Mimbar Jumat

Keindahan Bahasa Al-Qur’an

Al-Qur’an turun di tengah-tengah bangsa Arab yang –pada masa turunnya al-Qur’an, me­mi­liki budaya tutur kata tinggi.

Istimewa
DR.Toto Haryanto.Lc.MPd.I (Dosen Fakultas Ushuluddin UIN Raden Fatah Palembang, Pembimbing Haji dan Umroh Bersertifikat) 

SRIPOKU.COM - Al-Qur’an turun di tengah-tengah bangsa Arab yang –pada masa turunnya al-Qur’an, me­mi­liki budaya tutur kata tinggi. Syair-syair menghiasi percakapan mereka dan diperlombakan untuk menjadi kebanggaan setiap kabilah masing-masing.

Kemampuan mengungkapkan pe­rasaan dengan susunan kata-kata pilihan, kalimat-kalimat indah sarat makna seolah sudah melekat dengan kehidupan mereka. Sekalipun mereka adalah kaum yang ‘ummy’, kaum yang ti­dak pandai membaca dan menulis.

Beberapa minggu belakangan, para calon tamu Allah yang bakal menuju Baitullah untuk me­nunainya ibadah haji. lagi sibuk-sibuknya mempersiapkandiri dengan mengikuti menasik, baik yang secara mandiri maupun yang diselenggarakan KBIH. Satuhal yang tidak bi­sa diabaikann adalah memahami bahasa Arab –tempat Allah turun Al Quran melalui wah­yuNyakepada Rasulullah SAW.

Calon Jemaah Haji Palembang, Dites Kebugaran, Disuruh Lari 2 Keliling Putari Kambang Iwak

Soal Pembuatan Paspor Calon Jemaah Haji, Jemput Bola untuk Lansia

Secara umum, masyarakat Arab pra Islam dikenal dengan sebutan masyarakat jahiliyah (za­man kebodohan), namun “kebodohan” disini bukan lantaran mereka tidak memiliki budaya atau peradaban. Mereka disebut jahiliyah lantaran tidak memiliki panduan agama yang ber­da­sarkan kitab suci, ideologi tauhid yang dibawa oleh para nabi utusan Allah.

Terbukti, kita me­m­baca dalam sumber-sumber sejarah bagaimana kecakapan mereka dalam merangkai sya­ir-sya­ir, kemampuan mereka dalam berbisnis (tijaroh), kemahiran dalam berburu dan me­ngem­bala hewan ternak, keteguhan mereka dalam memelihara nilai-nilai keyakinan yang di­wa­riskan oleh para leluhur.

Jemaah haji mengeliling Kabah di Mekkah, Saudi Arabia.
Jemaah haji mengeliling Kabah di Mekkah, Saudi Arabia. (Associated Press/Mosa ab Elshamy)

Keistimewaan bahasa arab seoalah tidak terlihat, padahal kosakata dalam bahasa arab me­miliki makna yang luas, bahkan konon menurut pakar linguistik jumlah kosakata bahasa arab men­­capai 12 juta 300-an ribu. Contoh misalnya unta dalam bahasa Arab mempunyai ratusan ko­sakata untuk mengungkapkannya.

Unta secara umum disebut dengan Ibil, unta jantan Jamal, unta betina Naqah, unta pejantan yang kuat dho’il, unta pengangkut barang hafadh, unta yang minum air setelah dua hari sekali ghabbu, unta yang minum air setelah tiga hari sekali,rani’, unta yang minum air sehari se­kali, zhahir, unta yang minum sedikit air, qashrid, unta yang minum pagi sekali, sore sekali , ‘Arja, unta yang cepat haus, haafah atau milwaah, unta yang mencium bau air tapi sering ti­dak meminumnya, ‘ayuuf, unta yang tidak minum air agar mengalahkan rasa sakitnya, ma­qa­mih. Unta yang tidak mau minum bersama yang lain, tapi menunggu sepi, raquub Unta yang ter­buru-buru pergi ke telaga, miiraad, Unta yang kehausan, hiyaam, Unta pejantan yang siap ka­win, hiyaaj, Unta yang dibiarkan liar tanpa pemilik, haamil, Unta betina yang siap kawin, musayyar, mujassar, Unta betina diawal usia kehamilan, mu’asyar.

1.Unta betina yang anaknya mati dan merintih sepanjang waktu, kholuuj,

2.Unta betina yang anaknya mati, tapi langsung melupakannya, khofuut,

3.Unta betina yang menyusui anak unta yang bukan anaknya, mudhoyyaroh,

Halaman
123
Editor: Bejoroy
Sumber: Sriwijaya Post
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved