meninggalnya sang ratu terkesan mendadak, atau sama seperti yang dialami Putri Diana dimana ia tewas dalam kecelakaan yang berlokasi di tempat yang ramai dilewati masyarakat, maka pihak istana tak punya kendali banyak untuk mengatur penyebaran kabar meninggalnya sang ratu.
Setelah pengumuman sang ratu meninggal dunia menyebar, BBC akan membatalkan semua tayangan komedi sampai pemakaman sang ratu selesai sebagai bentuk penghormatan.
===
Pangeran Charles Naik Tahta
Karena berada di urutan teratas dari pewaris tahta, maka saat sang ibu meninggal Pangeran Charles akan langsung menjadi Raja Charles III (berhubung Inggris sudah pernah memiliki Raja Charles I pada 1625 hingga 1649 dan Raja Charles II pada 1660 hingga 1685).
Seperti yang diketahui, Elizabeth langsung menjadi Ratu Elizabeth II setelah sang ayah, Raja George VI meninggal dunia.
Kenapa Pangeran Charles akan langsung naik tahta adalah karena kursi atau tahta kepemimpinan tidak pernah kosong, kekuasaan akan diteruskan dengan sistem naik tahta terlebih dulu daripada dimahkotai.
Beberapa pihak meyakini jika dewan yang mengurus soal kenaikan tahta ini akan bertemu di Istana St. James untuk menyatakan Pangeran Charles sebagai raja, dimana hal ini merupakan formalitas semata.
Sama seperti penguasa terdahulu, pemahkotaan Pangeran Charles juga akan direncanakan, namun hal ini diprediksi akan terjadi lebih cepat daripada yang dulu dialami Ratu Elizabeth II.
Usut punya usut, beberapa pihak menduga jika ada sebuah komite khusus yang memang sudah menyusun renana pemahkotaan Pangeran Charles secara rahasia.
Komite ini diprediksi sudah ada selama 1 dekade terakhir dan namanya seolah tidak terlalu diperhatikan di dalam setiap dokumen kenegaraan.
Nama komite ini diketahui sebagai Golden Orb, menurut data yang didapat dari Daily Mail.
Golden Orb sendiri diisi kalangan yang berasal dari kelas aristokrat dan tidak ada kaitannya sama sekali dengan pemerintah.
Dipimpin oleh Duke of Norfolk, komite ini disebut-sebut memegang kendali atas setiap kegiatan seremonial yang berhubungan dengan Monarki dari Kerajaan Inggris.
Meskipun urusan perencanaan dari komite ini memiliki hubungan dengan keluarga kerajaan, komite ini diduga bekerja secara independen dari Istana Buckingham dan Clarence House.
Dilaporkan pula kalau komite ini bertanggung jawab atas pemakaman Ratu dan Pangeran Philip.
Kepada Daily Mail, ahli sejarah kerajaan Dr. Anna Whitelock mengatakan kalau nama London Bridge dan Forth Bridge (Kode yang dipakai saat Ratu dan Pangeran Philip meninggal) terinspirasi dari permata yang ada di mahkota yang dikenakan setiap penobatan.
Dr. Anna mengatakan :
"Lingkaran yang ada di mahkota itu adalah bola berongga yang terbuat dari emas dan adanya simbol otoritas Kristiani di mahkota menandakan kekuasaan Kristus atas dunia yang diwakili dalam kekuasaan Monarki berikutnya."
"Nama dari komite tersebut mengingatkan kita bahwa dalam setiap inti dari sebuah upacara, sang Raja akan bersumpah untuk mendedikasikan hidupnya, bukan kepada negaranya, atau siapapun yang diperintahnya, namun kepada Tuhan."
Detil terperinci dari pemahkotaan Pangeran Charles memang masih belum diketahui, namun beberapa laporan yang beredar menyebutkan jika penobatan itu nantinya tidak semewah di masa Ratu Elizabeth II dulu.
Selain itu, akan ada perubahan yang terjadi di beberapa aspek.
Salah satunya adalah berubahnya beberapa lirik dari lagu kebangsaan, perubahan wujud perangko serta gambar di mata uang yang semuanya akan menggunakan wajah Pangeran Charles, jika ia menjadi raja.
Tidak hanya itu, para anggota parlemen pun akan memberikan janji kesetiannya kepada raja dan sistem pemerintahan yang baru, meskipun masih ada tradisi dimana anggota parlemen kerap kali berseberangan meskipun sudah mengucapkan sumpah setianya.
Jika sang ayah naik tahta, maka Pangeran William akan menjadi Prince of Wales.
Hal ini akan membuat sang istri, Kate Middleton, mendapat gelar Princess of Wales, gelar yang dulu dimiliki oleh ibu suaminya, yaitu Putri Diana.
===
Raja Dengan Nama yang Berbeda
Saat Pangeran Charles menjadi raja, sosoknya tidak akan langsung dikenal sebagai Raja Charles atau King Charles.
Pangeran Charles bahkan bisa menggunakan nama lain karena itu merupakan hak prerogatif dari mereka yang berkuasa di Britania Raya.
Jika ingin tetap menggunakan nama Charles saat nanti sudah menjadi raja, maka ia akan dikenal sebagai Raja Charles III.
Akan tetapi, karena nama lengkapnya adalah Charles Philip Arthur George maka ada beberapa nama lain yang bisa dipilih, kalau Pangeran Charles mau.
