Breaking News:

Wawancara Eksklusif

Hendra Yaninal Mahdal Soal Vonis Mati dari Majelis Hakim Ingat Vonis Ingat Keluarga Saya

Meski mengajukan banding, namun Hendra mengaku pasrah jika nanti hasilnya tak sesuai yang diinginkan.

SRIPOKU.COM/FAJERI RAMADHONI
Hendra Yainal Mahdal, tervonis hukuman mati dalam kasus peredaran 10 Kg Sabu saat ditemui usai sidang vonis dirinya di PNS Sekayu Muba, Selasa (11/12/19). 

TERPIDANA Hendra Yaninal Mahdal harus menerima vonis berat yang menimpanya akibat kasus peredaran narkoba jenis sabu seberat 10 kilogram. Pemuda asal Riau ini baru saja menerima putusan vonis hukuman mati dari majelis hakim pada sidang lanjutan kasus perkaranya di Pengadilan Negeri (PN) Sekayu, Rabu (11/12). Meski mengajukan banding, namun Hendra mengaku pasrah jika nanti hasilnya tak sesuai yang diinginkan. Bagaimana kisah Hendra menunggu vonis mati yang sudah di depan mata? simak wawancara oleh Sripo, Kamis (12/12).

Apa anda menyesal atas perbuatan terlarang ini?
Kalau ingat vonis kemarin, saya langsung teringat keluarga. Tentu saja ada perasaan bersalah dan menyesal. Apalagi mengingat nasib istri dan anak-anak saya yang mana paling kecil baru berusia 10 bulan dan si sulung masih duduk di bangku kelas 4 SD.

Walau ini masih bisa banding, tapi apa perasaan anda divonis mati?
Saya hanya sedih memikirkan keluarga. Jika saya tidak ada, bagaimana dengan mereka.

Jika nanti tetap vonis mati dan incrach, bagaimana?
Saya terima konsekuensinya. Jika boleh saya terima hukuman lain asalkan tidak hukuman mati.

Bagaimana reaksi keluarga setelah anda divonis mati, atau saat tahu kamu ditangkap edarkan narkoba?
Tanggapan istri saya pasrah dan pastinya sedih. Keluarga juga berharap lewat pengajuan banding nanti majelis hakim bisa mempertimbangkannya kembali. Minimal bisa lepas dari hukuman mati.

Apa tujuan anda ikut mengedarkan narkoba? Padahal tahu bahwa itu melanggar?
Penghasilan saya sebagai pekerja di kebun sawit memang belum tercukupi. Maka itu jalan pintaslah yang diambil, dengan berbisnis haram dan mengajak adik ipar saya yang semulanya tak tahu apa-apa. Awalnya hanya ikut-ikut saja dan langsung pakai sabu sekitar setahun lalu (2018). Berani terima pekerjaan ini karena upahnya lumayan besar, yakni Rp 10 juta.

Apa anda tahu bahwa pengedar dalam jumlah besar bisa dihukum mati?
Saya sudah tahu konsekuensinya, jika tertangkap pasti hukumannya berat. Namun semua itu terpaksa saya lakukan karena desakan ekonomi.

Apa pesan dan harapan anda dengan keluarga atas vonis hakim itu?
Jika memang tidak bisa, saya pasrah. Anak dan istri mungkin nanti akan diurus sama keluarga dan dari hasil kebun sawit sebelumnya.

Apakah ada perasaan takut bila nanti benar divonis mati?
Saat ini saya biasa saja. Karena memang dari awal sudah menduganya. Namun saya berharap ada keringanan saat banding. (fajeri ramadhoni)

Penulis: Fajeri Ramadhoni
Editor: Soegeng Haryadi
Sumber: Sriwijaya Post
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved