Badai Penistaan Ulama

Penguatan Pendidikan Aqidah Di Tengah Badai Penistaan Ulama

Disadari atau tidak, gejala penistaan (defiliation) terhadap ulama terjadi se­de­mi­ki­an luas dengan berbagai bentuk, pola, dan motivasi berbeda

Editor: Salman Rasyidin
ist
Dr. Abdurrahmansyah, M.Ag 

Oleh : Dr. Abdurrahmansyah, M.Ag

Dosen FITK UIN Raden Fatah Palembang

Disadari atau tidak, gejala penistaan (defiliation) terhadap ulama terjadi se­de­mi­ki­an luas dengan berbagai bentuk, pola, dan motivasi yang berbeda dari para pelaku yang berhasil diidentifikasi oleh pihak yang berwajib.

Bahkan proses penistaan ini jus­tru terkadang terjadi atas inisiatif kelompok masyarakat sendiri yang kebetulan ber­seberangan pandangan dengan tokoh ulama yang bersangkutan mengenai se­bu­ah isu sensitif.

Tindakan yang termasuk pada kategori penistaan adalah tindakan pencacian, pen­ce­laan, pencemoohan, pencercaan, penghinaan, pengutukan, dan seterusnya.

Di me­dia sosial akhir-akhir ini konten-konten yang bermuatan unsur penistaan ter­ha­dap ulama cukup marak dan semakin mengkhawatirkan.

Sosok ulama dalam tradisi Islam adalah seseorang yang dianggap sebagai pewaris nabi (waratsat al-anbiya’) yang memegang otoritas pengajaran agama Islam (Islamic teaching).

Hal itu sebagai bentuk tanggungjawab dakwah dalam rangka men­­cerahkan umat dari kebodohan (jahiliyah).

Ketokohan ulama sejak dulu di­le­kat­kan pada sisi pengakuan sosial terhadap status keulamaan seseorang karena telah terbukti secara sosial kompetensi keilmuan agama Islam yang luas.

Selain itu kemampuan mereka dalam menyelesaikan berbagai problem yang dihadapi umat di tengah-tengah masyarakat yang mpuni dan patut diacungkan jempol mes­ki sang ulamatidak mengharapkan hal yang demikian.

Dalam perspektif sosio­lo­gis, ulama dipandang sebagai agen sosial yang berperan menjelaskan berbagai in­for­masi tertentu kepada masyarakat melalui medium dan institusi yang dimiliki oleh ulama.

Dalam konteks pendidikan, ulama adalah sumber belajar yang paling otoritatif untuk mengajarkan seluk beluk agama Islam kepada para peserta didik.

Dalam ba­tas­an tertentu bahkan ulama dianggap sebagai penghubung antara umat dengan Tuhan dalam proses pengenalan diri dan mengenal Tuhan.

Penyebutan ulama de­ng­an panggilan mursyid mengokohkan fungsi ulama sebagai pembimbing dan pe­nun­tun perjalanan spiritual umat.

Ustad Abdul Somad memberi ceramah pada peringatan Maulid Nabi 1439 H di Benteng Kuto Besak (BKB) Palembang, Rabu (27/12/2017).
Ustad Abdul Somad memberi ceramah pada peringatan Maulid Nabi 1439 H di Benteng Kuto Besak (BKB) Palembang, Rabu (27/12/2017). (SRIPOKU.COM/RAHMAD ZILHAKIM)

Aspek spiritual sebagai sisi esoteris Islam disi­nya­­lir sebagai unsur penting dalam pengajaran Islam.

Sumber: Sriwijaya Post
Halaman 1/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved