Human Interest Story

Kapolres Bogor Wong Kito, Joni Berjibaku Bantu Korban Banjir

Wilayah Kabupaten Bogor dan Kabupaten Lebak masuk kawasan yang kena dampak cuaca ekstrem tahun baru 2020.

Tayang:
Penulis: Sutrisman | Editor: Soegeng Haryadi
DOK. SRIPO
Kapolres Bogor Wong Kito, Joni Berjibaku Bantu Korban Banjir 

CUACA ekstrem akhir tahun 2019 sampai awal tahun 2020, tanggal 1 Januari Jakarta dilanda banjir besar akibat curah hujan. Terdapat ruas jalan tol di tengah kota Jakarta tenggelam, dan menimbulkan kemacetan sampai keluar kota.

Sampai hari kesepuluh pasca-hujan lebat yang melanda wilayah Jakarta, Depok, Tangerang, Bekasi --termasuk Jawa Barat dan Banten, masih bekerja keras menangani pasca-bencana. Di Jakarta, tumpukan perlengkapan rumah tangga menjadi sampah tersebar di berbagai tempat.

Sampai kemarin (Rabu, 8/1) masih terdapat pemukiman penduduk di perbukitan Gunung Halimun dan Gunung Salak, wilayah Kabupaten Bogor (Jawa Barat) dan Lebak (Banten), masih terisolir akibat tanah longsor yang menutup akses di perbukitan. "Kita masih menerima laporan, dan terus berusaha memasok logistik untuk warga yang terisolir," kata Endang Muttaqin, relawan asal Palembang.

Wilayah Kabupaten Bogor dan Kabupaten Lebak masuk kawasan yang kena dampak cuaca ekstrem tahun baru 2020. Banjir bandang dan meluapnya sejumlah sungai, serta beberapa lokasi longsor.

Sulitnya medan di perbukitan kawan Taman Nasional Gunung Salak-Halimun, menuntut kerja keras aparat TNI dan Kepolisian serta, relawan. Berat medan akibat longsor, mulai mengkhawatirkan. Melewati sepekan pasca-bencana, memasuki masa krisis bagi korban yang selamat.

Diantara aparat yang harus bekerja keras adalah Kepala Kepolisian Resort (Kapolres) Bogor, AKBP Muhammad Joni SIK MSi. Perwira menengah lulusan Akademi Kepolisian (sebelumnya Akabri Kepolisian) tahun 1999 kelahiran Palembang ini, tenaga dan pikirannya terkuras.

Menjelang akhir tahun, ia harus konsentrasi menjaga kelancaran arus lalu-lintas dari dan menuju ke Bogor dan kawasan Puncak Bogor. Hujan deras sepanjang malam tahun baru, dan berbagai anak sungai di Bogor meluap, dan diantaranya banjir bandang dan tanah longsor di berbagai tempat.

Laporan media sosial yang kadang-kadang mendahului reportase media mainstream, menunjukkan aktivitas Kapolres Bogor Muhammad Joni, menembus cuaca buruk bersama stafnya. Ia dilaporkan berjalan kaki menembus lokasi bencana dan mencapai lokasi pos bantuan yang dikoordinas Badan Nasional Penanggulan Bencana dan Badan SAR Nasional.

Tugasnya bukan saja ditujukan bagi warga Kabupaten Bogor dan petugas bantuan, tetapi juga berkoordinasi dan memantau pergerakan relawan yang tersebar di wilayah tersebut. Termasuk memantau keamanan para relawan masuk daerah yang rawan bencana susulan.

Muhammad Joni lulusan SMA Negeri 3 Palembang tahun 1996 ini, pada hari Minggu (5/1) lalu, sejak pagi sudah menembus Desa Sukajaya (Kecatana Sukajaya, Bogor) karena Presiden Joko Widodo akan meninjau salah satu daerah yang dilanda longsor. Sejak pagi cuaca buruk, angin kencang, dan akhirnya helikopter yang ditumpangi rombongan Presiden, gagal mendarat.

Dua hari kemudian, Presiden dan rombongan tetap mengunjungi kecamatan tersebut, walaupun cuaca hujan dan angin kencang terus berlangsung. Sebagai aparat yang bertanggung jawab di wilayah Bogor, tentu saja AKBP Muhammad Joni yang baru bertugas sejak September 2019 sebagai Kapolres Bogor, harus menjaga keamanan wilayah itu.

Kondisi wilayah Kabupaten Bogor yang berhawa sejuk di musim panas, memang berada di dataran tinggi. Wilayah ini terdapat Gunung Gede, Pangraango, sampai Taman Nasional Gunung Salak dan Halimun, sehingga medan sulit ditembus. Joni harus berkoordinasi dengan relawan untuk memasok logistik, mengerahkan helikopter, paramotor (paralayang bermesin), komunitas geng-motor penggiat motor trail dan kendaraan ATV, tak sedikit harus ditembus lewat jalan kaki.

Sampai kemarin, menurut Engkin (panggilan akrab Endang Mutaqin) yang terus berkoordinasi di dengan Joni, masih memerlukan 60 relawan untuk mengirim bantuan logistik warga yang tersisolir. Sebagian relawan itu harus menembus lokasi dan membawa logistik secara estafet dengan berjalan kaki.

Belum selesai urusan penanganan korban bencana dan korban yang tertimbun, sejak kemarin dia harus menyiapkan acara penanaman pohon secara simbolis di di bantaran hulu Sungai Ciliwung. Penanaman pohon ini diharapkan mampu mengurangi bencana hidro-meteorologis secara alami, sekalipun wilayah Bogor berada dalam ruang paling sering dilanda petir, dan sekaligus berada di kawasan rawan bencana geologi. (tris)

Sumber: Sriwijaya Post
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved