Kuswanto Sempat 10 Menit Kecoh Harimau

Pria yang kesehariannya sebagai petani kopi ini tewas setelah diterkam atau dicakar dan digigit Harimau Sumatera.

Tayang:
Editor: Soegeng Haryadi
SRIPOKU.COM/EHDI AMIN
Kuswanto, warga Lahat saat mendapat pertolongan dari warga. 

LAHAT, SRIPO -- Kepastian Kuswanto (48) warga Desa Pulau Panas, Kecamatan Tanjung Sakti, Kabupaten Lahat tewas akibat diserang binatang buas akhirnya terungkap. BKSDA SKW II Lahat memastikan Kuswanto tewas diserang oleh Harimau Sumatera (Panthera tigris sumatrae), hal ini juga meluruskan informasi awal bahwa korban diterkam Macan Dahan.

Pria yang kesehariannya sebagai petani kopi ini tewas setelah diterkam atau dicakar dan digigit Harimau Sumatera.

Kepala BKSDA II Lahat, Martialis, mengungkapkan setelah hasil penelusuran dan meminta keterangan sejumlah saksi-saksi.

Jika hewan buas yang awalnya diduga macan dahan dipastikan bukan jenis hewan tersebut, melainkan Harimau Sumatera yang terkam Kuswanto.

Keterangan saksi mengungkap bahwa binatang buas tersebut berwarna putih dan bercorak kuning hitam pada sebagian bahunya.

Selain itu, dari hasil penelusuran lokasi kebun korban memang berada dalam kawasan hutan lindung dengan demikian besar kemungkinan yang menerkam Kuswanto adalah Harimau Sumatera.

"Pasca kejadian tim kita langsung turun untuk mencari informasi awal dari Kades, jika hewan yang menerkam Kuswanto awalnya coraknya kotak-kotak sehingga dimungkinkan macan dahan. Namun setelah kita dalami dari saksi atas apa yang ia lihat maka hewan tersebut Harimau Sumatera," ungkapnya.

Sisi lain kecendrungan macan dahan sangat menghindari bertemu apalagi kontak fisik dengan manusia jika tidak terdesak.

Disisi lain, munculnya harimau sumatera tersebut diduga dari hutan lindung (HL) Gunung Patah, yang satu kawasan dengan wilayah areal perkebunan warga Desa Pulau Panas.

"Kita sudah pelajari dari keberadaan wilayah dimana ada dua titik potensi dari mana datangnya harimau tersebut. Jika ke kanan itu menuju ke HL Gunung Dempo namun ke kiri itu HL kawasan Gunung Patah. Namun jika melihat kedekatan kawasan harimau tersebut datang dari HL gunung patah," terang Martialis.

Peristiwa tragis tersebut bermula saat Kuswanto bersama Dedi (32) warga dengan alamat yang sama menebang pohon di kebun kopi milik korban.

Keduanya seketika terkejut saat seekor harimau mendekat dan seketika menyerang.

Hasil informasi yang didapat dari saksi, sesaat sebelum hewan buas berwarna putih dan bercorak kuning hitam pada sebagian bahunya tersebut menerkam.

Kedua korban melihatnya dari jarak sekitar empat meter.

Melihat bahaya mengancam, keduanya lantas berupaya menyelamatkan diri dengan cara mengalihkan perhatian satwa yang dilindungi tersebut dengam cara berputar menuju arah lain. Penyelamatan diri sempat berhasil dilakukan keduanya selama 10 menit.

Namun, harimau terus mengikuti korban.

Lantaran terus mendekat dan harimau sempat naik ke tas korban yang diletakkan diatas pohon tak jauh dari lokasi potongan kayu.

Korban Kuswanto, kembali berusaha mengusir harimau dengan kayu.

Namun nahas, saat korban Kuswanto akan turun atau menjauh dari harimau, ia diterkam dengan dicakar dibagian atas pinggang kiri dan kanan serta digigit pada bagian leher.

Melihat rekanya diserang, Dedi terus meencari pertolongan warga untuk mengevakuasi korban dan mengusir harimau tersebut.

