Breaking News:

Wawancara Eksklusif

Wawancara dengan Rivat Ekaputra yang Bunuh Selingkuhan Istri,Saya Berprasangka Baik Sama Allah

Sekarang saya cuman bisa bertobat dan mohon ampun kepada Allah dan saya memohon maaf kepada keluarga korban.

TRIBUN SUMSEL/EDISON
Kepala Newsroom Sripo - Tribun Sumsel Weny Ramdiastuti (berbaju putih) mewawancarai Rivat Ekaputra, warga Prabumulih yang membunuh pria, selingkuhan istrinya. 

RIVAT Ekaputra menyadari bahwa ada konsekuensi hukum atas tindakan pembunuhan yang ia lakukan. Ia mengaku akan menjalani proses hukum dan mengambil hikmah atas peristiwa di ruang karaoke di Prabumulih tersebut. Berikut penuturannya kepada Kepala Newsroom Sripo-Tribun Sumsel.

Apa rasanya selesai kejadian, lega atau menyesal?
Saya sangat menyesal karena memang membunuh ini adalah dosa yang besar. Cuma disitu saya pas saya melakukan itu nggak, apa lah ya... saya sangat menyesal pokoknya, menyesal padahal jauh-jauh hari saya sudah... (menghela nafas).
Saya sangat khilaf, tidak tau lagi saya, mana dosa kepada Allah, hukum ini harus dijalani. Saya teringat anak-anak akan terlantar karena saya pasti akan dipenjara. Disitu saya baru tersadar saya sudah melakukan kesalahan yang sangat besar.
Sekarang saya cuman bisa bertobat dan mohon ampun kepada Allah dan saya memohon maaf kepada keluarga korban karena saya sudah menghilangkan nyawa keluarga mereka. Saya minta maaf kepada anak-anak saya karena mereka akan terlantar karena saya disini. (pelaku menangis). Dan saya minta maaf kepada seluruh rakyat Indonesia perbuatan saya sangat tidak terpuji.

Anda tahu tidak kalau resiko hukumannya itu bisa sampai hukuman mati?
Saya baru tersadar pada saat kejadian itu, ini sangat luar biasa. Saya tak tahu lagi mau apa.

Tapi anda menunjuk dua pengacara ya, dengan harapan apa?
Satu pengacara, saya minta berikan keringanan hukuman karena anak saya masih kecil mereka perlu nafkah dan kasih sayang saya... saya ingin bertobat... (sembari terisak menangis dan beberapa kali menyapu air mata).

Sekarang anak-anak tahu Anda dimana? Istri gimana kabarnya?
Tahu bu, istri di rumah keluarganya.

Ada komunikasi?
Waktu itu dipertemukan di sini (Polres Prabumulih), pas di BAP, ya dia minta maaf atas kejadian itu. Dia mengakui kesalahannya. Saya gak bisa lagi ngomong apa-apa, mau marah, mau apa juga gak bisa karena sudah terjadi. Dia mengakui kesalahannya yang mengakibatkan kejadian ini.

Sebagai laki-laki, Anda apalagi buat istri, kan adalah orang bertanggungjawab dan tentu menjaga kehormatan istri maupun diri sendiri sudah Anda sadari betul. Hikmah terbesar yang bisa Anda ambil dari kasus ini apa karena 30 detik itu mengubah hidup anda selamanya?
Kalau terjadi masalah bisa diselesaikan dengan baik jangan dengan emosi, harus bisa menahan diri dan harus bersabar karena masih ada cara yang lebih baik menyelesaikan masalah. Jadi harus bersabar. Rupanya saya saat itu belum bisa bersabar sehingga belum bisa berpikir jernih. Apalagi reskionya sangat besar.

(Wawancara dihentikan mendengar Azan)

Kita baru saja mendengar suara azan, tetapi anda tentu tidak menyangka anda berada di kantor Polres Prabumulih dengan kasus yang besar menghilangkan nyawa orang. Sementara publik tahu, masyarakat tahu Anda ini dikenal sangat rajin beribadah dan kemudian justru banyak mendapat simpati. Apa yang Anda mau bilang dari semua ini?
(Menghela nafas panjang) Saya mohon maaf ke semua kawan-kawan saya yang mengenal saya bahwasanya saya sudah melakukan kesalahan dan ini tidak boleh dicontoh. Ini bukan perbuatan baik. Kalaupun ada simpati saya ucapkan banyak terimakasih, saya mohon doa-doa kawan saya di luar sana supaya kasus hukuman saya ini bisa berjalan dengan lancar. Saya mohon minta didoakan supaya mendapat keringanan hukuman.

Anda masih mengharapkan istri dan anak-anak setia pada Anda?
Saya belum memikirkannya untuk sementara waktu ini, saya masih memikirkan masalah hukum saya ini dulu. Saya belum memikirkan ke sana, saya selesaikan satu-satu bagaimana baiknya nanti sambil saya masih minta petunjuk kepada Allah, saya fokus ke masalah hukum ini dulu.

Kalau nanti divonis seumur hidup dan kemudian anda terpaksa di-Nusakambangkan, apa yang anda pikirkan?
Itu mungkin sudah takdir saya, Bu. Musibah bagi saya yang harus saya terima dan saya tetap berprasangka baik sama Allah, cobaan insyaallah saya atasi dan saya sudah menerima takdit hidup, kita tidak tahu, saya tetap menerima takdir dari Allah.

Tetap berprasangka baik?
Ya, karena cobaan selalu ada dalam hidup ini pasti banyak untuk menguji keimanan saya.

Semoga Rivat sabar dan bisa mengambil hikmah dari semua ini dan banyak orang terinspirasi dalam hal mengambil pelajaran dari kasus ini. Terimakasih untuk waktunya dan semoga selalu sabar
Sama-sama, Bu. (eds)

Editor: Soegeng Haryadi
Sumber: Sriwijaya Post
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved