Pemilu AS

Jika Calon Petahana Donald Trump Kalah, Apa yang Akan Terjadi?

SEMUA kemungkinan bisa terjadi, termasuk calon petahana Donald Trump kalah. Apalagi menyaksikan hasil perhitungan sementara, Joe Biden hampir menang.

Tayang:
Editor: Sutrisman Dinah
AP PHOTO/kompas.com
Presiden AS Donald Trump 

SRIPOKU.COM -- Hasil penghitungan sementara Pemilu Presiden Amerika Serikat, sampai Kamis (5/5) pagi WIB, pasangan calon dari Partai Demokrat Joe Biden - Kamala Harris, unggul atas pasangan calon petahana sil Donald Trump-Mike Pence.

Semua kemungkinan bisa terjadi, dan akan menjadi catatan sejarah dalam penyelenggaran Pemilu AS 2020. Bila Donald Trump kalah, maka akan menjadi catatan langka bahwa calon presiden yang sedang berkuasa gagal terpilih kembali untuk periode kedua.

Di sisi lain, Joe Biden akan menjadi catatan sejarah bagi Pemilu AS memilih calon berusia 78 tahun. Joe Biden lahir di Delaware tahun 1942, jika menang  akan menjadi presiden berusia paling tua dalam sejarah bangsa  AS.

Ceritanya akan lain apabila Presiden Donald Trump enggan mengakui kekalahannya. Bahkan sebelum pemungutan suara berlangsung, ia memberi sinyal akan menolak hasil Pemilu AS 2020 apabila dia kalah.

Ada beberapa skenario yang dijelaskan pengamat politik AS di Australia, Dr Emma Shortis. Bagaimana jika Trump mengundurkan diri dan menjadikan Pence presiden? Jawabannya, bisa saja terjadi.

Baca juga: Hasil Sementara Joe Biden Unggul 238-213, Donald Trump Minta Hentikan Penghitungan

Baca juga: Donald Trump Beri Sinyal Tolak Hasil Pemilu Jika Kalah dari Joe Biden

Seperti dilansir Kompas.com, Dr Shortis mengatakan bahawa Trump bisa memenangkan Pemilu 2020,  kemudian mengundurkan diri dan menyerahkan jabatan kepada wakilnya Mike Pence.

"Kita telah melihat hal itu terjadi dalam sejarah AS, ketika Presiden Richard Nixon mengundurkan diri," katanya.

"Dengan asumsi Donald Trump menang, Mike Pence bisa menjadi presiden dan menjalankan sisa masa jabatan jika Trump mengundurkan diri," katanya.

Pengunduran diri presidendilakukan dilakukan Presiden Nixon pada tahun 1974, dua tahun setelah skandal Watergate, di mana lima orang yang terkait dengan Partai Republik kedapatan membobol markas Partai Demokrat di Washington.

Pengunduran diri Nixon Itu memberi jalan bagi Wapres Gerald Ford menyelesaikan masa jabatan presiden.

Bisakah Trump mendeklarasikan menang sebelum perhitungan suara melalui pos? Dr Shortis mengatakan Trump bisa melakukan hal itu, tapi itu tidak sah. 

"Tidak ada yang bisa menghentikan Trump untuk mengklaim seperti itu. Meski tidak benar, seperti banyak hal yang dia katakan, tapi Trump bisa membuat pengumuman seperti itu," katanya.

"Trump sebelumnya telah mengatakan jika hasil perhitungan suara begitu ketat, maka dia akan menyatakan diri sebagai pemenang."

Dr Shortis mengatakan, demokrasi Amerika saat ini berada dalam situasi yang belum pernah terjadi sebelumnya, terkait dengan apa yang bisa terjadi di saat suara Pemilu AS kali ini.

"Konstitusi AS sangat jelas mengatur tentang transisi kekuasaan, tapi mengasumsikan orang bertindak dengan itikad baik dan sesuai dengan aturan masyarakat. Kita tahu Trump tidak terlalu peduli tentang semua itu," kata Shortis.

Sumber: Kompas.com
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved