Virus Corona
Sejumlah Negara Longgarkan Lockdown Demi Ekonomi Sementara Kasus Masih Tinggi
Banyak pro kontra masalah pelongaran Lockdown karena dilihat grafik justru kasusnya semakin tinggi.
SRIPOKU.COM – Banyak pro kontra masalah pelongaran Lockdown karena dilihat grafik justru kasusnya semakin tinggi. Tidak terkecuali sejumlah negara yang ambil Langkah yang sama.
Seperti diwartakan KONTAN.CO.ID yang menggambarkan bahwa pandemi Covid-19 masih belum menunjukkan tanda-tanda bakal berhenti. Namun berbagai negara mulai melonggarkan penutupan wilayah (lockdown) demi menghidupkan nadi perekonomian. India misalnya akan membuka pusat perbelanjaan, tempat ibadah, restoran, dan kantor pada Senin (7/7) ini.
Padahal negara bekas jajahan Inggris ini telah mencatat hampir 10.000 kasus baru Covid-19 dalam 24 jam terakhir. Dengan tambahan ini, total kasus terkonfirmasi India sudah melebihi Italia, seperti pemberitaan BBC. India memiliki jumlah kasus terkonfirmasi keenam di dunia sebanyak 236.657 dan 6.649 orang meninggal dunia.
Sistem kesehatan di Mumbai telah dilaporkan berada di ambang kehancuran. Sementara itu rumah sakit di ibukota, New Delhi, dilaporkan kehabisan ruang untuk menampung pasien Covid-19.
Selama berminggu-minggu, angka Covid-19 India yang relatif rendah telah membingungkan para pakar. Meskipun populasi padat, penyakit, dan rumah sakit umum yang kekurangan dana, tidak ada banjir infeksi atau kematian.
Angka infeksi terkonfirmasi yang rendah ini terjadi lantaran tingkat pengujian warga akan Covid-19 masih tergolong rendah. Di sisi lain sebagian besar infeksi India yang tidak terdeteksi dan juga tidak akan cukup parah sehingga memerlukan rawat inap.
India menduduki peringkat ke-12 dari aspek kematian, menurut statistik dari Universitas John Hopkins. Para ahli melihat, adanya peningkatan jumlah kasus menunjukkan India bakal memasuki puncak Covid-19 yang terlambat.
Pengunjung mengantru hingga ke luar bisokop di PS Mall/ilustrasi
(SRIPOKU.COM)
Banyak orang India menggunakan media sosial untuk mengungkapkan tentang pasien yang berjuang untuk mendapatkan perhatian medis. Beberapa rumah sakit mengatakan bahkan tidak memiliki alat tes yang tersisa.
Para pengamat mengatakan, lonjakan kasus baru-baru ini menunjukkan lockdown tidak berhasil membendung penyebaran Covid-19. Begitupun upaya pemerintah untuk meningkatkan fasilitas medis dengan biaya ekonomi yang besar.
Tetapi Gautam Menon, seorang profesor dan peneliti pada model penyakit menular, sebelumnya mengatakan kepada BBC bahwa Negeri Bollywood ini tidak punya pilihan lain. "Melebihi satu titik, sulit untuk mempertahankan kuncian yang telah berlangsung begitu lama - secara ekonomi, sosial dan psikologis," kata dia kepada BBC.
Filipina sejak Senin (1/6) juga telah membuka toko, pabrik, kantor dan operator transportasi setelah ditutup pada Maret lalu. Langkah pembukaan kembali pada hari Senin dipandang sebagai cara untuk meringankan kerugian ekonomi.
Padahal saat itu, jumlah kasus virus corona yang telah naik melewati 18.000 pada hari Senin (1/6) dengan angka kematian sebanyak 957 orang. VOA News melaporkan bahwa kasus infeksi terkonfirmasi di Filipina ini sudah menunjukkan tanda-tanda penurunan.