Wargapun mendapati Kuswanto, sudah tak bernyawa lagi. Wargapun membawa korban ke kediamannya di Desa Pulau Panas.

"Ya korban sedang menebang pohon. Tak disangka harimau datang dan menyerang, "ungkap Kepala Desa Pulau Panas, Sumadi, Minggu (17/11).

Dikatakan Sumadi, warganya baru pertama kali melihat hewan buas tersebut.

Atas kejadian itu, warga mulai khawatir untuk kembali beraktifitas ke kebun lantaran ditakutkan harimau masih berkeliaran.

Ia juga mengimbau agar warga tidak beraktifitas di kebun dahulu. "Keluarga terpukul meski demikian ini musibah," ujarnya.

Ditambahkanya saat ini tim sudah turun termasuk untuk memantau situasi.

"Kemungkinan hewan itu bergerak. Namun, jika memang masih ditemukan akan dilakukan evakuasi. Kita berharap warga untuk menunda dahulu melakukan aktifitas di kawasan tersebut dan segera melapor jika kembali melihat," imbaunya.

Kapolres Lahat, AKBP Ferry Harahap, SIK melalui Kapolsek Tanjung Sakti, Iptu Romadhon membenarkan kejadian tersebut.

Menurutnya korban sudah dikediamannya selanjut proses pemakaman.

Menurutnya, akibat kejadian tersebut korban mengalami luka robek dibagian leher. "Ya kita imbau warga tidak ke kebun dahulu. Untuk menghindari terjadi serangan harimau kembali, "ujarnya.

Status Dempo Normal
Beberapa hari belakangan ini hewan buas yang berpopulasi dikawasan Gunung Dempo mulai turun Gunung. Bahkan warga dan wisatawan melihat langsung kemunculan Harimau Gunung yang mulai berkeliaran dikawasan kebun teh.

Tidak hanya itu, hewan buas ini mulai memakan korban dengan telah adanya korban yang diterkam yaitu Erfan (19) warga Sekayu yang mengalami luka robek akibat dicakar saat berkemah di Tugu Rimau. Bahkan hari ini, Minggu (17/11/2019) warga Desa Pulau Panas Kecamatan Tanjung Sakti PUMI Kuswanto (48) tewas akibat diterkam harimau saat berada dikebun miliknya.

Banyaknya hewan buas yang berpopulasi di Gunung Dempo mulai turun ini membuat warga disekitar kaki Gunung Dempo khawatir. Bukan saja takut diserang binatang buas namun takut dengan kondisi GAD saat ini.

Ismanto (57) salah seorang warga Pagaralam mengatakan, masyarakat Pagaralam dan sekitarnya bukan saja takut dengan Harimau yang mulai turun. Namun masyarakat lebih takut dengan apa penyebab mulai turunnya hewan buas teraebut.

"Berdasarkan cerita nenek kami dulu, jika Harimau atau Nenek Gunung ini sudah turun maka akan ada hal buruk yang terjadi di Gunung Dempo tersebut," katanya.

Masyarakat takut jika hal ini merupakan pertanda akan ada bencana yang disebabkan oleh Gunung Api Dempo (GAD).

"Kami takut Gunung Api Dempo meletus dek. Karena jika binatang mulai turun ini pertanda Gunung mulai panas," ujarnya.

Menanggapi hal ini, Petugas Pos Pemantau Gunung Api Dempo, Megi menjelaskan, bahwa sampai saat ini kondisi GAD masih normal. Bahkan dalam satu bulan terakhir ini tidak ada aktivitas berlebihan dari GAD.

"Saat ini Status GAD masih aktif Normal. Bahkan berdasarkan rekaman alat Siesmograf di Pos GAD hanya tercatat getaran dari aktivitas hembusan di GAD. Selain itu ada aktivitas gempaan vukanik jauh. Namun hal ini tidak membahayakan," jelasnya.

Ditegaskan Megi, diharapkan masyarakat tidak terlalu khawatir akan kondisi GAD. Pasalnya saat ini kondisi GAD aktif normal. (ehdi/one)

Sumber: Sriwijaya Post
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved