Salam Sriwijaya

Waspada Corona Jangan Abaikan DBD

MAU tidak mau saat ini seluruh masyarakat Indonesia terfokus pada penyebaran virus corona atau Covid-19.

Editor: Bejoroy
SRIPOKU.COM/REIGAN RIANGGA
Pasien RS Muhammadiyah Palembang didominasi penyakit Hiperpirexia seperti deman dengan panas tinggi dan DBD. 

SRIPOKU.COM - MAU tidak mau saat ini seluruh masyarakat Indonesia terfokus pada penyebaran virus corona atau Covid-19. Virus yang mulai mewabah di Hubei, China sejak awal tahun 2020 lalu menjadi kekhawatiran masyarakat perihal penyebarannya.

Terlebih lagi di Indonesia sekarang sudah ada puluhan orang yang terinfeksi virus tersebut yang umumnya merupakan imported case. Mereka yang terinfeksi langsung dilakukan isolasi dibeberapa rumah sakit.

Di dunia sejumlah negara sudah melaporkan warganya yang terinfeksi virus tersebut. Awalnya China, namun belakangan Italia dan Iran juga melaporkan ribuan warganya terjangkit virus corona dan ada yang meninggal. Bahkan petinggi pemerintah juga ikut terjangkit virus tersebut.

Cegah Infeksi Virus Corona Saat Olahraga, Begini Caranya!

Inilah 5 Mitos dan Fakta Demam Berdarah, Orangtua Harus Tahu: DBD Berdampak Lebih Buruk pada Lansia

Memang virus corona menyedot perhatian dalam negeri mulai dari pemerintahan pusat hingga daerah. Bahkan dibeberapa daerah, virus corona menimbulkan kepanikan dalam masyarakat ditandai dengan panic buying sembako. Selain itu masker dan handsanitizer pun ikut hilang dari pasaran.

Jangan lupa subscribe, like dan share channel Youtube Sripokutv di bawah ini:

Pendek kata, seluruh masyarakat Indonesia dibuat waspada virus corona. Namun ancaman lain nyata di depan mata, yakni deman berdarah dengue (DBD). Wabah ini tak kalah dahsyatnya dengan virus corona yang tengah melanda dunia. Apalagi saat ini dibeberapa wilayah Indonesia dalam musim hujan, contohnya Sumsel saat ini mengalami puncak musim penghujan.

Berdasarkan data Kementerian Kesehatan Republik Indonesia (Kemenkes RI) sejak awal Januari hingga 11 Maret 2020 Sumsel tercatat sebagai 10 provinsi dengan kasus DBD tertinggi. Sumsel masuk dalam urutan ketujuh dengan 819 kasus, tiga diantaranya meninggal dunia.

Pihak Dinkes Sumsel melalui Kepala Seksi Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular (P2PM) Dinas Kesehatan Provinsi Sumsel, Muyono menyebutkan, bulan ini merupakan puncak kewaspadaan untuk penyakit DBD. Sedangkan pada bulan April mendatang diperkirakan kasus DBD mengalami penurunan.

Dari hal-hal di atas, memang pemerintah melalui pemerintah daerah dan jajaran di bawahnya memberikan early warning (peringatan dini), bukan saja terhadap virus corona, tapi demam berdarah kepada masyarakat dengan harapan baik corona dan DBD bisa dicegah.

Peran serta masyarakat dalam memahami pencegahan baik corona maupun DBD sangat diperlukan. Dengan demikian tidak terjadi kegaduhan dan kegagapan saat virus corona dan DBD berjangkit.

Dan jangan lupa juga subscribe, like dan share channel Instagram Sriwijayapost di bawah ini:

Oleh karena itu kewaspadaan terhadap penyebaran virus corona jangan sampai melemahkan pengawasan terhadap penyakit demam berdarah yang sama-sama berbahaya. Kita berharap semua elemen bangsa ini tetap waspada terhadap virus corona tetapi dengan abai dengan wabah demam berdarah. (*)

Jangan lupa Like fanspage Facebook Sriwijaya Post di bawah ini:

Facebook Sripoku
Sumber: Sriwijaya Post
Berita Terkait
  • Ikuti kami di
    AA

    Berita Terkini

    © 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved