Kecelakaan Pesawat

46 Tahun Lalu: 182 Jemaah Haji Tewas Kecelakaan Pesawat

Tanggal 4 Desember 1974, 46 tahun lalu menjadi sejarah kelam penyelenggaraan ibadah haji. 182 jemaah meninggal dalam kecelakaan pesawat di Srilangka.

Tayang:
Editor: Sutrisman Dinah
IST
Ilustrasi: kecelakaan pesawat di pegunungan 

Adapun, pemeluk Budha meyakini telapak kaki yang ada di Gunung itu adalah milik Sidharta Budha Gautama. Sementara, umat Hindu mempercayainya sebagai jejak Dewa Siwa.

Daerah berbukit-bukit di Maskeliya dikenal sebagai daerah yang memiliki panorama indah. Usai kecelakaan yang terjadi, beberapa minggu kemudian usai investigasi rampung, pemerintah membangun sebuah monumen sekitar 400 meter dari tebing di mana kecelakaan terjadi.

Monumen itu sekaligus menjadi perkuburan massal jemaah mengingat kondisi jenazah tak memungkinkan untuk di bawa pulang ke Indonesia. Hanya ada sebagian jenazah potongan jenazah yang kemudian dipulangkan dan dikubur dalam perkuburan massal di halaman Masjid Ampel, Surabaya.

Dubes Djafar Husein mengatakan, para anak cucu jemaah haji yang meninggal mungkin rutin menziarahi Ampel.

Namun menurutnya, sebagaimana dikutip dari Antara pada 20 Agustus 2010, tidak ada yang mengunjungi perkubran massal nenek moyang mereka di Maskeliya Srilanka.

“Selama ini, memang hanya pihak Kedubes yang sering ke Maskeliya,” kata Djafar saat itu.

Penyebab kecelakaan Terdapat sejumlah faktor yang disebut sebagai kecelakaan pesawat. Harian Kompas, 7 Desember 1974, menyebutkan surat kabar yang terbit di Kolombo menyebut jatuhnya korban diakibatkan petugas menara salah mendengar laporan pilot pesawat.

Dalam kontaknya terakhir, pilot menyebut jarak pesawat dengan lapangan terbang adalah fourty (40) miles. Sedangkan, petugas menara salah mendengar sebagai fourteen (14) miles. Karena salah mendengar, petugas menara menginstruksikan pilot untuk pesawat mendarat.

Pilot kemudian mengurangi ketinggiannya dan terkejut karena rupanya instruksi itu salah. Ia berusaha menaikkan kembali ketinggiannya, namun tak berhasil yang kemudian mengakibatkan pesawat menabrak.

Meski demikian, tak diketahui dengan pasti kebenaran mengenai informasi tersebut. Laporan-laporan resmi menyebut pesawat terbang terlalu rendah dari tinggi minimum yang seharusnya 10.200 kaki.

Sedangkan, puncak kelima dari Seven Virgin yang ditabrak pesawat memiliki ketinggian sekitar 4.600 kaki.

Salah satu korban dalam kecelakaan pesawat tersebut rupanya adalah cucu Sultan Banjarmasin, Ny Kamariyah Syarifudin. Ia adalah cucu Sultan Banjarmasin, Pangeran Suryanzah. Ibunya Gusti Ratna, yang tinggal di Surabaya mengatakan, sebelum keberangkatan putrinya, sudah ada sejumlah firasat.

Kamariyah sebelum berangkat menyerahkan sekotak perhiasan kepada ibunya dan berpesan, seandainya ia tiada maka perhiasan itu agar dipakai sang ibu.

Gusti Ratna juga mengatakan, sebelum putrinya pergi, sempat bercerita anaknya sempat bermimpi naik sepeda bersama anak dan suaminya yang sudah meninggal di kaki sebuah gunung.

Suami anaknya itu dalam mimpi, kemudian meminta Kamariyah meninggalkan anaknya dan ikut bersamanya. Sebelum terbang, Kamariyah juga sempat mengirimkan surat kepada ibunya dan menceritakan kondisi asrama haji tempatnya menginap memiliki sarana dan pelayanan yang memuaskan.

Tak disangka surat tersebut adalah surat terakhir kalinya yang dituliskan almarhumah.****

_____________________________________ 
Sumber: Kompas.com, https://www.kompas.com/tren/read/2020/12/04/083200465/hari-ini-dalam-sejarah--182-jemaah-haji-indonesia-tewas-pada-kecelakaan?page=all#page2

Sumber: Kompas.com
Halaman 2/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved