Sungai Musi Surga Benda Kuno

Temuan benda itu diperkirakan karena banyak orang zaman dahulu dari berbagai periode membuang dengan sengaja ataupun tidak.

Penulis: Odi Aria Saputra | Editor: Soegeng Haryadi
SRIPO/SYAHRUL HIDAYAT
Aktivitas penyelaman ke dasar Sungai Musi oleh sejumlah warga hingga kini masih terlihat, Kalau dulu para orangtua dan dewasa kini telah beralih ke generasi muda. Para penyelam tradisional ini mendapatkan julukan Aqua Man Sungai Musi. Seperti yang telah dilakukan penyelam terdahulu, mereka dibekali kompresor udara dan masker selam Kedalaman Sungai Musi sekitar 25 meter ini tidak menjadi penghalang para Aqua Man Musi ini.Lama di dasar Sungai Musi bisa mencapai 2,5 jam bahkan 3 jam. Gambar diabadi 

PALEMBANG, SRIPO -- Banyaknya temuan benda kuno dan antik di dasar Sungai Musi diakui oleh sejarawan Palembang, Kemas Ari Panji. Menurutnya itu bukanlah hal yang mengherankan, sebab sungai yang membelah Kota Palembang sudah ada sejak zaman dahulu kala.

Sungai Musi menjadi saksi sejarah berbagai peradaban mulai dari Pra Sriwijaya, Kerajaan Sriwijaya, Kesultanan Palembang Darussalam, kolonial sampai masa kini. Maka itu, tidak mengherankan jika Sungai Musi menjadi surganya benda kuno.

"Sungai Musi sudah melewati beberapa periode. Jadi tidak heran banyak ditemukan benda kuno dan antik," ujarnya, Kamis (14/11).

Menurutnya, wajar saja jika penyelam banyak menemukan benda kuno atau antik. Temuan benda itu diperkirakan karena banyak orang zaman dahulu dari berbagai periode membuang dengan sengaja ataupun tidak benda-benda berharga ke Sungai Musi.

"Jadi barang temuan itu dari berbagai zaman. Misal temuan patung Budha, keramik, guci Sriwijaya, atau koin-koin dari zaman kesultanan," jelas Kemas.

Kemas pun mengaku sangat prihatin dengan pemerintah setempat yang kurang perhatian terhadap benda-benda bersejarah tersebut. Sehingga banyak temuan dari para pemburu harta karun dijual ke luar Sumsel.

Pemerintah selaku pemilik wilayah seharusnya merangkul para penyelam tradisional bukan malah membiarkan ataupun melarang profesi mereka. Karena kurang perhatian dari pemerintah itulah penyelam lebih memilih menjual ke para kolektor.

"Seharusnya pemerintah itu rangkul mereka, ajak bekerja sebagai profesional penyelam. Jadi barang-barang yang ditemukan itu bisa jadi milik pemerintah tidak dijual ke luar lagi," harapnya. (oca)

Sumber: Sriwijaya Post
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved