Human Interest Story

Sabar Meladeni Permintaan Selfie

MESKI empat tahun lagi usianya bakal genap setengah abad, salah satu legendaris pebulutangkis Indonesia, Yuni Kartika masih terlihat fresh

Penulis: Abdul Hafiz | Editor: Soegeng Haryadi
SRIPOKU.COM/ABDUL HAFIZ
Yuni Kartika yang masih terlihat fresh supel dan ramah ketika menjadi Panitia Humas dan Media Center Gubernur Sumsel Kejurnas PBSI 2019 yang akan berlangsung 24-28 November 2019 di Palembang. 

MESKI empat tahun lagi usianya bakal genap setengah abad, salah satu legendaris pebulutangkis Indonesia, Yuni Kartika masih terlihat fresh, supel dan ramah. Kini dia pun menjadi Kepala Bidang Humas dan Media Gubernur Sumsel Kejurnas PBSI 2019 yang berlangsung hingga 28 November 2019 di GOR Dempo dan GOR Ranau Komplek JSC.

Wanita kelahiran Semarang, Jawa Tengah,16 Juni 1973 berambut pendek warna pirang dan berkacamata ini tampil supel membawakan acara presscon di Wisma Alet JSC dan menghadiri welcome dinner di Griya Agung. Bagi insan badminton sudah tak asing lagi dengan Yuni yang dikenal sebagai salah satu atlet binaan PB Djarum, mencuat setelah menjadi juara pada kejuaraan Jerman Terbuka Junior di tahun 1990.

Ibu tiga anak buah pernikahannya dengan wiraswastawan asli Padang, Harun Kurniawan ini menjadi juara di Kejuaraan Dunia Yunior di tahun 1990. Yuni dianggap penerus Susy Susanti. Prestasi terbaiknya saat turut menyumbang Piala Uber. Dan medali perak Asian Games, Hiroshima 1994.

Ia merupakan atlet hasil binaan PB Djarum. Dalam kariernya, ia bersama anggota tim menjuarai Piala Uber 1994. Ia juga dikenal sang bintang layar kaca lantaran didaulat menjadi komentator di setiap tayangan bulutangkis di televisi.

"Departemen saya itu pegang Media Center. Saya ngurusin media sekaligus memberikan informasi yang diperlukan oleh media. Sekaligus menjadi juru bicara untuk kejuaraan ini. Yang terkait dengan Kejurnas ini," ungkap Yuni ketika dibincangi Sripo usai welcome dinner sekaligus pembukaan Gubernur Sumsel Kejurnas PBSI 2019 di Griya Agung, Sabtu (23/11/2019) malam.

Meski acara sudah mulai bubaran, dia tetap sabar seraya mengumbar senyuman harus sabar meladeni antrean permintaan banyak atlet, pengurus dan insan bulutangkis antusias mengajak foto bareng. "Ya senanglah banyak yang minta foto bareng. Tapi saya merasa itu profesi yang harus dijalani. Jadi saya sudah siap dengan konsekuensinya. Kalau kita lagi santai gak apa-apa mas. Kadang-kadang kita lagi buru-buru, tapi orang narik-narik. Kadang-kadang gimana gitu. Tapi kalau lagi nyantai kayak begini sih gak masalah," kata Yuni Kartika.

Ketika diminta pandangannya tentang perkembangan perbulutangkisan tanah air, Yuni Kartika menyebut persaingan bulutangkis saat ini lebih berat karena memang negara lain maju perkembangannya. "Tapi Indonesia tetap punya sektor yang diandalkan di ganda putra. Terus di ganda campuran, kita masih punya suaralah. Kita berharap yang ganda putra bisa konsisten. Ganda campuran setelah gak ada Butet, ada lagi juara baru.

Terus kalau untuk tunggal putra kan masih ada Jojo (Jonatan Christie) dan Ginting (Anthony Sinisuka Ginting). Kita berharap rangkingnya bisa naik lagi. Kalau tunggal putri memang butuh kerja keraslah untuk Indonesia," kata Yuni yang bekerja sebagai corporate communication di PB Djarum dan komentator. Untuk perbulutangkisan di Sumsel sendiri, Yuni Kartika menyebut sudah banyak pemain berbakat yang muncul seperti Mohammad Ahsan dan Debby Susanto.

"Saya kalau melihat Palembang secara spesifik, saya merasa ini banyak pemain berbakat. Kan udah ada Ahsan, udah ada Debby. Bibit ada di sini. Cuma memang yang menjadi konsen adalah pembinaan di luar Jawa. Ini yang harus lebih ditingkatkan. Karena pembinaan lebih centralise di Jawa. Kalau di luar Jawa misal lebih baik ya seperti Jakabaring ini punya fasilitas, punya tempat nah ini harusnya bisa dijadikan satu sport center untuk Timnas atau bagaimana nih. Memang harus dipikirkan ke depan supaya bisa terjadi seperti itu," kata Yuni.

Mohammad Ahsan sendiri kelahiran Palembang, 9 Juli 1987 salah satu pemain bulutangkis Ganda Putra Indonesia yang berpasangan dengan Hendra Setiawan. Sedangkan Debby Susanto kelahiran Palembang, 3 Mei 1989, salah satu pemain bulutangkis Ganda Campuran Indonesia yang berpasangan dengan Muhammad Rijal. Tournament Pertama yang Ia ikuti untuk mewakili Indonesia yaitu World Junior Championship 2006 di Korea.

Yuni juga mengapresiasi jika dulu pembinaan bukutangkis di Sumsel sempat ada Pusdiklat Bulutangkis yang dibina oleh PT Pusri Palembang. "Bagus dengan adanya Pusdiklat itu memperkuat bulutangkis di provinsi masing-masing. Saya lihat nih Ketua Pengprov PBSI Sumsel Pak Amrullah punya satu keinginan yang besar untuk kemajuan badminton. Saya lihat timnya tadi pake baju kaos tulisan Semen Baturaja, kan disponsori. Memang kemajuannya harus di situ. Kita gak bisa bilang bulutangkis bisa berjalan sendiri. Gak mungkin harus ada sponsor, harus ada donatur yang mensupport," kata pemilik paras cantik.

Yuni Kartika tak bosan mengingatkan sekaligus berbagi tips untuk atlet bulutangkis saat ini agar bisa menjadi atlet hebat. "Semua kalau mau jadi hebat harus fokus, kerja keras. Bohong kalau bulutangkis gak fokus, gak kerja keras. Itu harus komitmen yang tidak boleh ditinggalkan. Semua pemain punya bakat betul. Tapi kalau tanpa disiplin, kerja keras, dan fokus dalam dunia badminton, ya sulit untuk menjadi juara. Kan juara tuh cuma satu dari sekian banyak orang. Jadi kita harus lebih baik di segala sektor," katanya.

Setelah tak lagi mengayunkan raket, ia memutuskan untuk kuliah di salah satu perguruan tinggi di Jakarta dan mengurus rumah tangga. Ditanya soal bagi waktu untuk keluarga, diakui sempat merasakan cukup sulit berbagi waktu bekerja seperti saat ini memiliki 3 anak dan harus dijalaninya dan memegang komitmen. (Abdul Hafiz)

Sumber: Sriwijaya Post
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved