Semua Tergantung Niat
“Pokoknya, semua tergantung niat”, “yang penting, niat saya baik, kok” atau “hati-hati, mungkin dia berniat tidak baik”.
Dulu, di masa jahiliyah, symbol kebangsawanan seseorang dapat dilihat dari penampilannya.
Semakin panjang ukuran gamisnya, maka hal itu semakin menunjukkan tingkat kebangsawanannya.
Tidak heran bila mereka saling berlomba memperpanjang ukuran gamisnya, hingga menutupi seluruh kaki bahkan menjulur sampai ke belakang.
Tradisi inilah yang kemudian menjadi sebab dilarangnya “isbal”, memanjangkan kain atau pakaian hingga menutupi kedua mata kaki. Kata Rasul Saw “Apa yang tertutupi di bawah mata kaki adalah di neraka”.
Abu Bakar ra. yang gamisnya menutupi kedua mata kaki bertanya : “Bagaimana dengan aku, ya Rasulallah?”.
Lalu beliau menjelaskan bahwa yang dilarang itu adalah “isbal” yang melahirkan kesombongan seperti tradisi kaum bangsawan jahiliyah.
Adapun Abu Bakar ra, tidak ada keangkuhan dan kesombongan sedikitpun dalam hatinya.
Dengan demikian, larangan atau kebolehan isbal ternyata sangat tergantung pada tujuan dan niatnya.
Ketika menjelaskan tentang urgensi niat, Rasulullah SAW memberikan beberapa contoh kasus, antara lain hijrah dan jihad.
Mengapa hijrah?, Sebab kala itu hijrah merupakan acuan standar iman seseorang.
Hijrah adalah sebuah perintah Tuhan yang membutuhkan pengorbanan tidak kecil.
Bukan hanya pengorbanan fisik dan materi, tetapi juga psikis, emosi bahkan nyawa. Begitu pula dengan jihad yang resikonya adalah antara hidup atau mati.
Melalui hijrah dan jihad akan terlihat jelas siapa yang benar-benar beriman dan siapa imannya abal-abal.
Oleh karena itu, hijrah dan jihad merupakan bentuk ketaatan yang bernilai tinggi di sisi Tuhan.
Tidak tanggung-tanggung, Tuhan langsung menjanjikan jaminan surga dan kenikmatan akhirat yang paling utama.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/palembang/foto/bank/originals/yanto1.jpg)