Beberapa ahli sejarah ada yang meyakini jika Pangeran Charles mungkin tak akan menggunakan nama Charles karena nama tersebut memiliki kaitan erat dengan monarki terdahulu yang memiliki sejarah kurang baik.
Seperti diketahui, Raja Charles I adalah satu-satunya bagian dari monarki Kerajaan Inggris yang dihukum dan dieksekusi karena penghianatan.
Sementar putranya, Raja Charles II, adalah sosok yang dikenal sering memiliki masalah asmara.
Karena alasan inilah, spekulasi pun mulai muncul dan meyakini jika pangeran Charles bisa saja menggunakan nama George saat menjadi raja nanti.
Selain membuat nama tengahnya menjadi naik, hal ini juga memiliki kaitan erat dengan kakeknya, Raja George II, yang merupakan ayah dari Ratu Elizabeth II, ibu Pangeran Charles.
Selain George, Pangeran Charles juga berpotensi menjadikan dirinya sebagai Raja Philip I atau Raja Arthur 1 karena dua nama tersebut ada dalam bagian nama lengkapnya.
Salah satu juru bicara dari Clarence House pernah menyarankan agar pangeran Charles memilih namanya sebagai raja saat mendekati hari dirinya naik tahta.
Kemungkinan besar Pangeran Charles tetap akan menggunakan nama Charles.
Namun jika nama ini digunakan sebagai upaya untuk menjaga kestabilan di mata masyarakat Britania raya, maka saat nanti menjadi raja, masyarakat akan mengucapkan selamat tinggal kepada pemerintahan monarki yang sudah berkuasa setidaknya selama 7 dekade.
Kestabilan diyakini mejadi alasan mengapa Raja George VI memilih menggunakan nama George daripada Albert sebagai nama raja.
Saat saudaranya, Edward VIII turun tahta pada 1936, Raja George VI terpaksa mengikuti jejak ayahnya, Raja George V, untuk menggunakan nama George sebagai upaya menjaga kesinambungan dan keberlanjutan pemerintahan serta menawarkan rasa aman kepada masyarakat.
===
Pemakaman
Sebelum dimakamkan, jasad dari sang ratu nantinya akan dibaringkan dan bisa dilihat oleh semua masyarakat.
Tubuh Ratu Elizabeth II, jika sudah meninggal, nantinya akan dibaringkan di Westminster Hall dan terbuka untuk umum selama setidaknya 23 jam sebelum pemakamannya.
Saat peti jasadnya tiba akan ada sebuah upacara kecil sebelum masyarakat bisa memberikan penghormatan terakhir untuknya.
Beberapa pihak menduga kalau jumlah warga yang akan datang saat itu jumlahnya akan sangat banyak.
Dulu, sebanyak lebih dari 200.000 masyarakat memberikan penghormatan di hari meningglanya ibu dari ratu Elizabeth II pada 2002 silam.
Setelah Putri Diana meninggal pada 1997, ribuan masyarakat tumpah ruah dan berkumpul di depan istana untuk meletakkan bunga sebagai tanda berduka.
Nantinya pemakaman akan dilangsungkan 12 hari setelah sang ratu meninggal dunia dan pemakamannya akan ditayangkan di televisi dan disiarkan pula secara online.
Pemakaman kenegaraan akan dimulai dengan terlebih dahulu membawa peti jasadnya ke Westminster Abbey dengan menggunakan kereta meriam, dimana nantinya akan dipimpin oleh Uskup Agung dari Canterbury, Justin Welby.
Para pemimpin dan kepala negara dari seluruh dunia akan hadir dan diprediksi masyarakat akan berdiri di sepanjang jalan saat peti jasad sang ratu dibawa menuju Westminster Abbey.
Dalam pemakaman tersebut, jasad sang ratu bisa saja dikuburkan di beberapa tempat.
Beberapa pihak sempat berspekulasi kalau jasad sang ratu bisa saja dikuburkan di Balmoral atau Sandringham.
Yang lain meyakini jika sang ratu bisa saja dimakamkan di dekat ayahnya, Raja George VI yang makamnya berada di Kapel St. George di Windsor.
===
Dampak yang Lebih Besar
Efek berantai dari meninggalnya sang ratu dianggap memiliki dampak yang jauh lebih besar daripada naiknya raja baru atau masa berkabung dari sang ratu.
Dengan meninggalnya sang pemimpin yang sudah berkuasa sangat lama, beberapa dari 53 negara mungkin akan memilih untuk memutuskan ikatan kerjasama dan akan mendirikan republik sendiri.
Jika Ratu Elizabeth II meninggal, maka kepergiannya akan membuat lahirnya faham republikanisme di Britania Raya.
Meski nantinya masih ada dukungan kuat dari keluarga kerajaan, banyak pihak menilai jika hal ini merupakan hal yang sudah ketinggalan zaman.
Beberapa pihak bisa saja memiliki keinginan agar pemerintahan monarki yang selama ini berkuasa dihentikan, tapi semua itu tergantung dari bagaimana Pangeran Charles nanti berkuasa (jika ia menjadi raja).
Ada pula spekulasi yang mengatakan jika Pangeran Charles memiliki kemungkinan untuk turun tahta dan menyerahkannya pada Pangeran William, putra pertamanya.
===