Virus Corona di Sumsel

Sumsel Empat Besar Angka Kematian Tertinggi Covid-19 di Indonesia, Prof Yuwono: Bukan Berarti Gawat

Data dari Kementerian Kesehatan menunjukkan Sumatera Selatan menduduki posisi keempat angka kematian tertinggi di Indonesia.

Penulis: maya citra rosa | Editor: Refly Permana
SRIPOKU.COM/MAYA CR
Prof Yuwono Ahli Mikrobiologi 

Laporan wartawan Sripoku.com, Maya Citra Rosa

SRIPOKU.COM, PALEMBANG - Data dari Kementerian Kesehatan menunjukkan Sumatera Selatan menduduki posisi keempat angka kematian tertinggi di Indonesia. 

Sumsel masuk 10 besar angka kematian tertinggi dengan tingkat kematian 5,9 persen. 

Ahli Mikrobiologi Sumsel, Prof Dr dr Yuwono M Biomed, mengatakan bahwa hitungan persentase itu tidak berarti menunjukkan penyakit di Sumsel menjadi gawat. 

Ayo Buruan, Dua Perusahaan BUMN Ini Membuka Lowongan, Segeralah Mendaftar, Jangan Sampai Ketinggalan

Hal ini karena jika dilihat dari hitungan persentasenya, semakin besar pembagi maka semakin kecil persentase yang didapat. 

Seperti halnya di Sumsel, kasus konfirmasi di Sumsel yang mencapai 4.675 orang, kemudian meninggal sekitar 278 orang. 

Sehingga menghasilkan hasil persentase meninggal dunia 5,9 persen. 

"Seperti contohnya meninggal 1 orang tapi kasusnya cuma sepuluh artinya 10 persen, juga jika ada yang meninggal satu sedangkan kasusnya 100 maka hasilnya 00,1 persen," ujarnya. 

Dalami Peran Muslimin Kasus Perampokan 2013 di Banyuasin, Jatanras Polda Sumsel ke Nusakambangan

Menurutnya beberapa hal lain juga yang menyebabkan persentase angka kematian yang tinggi di Sumsel. 

Seperti halnya data kematian per hari belum tentu semuanya valid.

Hal ini karena bisa saja hitungan kematian yang terjadi beberapa hari sebelumnya kemudian baru dihitung hari ini. 

Menurutnya, di Sumsel pendataan seperti itu terjadi, sehingga data kematian tiba-tiba bisa menjadi tinggi.

Video Eksklusif : Kartu Prakerja Salah Sasaran, Pengusaha Hingga Pegawai Swasta Dapat Kartu Prakerja

Masalah lainnya yaitu masih sedikitnya pemeriksaan PCR di Sumsel yang baru mencapai 18 ribu pemeriksaan. 

Sedangkan target pemeriksaan seharusnya mencapai 80 ribu pemeriksaan PCR. 

"Masih sangat sedikit pemeriksaan ini, jika pemeriksaan sekitar 40 ribu orang, maka bisa saja perhitungan persentasenya sekitar dua persen," ujarnya. 

Sumber: Sriwijaya Post
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved