Mimbar Jumat
Keindahan Bahasa Al-Qur’an
Al-Qur’an turun di tengah-tengah bangsa Arab yang –pada masa turunnya al-Qur’an, memiliki budaya tutur kata tinggi.
Sebuah Pencerahan Bagi Calon Jemaah Haji
SRIPOKU.COM - Al-Qur’an turun di tengah-tengah bangsa Arab yang –pada masa turunnya al-Qur’an, memiliki budaya tutur kata tinggi. Syair-syair menghiasi percakapan mereka dan diperlombakan untuk menjadi kebanggaan setiap kabilah masing-masing.
Kemampuan mengungkapkan perasaan dengan susunan kata-kata pilihan, kalimat-kalimat indah sarat makna seolah sudah melekat dengan kehidupan mereka. Sekalipun mereka adalah kaum yang ‘ummy’, kaum yang tidak pandai membaca dan menulis.
Beberapa minggu belakangan, para calon tamu Allah yang bakal menuju Baitullah untuk menunainya ibadah haji. lagi sibuk-sibuknya mempersiapkandiri dengan mengikuti menasik, baik yang secara mandiri maupun yang diselenggarakan KBIH. Satuhal yang tidak bisa diabaikann adalah memahami bahasa Arab –tempat Allah turun Al Quran melalui wahyuNyakepada Rasulullah SAW.
• Calon Jemaah Haji Palembang, Dites Kebugaran, Disuruh Lari 2 Keliling Putari Kambang Iwak
• Soal Pembuatan Paspor Calon Jemaah Haji, Jemput Bola untuk Lansia
Secara umum, masyarakat Arab pra Islam dikenal dengan sebutan masyarakat jahiliyah (zaman kebodohan), namun “kebodohan” disini bukan lantaran mereka tidak memiliki budaya atau peradaban. Mereka disebut jahiliyah lantaran tidak memiliki panduan agama yang berdasarkan kitab suci, ideologi tauhid yang dibawa oleh para nabi utusan Allah.
Terbukti, kita membaca dalam sumber-sumber sejarah bagaimana kecakapan mereka dalam merangkai syair-syair, kemampuan mereka dalam berbisnis (tijaroh), kemahiran dalam berburu dan mengembala hewan ternak, keteguhan mereka dalam memelihara nilai-nilai keyakinan yang diwariskan oleh para leluhur.
Keistimewaan bahasa arab seoalah tidak terlihat, padahal kosakata dalam bahasa arab memiliki makna yang luas, bahkan konon menurut pakar linguistik jumlah kosakata bahasa arab mencapai 12 juta 300-an ribu. Contoh misalnya unta dalam bahasa Arab mempunyai ratusan kosakata untuk mengungkapkannya.
Unta secara umum disebut dengan Ibil, unta jantan Jamal, unta betina Naqah, unta pejantan yang kuat dho’il, unta pengangkut barang hafadh, unta yang minum air setelah dua hari sekali ghabbu, unta yang minum air setelah tiga hari sekali,rani’, unta yang minum air sehari sekali, zhahir, unta yang minum sedikit air, qashrid, unta yang minum pagi sekali, sore sekali , ‘Arja, unta yang cepat haus, haafah atau milwaah, unta yang mencium bau air tapi sering tidak meminumnya, ‘ayuuf, unta yang tidak minum air agar mengalahkan rasa sakitnya, maqamih. Unta yang tidak mau minum bersama yang lain, tapi menunggu sepi, raquub Unta yang terburu-buru pergi ke telaga, miiraad, Unta yang kehausan, hiyaam, Unta pejantan yang siap kawin, hiyaaj, Unta yang dibiarkan liar tanpa pemilik, haamil, Unta betina yang siap kawin, musayyar, mujassar, Unta betina diawal usia kehamilan, mu’asyar.
1.Unta betina yang anaknya mati dan merintih sepanjang waktu, kholuuj,
2.Unta betina yang anaknya mati, tapi langsung melupakannya, khofuut,
3.Unta betina yang menyusui anak unta yang bukan anaknya, mudhoyyaroh,
4.Unta betina yang bisa diperas susunya ketika anaknya tidak ada, masuuh,
5. Unta betina yang tidak mau diperas susunya, nahuus,
6.Unta yang takut dengan apapun, jafuul,
7.Unta yang sering kabur dan sulit ditangkap, syaruud,
8.Unta yang kegemukan karena banyak makan, raabikh,
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/palembang/foto/bank/originals/toto-haryanto.jpg)