Pengamat Sosial: Melawan Covid=Melawan Penjajah

Jujur untuk di Palembang belum berjalan memuaskan selama ini, baik itu social distancing maupun physical distancing.

Editor: Soegeng Haryadi
dokumen pribadi
Prof Dr Abdullah Idi 

KONDISI kehidupan sosial masyarakat Sumsel khususnya kota Palembang akan terpengaruh, setelah diterapkannya Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB).

Namun saat ini masih dinamis dan komprensif yang perlu perhatian dalam penerapan PSBB itu.

Saya kira memang kondisi realitas yang dihadapi menjelang PSBB bagi masyarakat Palembang. Saya mengamati apa yang ada di pasar-pasar dan mall- mall mulai ramai, itu saya pikir sebenarnya social distancing selama ini belum memuaskan, meski sudah hampir dua bulan diberlakukan.

Jujur untuk di Palembang belum berjalan memuaskan selama ini, baik itu social distancing maupun physical distancing.

Ini sebenarnya masukan penting untuk PSBB, dimana himbauan Pak Gubernur untuk dipercepat PSBB 20 Mei itu hal positif, tapi harus dilihat implementasinya, sebab ini belum terlihat meratanya pemahaman masyarakat, atau kebijakan multi tafsir.

Kebijakan multi tafsir itu, seperti adanya kebijakan Menteri Perhubungan dibuka kembali moda transportasi umum, baik udara, darat dan laut.

Adanya kebijakan itu masyarakat memahami boleh kembali beraktifitas lagi, padahal disisi lain di Sumsel khususnya Palembang cenderung pasien positif Covid-19 mengalami peningkatan yang cukup tinggi.

Selain itu, jika masyarakat Palembang cenderung tertekan masalah ekonominya. Dimana sumber kehidupan mereka tidak stabil, maka dari itu mereka terus ingin mendapat penghasilan selama akan dilaksanakan PSBB nanti, sehingga aktivitas ekonomi seperti mall, pasar, maupun pabrik mulai hidup kembali.

Kemudian sampai hari ini bantuan banyak baik dari lembaga pemerintah, perusahaan, ormas dan sebagainya. Namun dirasa itu belum memadai karena kehidupan tidak hanya bisa terpenuhi dalam bentuk donasi itu, melainkan harus berlanjut.

Diawal himbauan pemerintah selama ini sampai dua minggu lalu, masyarakat sebenarnya relatif mematuhinya hal ini terlihat dari sepinya kendaraan dijalan, tapi ketika dibukanya moda transportasi udara, laut dan darat kembali lagi jalanan ramai.

Saya kira tidak harus saling menyalahi, tapi konsistensi dalam suatu kebijakan antara pusat dan daerah itu sangat penting, sehingga didaerah jalan konsisten. Harus diakui juga tidak semua masyarakat kita patuh terhadap aturan dengan alasan beragam, padahal kepatuhan sangat penting dalam pertempuran Covid-19.

Pemegang kekuasaan baik pusat maupun daerah harus mendengarkan aspirasi tim medis yang ada, dimana jika ia melihat di medsos banyak keluhan baik mogok pekerja tim medis dan ssbagainya yang harus jadi perhatian.

Mungkin ini kerja ekstra dan mengancam meski ini kewajiban mereka, tetapi juga pengorbanan mereka harus didengarkan, dan peran masyarakat juga harus bisa memberikan suport, termasuk pemerintah harus jujur untuk transparansi data dilapangan sehingga harus kolektif.

Melawan Covid sama saja dianggap melawan penjajahan juga karena menyangkut hidup mati seseorang. (arf)

Sumber: Sriwijaya Post
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved