Bagaimana Memulihkan Diri Setelah Jadi Korban Perundungan?

Perilaku bullying atau perundungan bisa ditemui di mana saja dan masih sulit dihilangkan, walau seringkali berujung maut.

Editor: Bejoroy
seattletimes
Ilustrasi - Bullying bisa menyebabkan dampak serius terhadap kesehatan mental seseorang, bahkan sampai dewasa. Namun, bukan berarti ingatan menjadi korban bullying tidak bisa dihapus. 

SRIPOKU.COM , JAKARTA - Perilaku bullying atau perundungan bisa ditemui di mana saja dan masih sulit dihilangkan, walau seringkali berujung maut.

Bullying, seperti tercantum dalam situs Perserikatan Bangsa-Bangsa, didefinisikan sebagai perilaku disengaja dan agresif yang terjadi berulang terhadap korban, di mana ada ketidakseimbangan kekuatan yang nyata atau yang dirasakan, serta korban merasa rentan dan tidak berdaya untuk membela diri.

Bullying bisa menyebabkan dampak serius terhadap kesehatan mental seseorang, bahkan sampai dewasa. Namun, bukan berarti ingatan menjadi korban bullying tidak bisa dihapus.

Inilah 4 Cara Mencegah Jadi Korban Bullying di Media Sosial

Kasus Bullying & Virus Corona Ternyata Sudah Diramal Anak Indigo, Roy Kiyoshi Sebut Fakta Menakutkan

Sebagai bagian dari pemulihan setelah bullying, ada beberapa hal yang bisa dilakukan. Salah satunya adalah menerima kenyataan bahwa diri kita pernah menjadi korban bullying.

Hal itu diungkapkan oleh Perwakilan Komunitas anti-bullying "Sudah Dong", Adiyat Yori Rambe ketika ditemui seusai media briefing bersama TikTok di kawasan Kuningan, Jakarta Selatan, Selasa (11/2/2020).

Jangan lupa juga subscribe, like dan share channel Youtube Sripokutv di bawah ini:

Yori sendiri pernah menjadi korban bullying di masa sekolah. Namun, ia menyadari bahwa siklus bullying perlu diakhiri.

"Kita terima saja kenyatan kalau pernah di-bully. Itu menjadi poin di mana 'oh ya sudah saya pernah jadi korban bully". Cari caranya keluar, bukan makin hancur," ujarnya.

Cobalah terus membangun kepercayaan diri dan bergaul dengan orang-orang yang positif.

Pada banyak kasus, korban bullying kemudian menjadi pelaku bullying di kemudian hari. Situasi ini membuat siklus bullying terus berlangsung dari waktu ke waktu.

"Jadi ketika merasa pernah dibully balasnya bukan lewat bully lagi," tuturnya.

Kedua, cobalah memaafkan. Hal ini memang tidak mudah, namun dengan menerima dan memaafkan orang yang pernah menyakiti hati kita, hati akan terasa lebih tenang dan akan jauh dari perilaku bullying.

"Untuk lupa mungkin susah tapi untuk maaf rasanya mudah dan bisa," ucap dia.

Halaman
12
Sumber: Kompas.com
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved