Arti Sebuah Nama
Arti Sebuah Nama Dalam Islam
Pepatah Arab mengatakan “Banyaknya nama, menunjukkan mulianya pemilik nama-nama tersebut”.
Adapun dalam hadis-hadis Nabi, nama beliau al-Mahi (yang menghapuskan), al-‘Hasyir (yang mengumpulkan), dan al- ‘Aqib (yang penghabisan) sebagaimana disebutkan sendiri oleh beliau dalam sebuah hadis: “Aku memiliki nama-nama. Aku adalah Muhammad dan aku juga Ahmad; Aku adalah al-Mahi karena Allah menghapuskan kekufuran dengan perantara diriku; Aku adalah al-Hasyir karena manusia dikumpulkan di di atas kakiku; dan aku adalah al- ‘Aqib, karena tidak ada lagi nabi setelahku.” (HR Bukhori 2354 dan Muslim 4896).
Terdapat dalam riwayat hadis yang lain, yang bersumber dari Abu Musa al-‘Asy’ari bahwa nama lain dari nabi Muhammad saw adalah al-Muqaffi, Nabiyyur Rohmah, dan Nabiyyut Taubah, “Rasulullah SAW memberitahu kepada kami nama-nama beliau. Beliau bersabda: ‘Aku Muhammad, Ahmad, Al-Muqaffi, Al-Hasyir, Nabiyyur Rahmah, Nabiyyut Taubah” (HR. Muslim 2355).
Beliau bernama al-Muqaffi karena inti ajaran yang beliau sampaikan sama dengan ajaran para Rasul sebelumnya yang mengajarkan tauhid dan memperingatkan kesyirikan.
Sedangkan makna Nabiyut Taubah dan Nabiyur Rahmah dijelaskan oleh Imam An Nawawi adalah karena Nabi Muhammad SAW datang dengan taubat dan kasih sayang.
Melalui Beliau, Allah membukakan pintu taubat bagi penduduk bumi, penduduk bumi pun bertaubat dengan taubat yang tidak pernah dilakukan oleh orang-orang sebelum umat Nabi Muhammad.
Dan Nabi Muhammad saw juga adalah orang yang paling banyak istighfarnya.
Panggilan berikutnya untuk nabi Muhammad saw adalah al-Mutawakkil , dalam sebuah hadis bersumber dari Atha` bin Yasar, dia berkata : “Aku menjumpai Abdullah bin Amr bin ‘Ash r.a, lalu aku berkata,”kabarkan kepadaku tentang sifat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang ada di dalam Taurat!’ Dia menjawab, “Baiklah. Demi Allah, sesungguhnya beliau itu diterangkan sifatnya dalam Taurat dengan sebagian sifat yang ada di dalam Alquran, (yaitu), ’Hai Nabi, sesungguhnya Kami mengutusmu untuk menjadi saksi dan pembawa kabar gembira, dan pemberi peringatan serta penjaga bagi orang-orang Arab. Kamu adalah hamba dan Rasul-Ku. Namamu al-Mutawakkil, bukan keras dan bukan pula kasar,’ dan Allah ‘Azza wa Jalla tidak mencabut nyawanya sampai dia berhasil meluruskan agama yang telah bengkok dengan mengatakan laa ilaha illallah”. (HR Bukhari).
Julukan atau kun-yah dalam tradisi orang Arab, nama beliau Muhammad disebutkan bergandengan dengan nama putra pertamanya yaitu Abul Qasim (Bapaknya Qasim).
Sebagaimana beliau pernah bersabda, “Silakan memberi nama dengan namaku, namun jangan ber-kun-yah dengan kun-yah-ku. Kun-yah-ku adalah Abul Qasim” (HR. Bukhari 3114, Muslim 2133)
Selain nama-nama yang disebutkan secara jelas dan tegas di dalam Al Quran dan hadis, ada juga nama yang pada hakikatnya adalah deskripsi sifat yang melekat pada beliau yang juga disebutkan di dalam banyak tempat.
Lantaran peran beliau sebagai saksi bagi para nabi sebelumnya bahwa mereka telah melaksanakan tugas kenabian atas umatnya masing-masing, maka beliau dipanggil dengan Asy Syahid.
Dalam menyampaikan tugas kenabian, beliau menyampaikan kabar gembira.
Balasan bagi orang-orang yang melakukan amal solih dan ketaatan adalah surga, maka panggilan untuk beliau adalah al-Mubasyyir.
Setelah kabar gembira disampaikan, maka giliran berikutnya tugas beliau adalah menyampaikan ancaman dan peringatan bagi ummatnya, maka belia dipanggil dengan sebutan an-Nadzir, peran sebagai penyeru kebaikan yang kemudian menjadikan beliau disebut dengan ad-Da’i,
Usaha beliau untuk mengeluarkan manusia dari gelapnya kesesatan menuju cahaya terang benderang sehingga pantas disebut dengan panggilan Sirojul Munir.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/palembang/foto/bank/originals/toto-haryanto.jpg)