Kecelakaan Pesawat

46 Tahun Lalu: 182 Jemaah Haji Tewas Kecelakaan Pesawat

Tanggal 4 Desember 1974, 46 tahun lalu menjadi sejarah kelam penyelenggaraan ibadah haji. 182 jemaah meninggal dalam kecelakaan pesawat di Srilangka.

Editor: Sutrisman Dinah
IST
Ilustrasi: kecelakaan pesawat di pegunungan 

SRIPOKU.COM -- Hari ini 46 tahun yang lalu, tepatnya pada 4 Desember 1974, pesawat milik Martin Air yang mengangkut 100 lebih jemaah haji Indonesia mengalami kecelakaan. Seluruh penumpang dan 9 kru pesawat meninggaldunia.

Seperti dikutip Kompas.com dari Harian Kompas, 6 Desember 1974,  pesawat yang berangkat dari Surabaya (Jawa Timur) itu, mengangkut 182 jemaah haji dan 9 awak pesawat. Kemudian, mereka semua dinyatakan meninggal dunia dalam kecelakaan itu.

Pesawat mengalami kecelakaan sekitar 15 menit sebelum mendarat di lapangan Udara Internasional Bandaranaike, Kolombo, Sri Lanka, untuk mengisi bahan bakar.

Pesawat yang mengalami kecelakaan ini adalah jenis DC-8 55f, produksi McDonald Douglash buatan tahun 1966, milik maskapai Belanda Martin Air yang disewa. Mengutip Antara, 20 Agustus 2010, pada masa itu tidak ada penerbangan langsung dari Indonesia ke Mekkah. Sehingga, Garuda Indonesia harus mencarter maskapai lain karena armada kurang.

Kecelakaan pesawat ini adalah musibah kecelakaan terbesar kedua dalam sejarah dunia selama tahun itu. Tilak de Zoysa, seorang petani teh di daerah lokasi kecelakaan, mengaku mendengar ledakan saat peristiwa terjadi.

Ia kemudian bergegas keluar dari bungalownya yang berjarak sekitar 180 meter dan melihat pesawat itu hancur berkeping-keping. Ia menyebut puncak perbukitan yang ditabrak oleh pesawat adalah kawasan yang belum pernah dicapai orang sebelumnya.

Adapun Peerkhan Seiyadu, seorang keturunan Afghanistan dan India yang tinggal di Srilanka, 36 tahun kemudian usai kejadian tersebut bercerita, saat itu pukul 8 malam waktu Srilanka ia melihat pesawat terbang terlalu rendah dari arah timur dan terlihat hendak menghindari tebing tinggi yang berselimut kabut.

“Terlambat, tebing tinggi itu tak bisa dihindari. Pesawat itu menabrak tebing, lalu memercikkan api, hancur berkeping-keping,” kisah Sieyadu.

Ia menyebut tak ada satu pun korban ditemukan dalam keadaan utuh, kecuali jenazah pramugari Belanda yang kondisi tubuhnya sudah sangat mengkhawatirkan.

Dikutip dari Kompas.com, 4 Desember 2011, Duta Besar Sri Lanka (saat itu) Djafar Hussein menyampaikan lokasi kecelakaan berada di puncak perbukitan yang belum pernah dicapai manusia sebelumnya. Kecelakaan tersebut disertai ledakan, sehingga sebagian besar bagian tubuh jenazah tidak berhasil dikumpulkan.

Para korban kecelakaan pesawat itu terdiri dari 111 warga Blitar, 16 warga Lamongan, 49 warga Sulawesi Selatan, 2 warga Surabaya, dan 3 warga Kalimantan Timur.

Sembilan awak adalah 2 dari mahasiswi tingkat IV Fakultas Syariah (Hukum) IAIN Surabaya dan mahasiswa IAIN Ujungpandang. Sedangkan, 7 awak lainnya adalah warga Belanda.

Tebing yang ditabrak pesawat tersebut dikenal dengan sebutan Tujuh Perawan atau Seven Virgins. Warga Srilanka menyebutnya dengan Anjimalai.

Di daerah tersebut terdapat satu puncak yang dikenal warga dunia sebagai Adam’s Peak atau Sri Pada. Puncak tersebut diyakini banyak pemeluk agama di Asia Selatan dan sebagian Timur Tengah, sebagai sebuah tempat suci.

Sebagian Muslim dan Kristen mempercayai lokasi tersebut sebagai tempat Nabi Adam pertama kali menjejakkan kaki di bumi.

Sumber: Kompas.com
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved