Penyelam Bisa Terkena Dekompresi

Penyakit dekompresi adalah gangguan yang biasanya dialami oleh penyelam, dengan gejala berupa pusing, tubuh terasa lemas, hingga sesak napas.

Penulis: Odi Aria Saputra | Editor: Soegeng Haryadi
SRIPO/SYAHRUL HIDAYAT
Aktivitas penyelaman ke dasar Sungai Musi oleh sejumlah warga hingga kini masih terlihat, Kalau dulu para orangtua dan dewasa kini telah beralih ke generasi muda. Para penyelam tradisional ini mendapatkan julukan Aqua Man Sungai Musi. Seperti yang telah dilakukan penyelam terdahulu, mereka dibekali kompresor udara dan masker selam Kedalaman Sungai Musi sekitar 25 meter ini tidak menjadi penghalang para Aqua Man Musi ini.Lama di dasar Sungai Musi bisa mencapai 2,5 jam bahkan 3 jam. Gambar diabadi 

PALEMBANG, SRIPO -- Ketua Persatuan Olahraga Selam Seluruh Indonesia (POSSI) Palembang, Deven Hanyeken mengungkapkan, metode menyelam dengan alat tradisional hingga berjam-jam di dasar Sungai Musi oleh pemburu harta karun, bisa menimbulkan penyakit dekompresi terhadap si penyelam.

Penyakit dekompresi adalah gangguan yang biasanya dialami oleh penyelam, dengan gejala berupa pusing, tubuh terasa lemas, hingga sesak napas.

Kondisi ini muncul ketika tubuh merasakan perubahan tekanan air atau udara yang terlalu cepat, sehingga nitrogen dalam darah membentuk gelembung yang menyumbat pembuluh darah dan jaringan organ.

"Selama menyelam kita harus pintar mengatur tekanan air. Dampak paling berbahaya dari dekompresi ini bisa sampai meninggal dunia," ujarnya, Rabu (13/11).

Ia menjelaskan, penyakit dekompresi merupakan dampak perubahan tekanan, baik air atau udara, yang terjadi terlalu cepat. Misalnya ketika menyelam, penyakit dekompresi akan muncul jika proses kembali menuju ke permukaan tidak dilakukan secara bertahap, atau tanpa menerapkan safety stop (berhenti beberapa menit di kedalaman tertentu sesuai aturan dasar keselamatan menyelam.

"Kalau orang biasa nyelam pasti merasakan ada perbedaan tekanan. Jadi ketika menyelam harus ada jedah beberapa meter sebelum langsung naik ke atas," jelas Deven.

Menurutnya, metode menyelam para pemburu harta karun sama saja dengan para penyelam profesional. Hanya saja alat yang digunakan masih terbilang tradisional.

Para penyelam pemburu harta karun hendaknya harus memperhatikan arus dan jarak pandang ketika turun menyelam. Jarak pandang merupakan hal terpenting dalam menyelam agar terhindar dari kecelakaan di dasar sungai.

"Tidak bisa menyelam itu hanya meraba-raba saja. Kalau penyelam profesional harus lihat arus dan jarak pandang," ungkapnya. (oca)

Sumber: Sriwijaya Post
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved