Virus Corona di Sumsel

Penderita Saluran Pernapasan Sangat Berisiko Jika Karhutlah & Covid-19 Hadir Bersamaan

Musim kemarau yang diperkirakan terjadi hingga Oktober Tahun 2020, dikhawatirkan akan menyebabkan terjadinya kebakaran hutan.

Penulis: maya citra rosa | Editor: Yandi Triansyah
Shutterstock
Ilustrasi virus corona, gejala virus corona(Shutterstock) 

Laporan Wartawan Sripoku.com, Maya Citra Rosa

SRIPOKU.COM, PALEMBANG -- Musim kemarau yang diperkirakan terjadi hingga Oktober Tahun 2020, dikhawatirkan akan menyebabkan terjadinya kebakaran hutan.

Sehingga nantinya akan menyebabkan kabut asap yang dapat semakin memperparah wabah Covid-19 yang saat ini masih berlangsung.

Menurut Ketua Tim Penyakit Infeksi Emerging (PIE) RSUP Mohammad Hosien Palembang, dr Zen Ahmad, Sp PD KP FINASIM, kedua penyakit yang ditimbulkan akibat kebakaran hutan dan Virus Corona, sama-sama berisiko tinggi bagi penderita saluran pernapasan.

Dari sisi imunitas, orang yang mempunyai imunitas baik tentu tidak akan menimbulkan gejala, hal ini karena sebagian besar virus yang masuk akan dibunuh oleh imunitas tubuh.

Puluhan Handphone Jadi Barang Bukti, Pemilik PS Strore Jadi Tersangka Kasus Penjualan Barang Ilegal

 

Kepergok Istri, Seorang Ayah Tega Cabuli 2 Putrinya yang Masih di Bawah Umur, Sungguh Bejat!

Sedangkan jika imunitas yang buruk yang dapat dipengaruhi oleh penyakit komorbit, obat-obatan atau karena kondisinya seperti orang lanjut usia dan ibu hamil.

Orang tersebut dapat berisiko terjangkit Covid-19 lebih tinggi dengan gejala-gejala seperti demam, batuk, pilek, dan lain sebagainya.

“Demikian juga jika terjadi kebakaran hutan yang dapat menyebabkan terjadinya kabut asap,” ujarnya, Rabu (29/7/2020).

Menurutnya, ada dua hal yang berbahaya apabila kebakaran hutan terjadi, pertama sumber oksigen akan berkurang, karena udara tercemar sebab asap yang berasal dari kebakaran tersebut.

Kedua, partikel asap yang dibawa oleh angin dapat masuk ke dalam saluran pernapasan, yang dapat menyebabkan iritasi.

Aksi Heroik Polwan di Polres OKI, Sambangi Warga di Desa Arisan Buntal Sembari Angkut Karung Beras

 

Usai Habisi Nyawa Anak Istri, Rendy Bunuh Diri tapi Diselamatkan Warga, Lalu Kabur dan Minum Racun

“Pada orang yang sistem imun dan saluran pernapasannya baik, asap dan partikel itu masuk ke tubuhnya akan merespon berbeda dengan orang yang berisiko tinggi, kalaupun ada keluhan, tidak akan signifikan,” ujarnya.

Kecuali asap yang terjadi itu sangat luar biasa tebalnya, yang akan berisiko tinggi baik orang yang memiliki imunitas dan saluran pernapasan tinggi atau tidak.

“Jadi baik Covid-19 atau asap kebakaran hutan untuk orang yang sehat, tidak terlalu signifikan,” ujarnya.

Kondisi ini akan buruk, apabila kabut asap tersebut mengenai orang yang memiliki sistem imunitas dan saluran pernapasan yang buruk.

Juga jika kedua-duanya terjadi secara bersamaan, maka akan menimbulkan beberapa penyakit, salah satunya Infeski Saluran Pernapasan Atas (ISPA), terutama bagi orang yang memiliki imunitas dan saluran pernapasan buruk.

Seorang Siswi SMP Ditarif Rp 500 Ribu Lewat Prostitusi Online, Uang untuk Beli Kuota Internet

 

Sosok Pria Ditemukan Tewas di Selokan Pensiunan PNS Polda Sumsel, Dikenal Warga Hobi Bersepeda

Orang yang sistem imunitasnya buruk terutama orang yang ada kelainan saluran napas, yang mana kelainan tersebut mengganggu perjalanan oksigen masuk hingga ke saluran pernapasan bagian bawah.

“Mudah-mudahan wabah Covid-19 dan kabut asap karena kebakaran hutan ini tidak terjadi bersamaan,” ujarnya.

Sumber: Sriwijaya Post
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved