Wawancara Eksklusif

Kata Mantan Diambil dari Bahasa Basemah

Sumpah tersebut mengikrarkan secara langsung cita-cita negara ini dari segi tanah air, bangsa dan bahasa Indonesia.

Kata Mantan Diambil dari Bahasa Basemah
SRIPOKU.COM/YANDI TRIANSYAH
Linny Oktovianny, peneliti bahasa 

TEPAT hari ini 91 tahun lalu, bahasa Indonesia lahir, bertepatan momen sumpah pemuda. Penggunaan bahasa Indonesia sebagai bahasa rakyat Indonesia juga tidak terlepas dari peran beberapa perwakilan pemuda di Nusantara yang berkumpul pada tahun 28 Oktober 1928 yang melahirkan Sumpah Pemuda.

Sumpah tersebut mengikrarkan secara langsung cita-cita negara ini dari segi tanah air, bangsa dan bahasa Indonesia.

Bagaimana nasib bahasa Indonesia setelah 91 tahun berlalu ? Berikut petikan wawancara khusus Linny Oktovianny Peneliti Bahasa, Balai Bahasa Sumatera Selatan, Senin (28/10).

Bisa diceritakan secara singkat sejarah bahasa Indonesia ?
Sumpah pemuda ini lahir akibat sekumpulan pemuda pelajar Indonesia, membuat ikrar bersama yang tertuang dalam tiga butir sumpah pemuda.
Butir pertama dan kedua merupakan kata kerja verbal yang mengaku, butir ketiga merupakan kata kerja juga tetapi ada unsur menjunjung yaitu menjunjung persatuan melalui bahasa Indonesia. Artinya menempatkan bahasa Indonesia di atas bahasa daerah dan asing.

Apa makna bahasa Indonesia bagi kita bangsa Indonesia ?
Sebagai negara kesatuan republik Indonesia yang terdiri dari beberapa etnis dan 744 bahasa daerah dan berbagai macam suku. Apa yang bisa menyatukan itu semua yakni bahasa Indonesia, bahasa pemersatu bangsa.

Bagaimana perkembangan bahasa Indonesia saat ini ?
Perkembangan bahasa Indonesia begitu pesat. Karena juga diperkaya oleh bahasa daerah. Misalnya kata mantan diambil dari bahasa Besemah yaitu bekas. Memang ada konsep kata bekas untuk menyatakan makna tersebut. Tetapi pengunaan kata mantan lebih tepat untuk orang sedangkan bekas dipergunakan untuk barang atau benda. Sedangkan dari bahasa asing amputasi misalnya, yang bearti pemotongan, ada konsep lain dari kata ini yakni mutilasi memiliki makna sama. Tapi amputasi digunakan akibat suatu penyakit sedangkan mutilasi ada unsur kejahatan.

Lalu bagaimana remaja pemuda kita saat ini dalam menggunakan bahasa Indonesia ?
Saya melihatnya ada campur baur dalam penggunaan bahasa daerah, bahasa asing, gaul dengan bahasa Indonesia. Kondisi ini perlu penanganan yang kongkrit. Sebenarnya dalam komunikasi biasa tak masalah pengunaan bahasa tadi. Tapi kalau di forum resmi dan menulis karya ilmiah menggunakan bahasa Indonesia yang baik. Karena sesuai dengan UUD 1945 dan UU nomor 24 tahun 2009.

Kenapa kondisi campur baur ini bisa terjadi ?
Karena bahasa Indonesia dianggap lazim dan sudah biasa, sehingga sering kali terjadi kekeliruan dalam bahasa.

Apa upaya atau solusi supaya kondisi tadi tidak terjadi ?
Upaya kita yang harus dilakukan yakni gerakan cinta bahasa Indonesia. Gerakan ini harus kita mulai dari diri sendiri dalam penggunaannya sesuai kondisi.

Seperti apa bahasa Indonesia baik dan benar itu ?
Bahasa Indonesia yang baik itu adalah situasi dan kondisi sedangkan bahasa benar itu adalah sesuai dengan kaidah yang dikandung.

Bagaimana kaidah kaidah yang benar itu ?
Ya, kita sering kali keliru dalam kaidah bahasa. Misalnya papan nama di sekolah, kerap kali nama jalan disingkat dengan JL seharusnya kalau mau disingkat yang benar adalah JLN. Tapi seharusnya penamaan jalan di papan nama sekolah harus ditulis lengkap.

Bagaimana nasib bahasa Indonesia kedepannya ?
Peluang bahasa Indonesia diperkaya oleh bahasa daerah dan asing akan terus terjadi. Apalagi ada ilmu pengetahuan dan teknologi dan bahasa Indonesia akan terus berkembang. (axl)

Penulis: Yandi Triansyah
Editor: Soegeng Haryadi
Sumber: Sriwijaya Post
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved