Napak Tilas Peninggalan Kerajaan Sriwijaya di Bukit Seguntang, Menelusuri 7 Makam Anggota Kerajaan
Napak Tilas Peninggalan Kerajaan Sriwijaya di Bukit Siguntang, Menelusuri 7 Makam Anggota Kerajaan
Penulis: Tria Agustina | Editor: Sudarwan
Dulunya, berwisata di Bukit Siguntang, pengunjung disuguhkan beragam gazebo dan beberapa ruangan berisi makam-makam.
Ada juga beberapa menara, seperti Menara Pandang, Menara Buddha, aquarium, hingga situs Kerajaan Sriwijaya.
Namun sejak pertengahan 2016, wisata itu ditutup karena proses pemugaran besar-besaran oleh pemerintah pusat, mengubah drastis wajah Bukit Siguntang Palembang jadi lebih modern.
Barulah pada Februari 2019, Bukit Siguntang Palembang kembali dibuka dengan tarif masuk Rp 3.000 per orang. Kendaraan roda dua dikenakan biaya masuk Rp 1.500 dan kendaraan roda empat sebesar Rp 3.000.
Banyak perubahan yang terjadi, terlihat di kantor informasi Bukit Siguntang Palembang yang lebih layak. Ada juga kedai kopi, mushola, dan toilet yang lebih bersih.
• Bagikan Makanan untuk Pengemis Jalanan, Betrand Peto Akui Tiru Ayah, Ini Reaksi Ruben Onsu
• Kritik Persija Tiga Kali Ganti Pelatih, Robert Rene Alberts: Itu Rekor Dunia
• Dana Karhutla Belum Cair, Pangdam: Cari Utangan Dulu

Menyusuri sejarah
Kalian bisa mengunjungi galeri sejarah dan patung yang tersedia di bagian bawah Bukit Siguntang Palembang.
Sayangnya, ruang galeri ini belum dibuka, karena pemugaran belum diresmikan Dinas Budaya dan Pariwisata Sumsel.
Lalu, tujuh makam yang terpisah-pisah, kini sudah dinaungi oleh atap dan tanpa sekat.
Ada tujuh makam yang terawat rapi tersebut, yaitu makam Raja Sigentar Alam, Puteri Rambut Selako, Pangeran Batu Api, Pangeran Djunjungan, Puteri Kembang Dadar, Pangeran Bagus Karang, dan Pangeran Bagus Kuning.
Berdasarkan sejarah, Raja Sigentar Alam merupakan kakak kandung Datuk Sultan Iskandar atau lebih dikenal dengan nama Raja Parameswara dari Selat Malaka.
Raja Parameswara merupakan raja terakhir Singapura tahun 1389-1398.

Turis mancanegara yang sering datang dan berziarah ke makam di Bukit Siguntang Palembang berasal dari negara Malaysia, Tiongkok, Singapura, dan Thailand.
Mereka percaya bahwa Raja Sigentar Alam merupakan nenek moyangnya.
Bahkan pada perayaan Waisak setiap tahunnya, turis mancanegara dari Tiongkok sering menggelar ritual sembahyang di Bukit Siguntang Palembang, dengan menelusuri makam-makam tersebut.