Inilah 7 Tanda Kerusakan Saraf: dari Merasa kebas, kesemutan Sering Buang Air Kecil hingga Linglung

Kerusakan saraf periferal disebut juga dengan neuropati. Kondisi ini diderita oleh jutaan orang dan penyebab utamanya adalah diabetes.

Inilah 7 Tanda Kerusakan Saraf: dari Merasa kebas, kesemutan Sering Buang Air Kecil hingga Linglung
http://www.sehatplus.com
Ilustrasi - Kesemutan. Sensasi tersebut adalah gejala awal kerusakan saraf dan mungkin menyebar dari tangan atau dari kaki ke jari-jari.

SRIPOKU.COM - Ada miliaran saraf dalam tubuh kita. Kebanyakan adalah saraf periferal yang bisa diibaratkan seperti cabang pohon, menyebar ke segala penjuru dan mengirimkan sinyal ke “batang” yaitu otak dan saraf tulang belakang.

Ketika semua berjalan lancar, otak akan mendapatkan informasi yang diperlukannya sehingga kita bisa menggerakkan otot, mengenali nyeri, hingga menjaga organ-organ dalam berfungsi normal.

Sebaliknya, ketika saraf periferal alias saraf tepi mengalami kerusakan. Berjalan biasa jadi hal yang menantang, kita mungkin mengalami nyeri yang tak reda, atau cidera parah gara-gara kita tak tahu sepanas apa panci di atas kompor menyala.

Jika Urine Berbusa Bisa Jadi Pertanda 4 Penyakit Kronis, Diabetes hingga Kerusakan Saraf

Ramalan Bintang Kamis 4 Juni 2020: Gairah akan Menguasai Pikiran Aries di Hari Kamis Ini

Jangan lupa subscribe, like dan share channel Youtube Sripokutv di bawah ini:

Kerusakan saraf periferal disebut juga dengan neuropati. Kondisi ini diderita oleh jutaan orang dan penyebab utamanya adalah kadar gula darah yang tidak terkontrol atau diabetes.

“Penyebab kedua adalah kelainan bawaan, diikuti dengan gerakan yang berulang-ulang dan juga penyakit lyme,” kata dokter bedah bidang rekonstruksi saraf Andrew Elkwood.

Penyebab lainnya termasuk trauma mendadak (seperti kecelakaan mobil), penuaan, kekurangan vitamin, paparan toksik berat, dan juga penyakit autoimun. Pada sebagian kecil kasus pemicunya tidak diketahui.

Menurut dokter neurologi Isha Gupta, sebagian besar kerusakan saraf berkembang perlahan.

“Ini berarti kita masih bisa mengobatinya sebelum menjadi buruk. Sayangnya, mendapatkan diagnosis yang akurat tidak selalu mudah,” kata Gupta.

Untuk mencegahnya, jangan abaikan gejala-gejala kerusakan saraf berikut ini:

Halaman
123
Editor: Bejoroy
Sumber: Kompas.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved