Wawancara Eksklusif

KPAD Sumsel Soal Heboh Kabar Viral Penculikan Anak: Anak TK-SD Rentan jadi Sasaran

Iibarat nasi yang sudah jadi bubur maraknya isu-isu penculikan anak pun membuat banyak orang tua khususnya khawatir atas hal ini.

Editor: Soegeng Haryadi
SRIPO/RAHMALIYAH
M Husaini SPd MSi 

TEROR penculikan yang terjadi belakangan membuat masyarakat menjadi resah. Terlebih, kabar-kabar penculikan ini menyebar luas, baik melalui grup percakapan WhatsApp hingga viral di media sosial.

Namun, dari beberapa kejadian ada kasus penculikan yang ternyata hanya rekayasa sang anak seperti di Ogan Komering Ulu (OKU) belum lama ini. Tapi ibarat nasi yang sudah jadi bubur maraknya isu-isu penculikan anak pun membuat banyak orang tua khususnya khawatir atas hal ini.

Penculikan di OKU Ternyata Karangan Bocah SD, Dia Takut Dimarahi Hilangkan Uang Rp. 5000

Detik-detik Pelajar SD di OKU Lolos dari Penculikan Anak Meski Sudah Dibius dan Disekap Pelaku

Wawancara Eksklusif : Jual Beli Rekening Modus Pencucian Uang

Menindak lanjuti hal tersebut, berikut wawancara khusus dengan Komisioner Komisi Perlindungan Anak Daerah (KPAD) Sumatera Selatan, M Husaini SPd MSi, Jumat (21/2)

Beberapa waktu ini teror penculikan anak muncul dan membuat masyarakat resah, bagaimana respon dari KPAD Sumsel atas hal ini?
Kami mengaku bahwa di Sumsel beberapa waktu ini dihebohkan dengan kasus penculikan anak bahkan viral di media. Tapi dari catatan KPAD Sumsel sampai saat ini belum ada yang melaporkan secara resmi kepada kami terkait kasus penculikan anak. Sementara untuk kasus di OKU kemarin itu hanya rekayasa si anak. Namun, kami tetap memantau lini masa pemberitaan yang kaitannya dengan kasus penculikan anak. Sampai saat ini, kasus yang sering terjadi ada di Pulau Jawa.

Untuk kasus di OKU kemarin sudah terlanjut viral dan akhirnya meresahkan masyarakat, apa imbauan KPAD Sumsel?
Kami mengupayakan sosialisasi pada orangtua dan menegaskan bahwa dalam pengawasan anak ini perlu serta peran orang tua. Orang tua menjadi kunci baiknya pengawasan. Mereka juga kita harap tidak serta merta menyerahkan pengawasan anak baik pada pihak sekolah ketika mereka berada disana. Dalam hal ini juga perlu peran masyarakat sekitar untuk sama-sama mewaspadai gerak-gerik mencurigakan. Begitu juga bagi penjaga keamanan sekolah kita harap tidak mudah untuk membukakan gerbang bagi orang asing.

Kasus penculikan paling sering terjadi direntang usia berapa?
Sebenarnya tidak bisa kita takar diusia berapa dan kapan terjadi, namun dari banyak kejadian anak-anak usia TK dan SD paling banyak terjadi. Sebab, kami menilai diusia tersebut memang riskan terjadi percobaan penculikan. Apalagi, dari sisi pertahanan diri diusia anak saat itu, rasanya sulit untuk melepaskan diri apabila saat diseret masuk ke mobil.

Dari catatan KPAD modus penculikan anak yang terjadi seperti apa?
Dari studi kasus yang ada pelaku penculikan ini jarang melakukan sendirian, mereka berkelompok bahkan menggunakan kendaraan seperti mobil untuk membawa anak yang jadi target penculikan. Artinya, perlu kewaspadaan tinggi baik dari orang tuanya atau lingkungan sekitar anak seperti sekolah dan tempat bermainnya.

Dampak teror penculikan anak akhirnya membuat masyarakat antipati pada orang-orang asing, bahkan terbaru ada yang menuduh pemulung sebagai penculik anak?
Inilah yang kita minta agar masyarakat jika menemukan tanda atau gerak gerik mencirikan untuk segera melaporkan pada pihak terkait apakah itu RT setempat atau kepolisian sehingga bisa ditindak lanjut. Masyarakat juga harus jeli dan peka terhadap gerak-gerik mencurigakan dan dikroscek apakah memang benar hanya memulung barang atau tanda-tanda mencurigakan memang ada untuk menculik

Maraknya teror penculikan anak, apakah KPAD membuka posko pengaduan bagi masyarakat?
Kami selalu open menerima laporan baik penculikan, kekerasan anak atau lainnya. Karena fungsi KPAD adalah memberikan pendampingan sehingga muncul rasa aman dan anak harus dilindungi sesuai dengan yang tertera dalam undang-undang. Para orang tua harus memang meningkat kan kewaspadaan. Jangan hilang pandangan pada anak saat beraktifitas baik diluar atau pun dalam lingkungan rumah. (cr26)

Sumber: Sriwijaya Post
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved