Arti Sebuah Nama
Arti Sebuah Nama Dalam Islam
Pepatah Arab mengatakan “Banyaknya nama, menunjukkan mulianya pemilik nama-nama tersebut”.
Dalam hadits Bukhari, kuda Nabi yang suaranya keras meringkik diberi nama Luhaif atau “Si Peringkik”, mungkin karena suka meringkik. Keledainya diberi nama Ufair atau “Si Cemerlang”.
Untanya yang putih gagah diberi nama Qashwa’, yang disebut juga ‘Adhba atau “Si Lincah”. Sumber lain menyebutkan, arti ‘Adhba adalah yang terputus atau terbelah telinganya.
Keledai (himar) Nabi diberi nama Ya’fur, yang sebenarnya merupakan nama kijang.
Dinamakan demikian karena kecepatan larinya menyerupai kijang.
Hewan peranakan kuda dan keledai (baghl) diberi nama Duldul.
Sedang nama kambing yang diperah untuk dia minum susunya adalah Ghaithah.
Kuda beliau yang berwarna kemerahan bernama Murtajiz, sedangkan kuda berwarna hitam bernama Sakb.
Benda-benda lain milik Nabi Muhammad adalah tempat busur panah yang beliau beri nama Kafur dan Dzu al-Jum, busur panahnya bernama Dzual-Sadad, baju perang yang dikisahkan digadaikan ke orang Yahudi bernama Dzat al-Fudhul, dan satu lagi yang cukup terkenal karena dikenakan dalam Perang Uhud bernama Fiddah atau “Si Perisai”.
Pisau Nabi bernama Nab’a’, tongkat beliau yang terbuat dari kayu bernama Mamshuq.
Sumber: Syaikh al-Allamah al-Muhaddits Yusuf Ismail an-Nabhani, Wasa’il al-Wushul ila Syama’il al-Rasul (Dar el-Minhaj, Beirut, 2009)
Telah dipaparkan sebelumnya, Nabi sangat penyayang, hingga kepada hewan dan benda mati sekalipun (di antaranya dalam kisah batang kayu dan pohon kurma yang menangis di masjid).
Memberi nama menunjukkan sebentuk kasih sayang, serta meniscayakan kedekatan emosional, dan bahwa semuanya, baik benda hidup maupun benda mati, yang mengalami proses perubahan adalah makhluk Allah.
Sedang semua makhluk yang ada di langit dan di bumi, terus bertasbih kepada-Nya! (QS. al-Hasyr: 59)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/palembang/foto/bank/originals/toto-haryanto.jpg)