Virus Corona

Survei, 56,22% Warga Perantau Pilih tak Mudik Lebaran di Tengah Pandemik Covid-19 atau Virus Corona

Survei tersebut dilakukan oleh Kementerian Riset dan Teknologi/Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), LIPI, Badan Nasional Penanggulangan Bencana

Tribunnews.com
Ilustrasi beberapa warga yang mudik dengan mengendarai sepeda motor. 

SRIPOKU.COM, PALEMBANG - Menjelang masuknya bulan Ramadan 2020 atau Ramadhan 1441 Hijriah, pemerintah mulai mengatur strategi mengatasi lonjakan pemudik yang biasanya akan tinggi mendekati lebaran.

Menurut Kepala Pusat Penelitian Kependudukan LIPI, Herry Jogaswara penerapan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) yang menjadi langkah mencegah penyebaran Covid-19, yang mengatur mobilitas pemudik menimbulkan polemik di tengah masyarakat.

Terlebih dekatnya momentum Idul Fitri pada Mei mendatang yang identik dengan budaya mudik, yang melibatkan mobilitas penduduk dalam jumlah yang sangat banyak merupakan fenomena rutin setiap tahun di Indonesia.

Kemendagri Siap Kucurkan Dana Khusus untuk Covid-19 ke Setiap Pemda Asal Syarat Ini Terpenuhi

ASN Ketahuan Mudik di Tengah Wabah Corona, Dikenakan Sanksi Turun Pangkat Hingga tak Naik Gaji

“Kondisi ini semakin kompleks dengan situasi pandemik Covid-19 yang menyebabkan terganggunya penduduk akibat terhentinya sebagian kegiatan ekonomi,” ujarnya dalam press release yang diterima wartawan Sripoku.com, Senin (13/4/2020).

Saat ini sebagian penduduk telah memilih kembali ke kampung dibandingkan menetap di kota dengan pertimbangan kehilangan mata pencaharian dan kesulitan memenuhi kebutuhan sehari-hari selama masa pandemik ini.

Herry menyebutkan, Survei Persepsi Masyarakat terhadap Mobilitas dan Transportasi telah dilakukan.

Survei tersebut melibatkan masyarakat umum dengan total responden sejumlah 3.853 orang dengan rentang usia 15–60 tahun ke atas dan persentasi jenis kelamin perempuan dan laki-laki yang berimbang.

Dari hasil survei, Herry menyebutkan, sebesar 56,22% responden menjawab tidak akan mudik termasuk di dalamnya 20, 98% masih dalam tahap berencana untuk membatalkan mudik.

JENDERAL Polisi Bintang Dua Ini Ajak Warga Sumsel Dirantau Jangan Dulu Mudik, Ini Pesannya!

“Meskipun demikian, persentase masyarakat yang mudik dinilai masih tinggi di angka 43,78 persen," ujarnya.

Survei tersebut dilakukan oleh Kementerian Riset dan Teknologi/Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), LIPI, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Universitas Indonesia, Universitas Gadjah Mada, Institut Teknologi Bandung, Institut Pertanian Bogor, Politeknik Statistika Sekolah Tinggi Ilmu Statistik, serta Jurnalis
Bencana dan Krisis Indonesia.

Peneliti Pusat Penelitian Kependudukan LIPI, Rusli Cahyadi menjelaskan, pilihan mudik dengan risiko akan
memperluas pandemik Covid-19 ke wilayah kampung halaman bukan suatu hal yang tidak disadari oleh calon pemudik.

“Hasil survei menunjukkan pergerakan mudik terbesar berasal dari Jawa Barat sebesar 22,94 persen, diikuti DKI Jakarta 18,14 persen, Jawa Timur 10,55 persen, Jawa Tengah 10,02 persen, dan Banten 4,68 persen,” terang Rusli.

Di DKI Jakarta sendiri terjadi pergerakan ke hampir seluruh provinsi di Indonesia.Pergerakan terbesar menuju Jawa Tengah, yakni sebesar 24,18%.

Berikutnya 16,01% menuju Provinsi Jawa Timur; 14,71% menuju Jawa Barat; 7,52% menuju DI Yogyakarta; dan 4,58% menuju Sumatera Utara.

Penulis: maya citra rosa
Editor: Sudarwan
Sumber: Sriwijaya Post
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved