Badai Tropis Neoguri dan Bualoi Pengaruhi Intensitas Hujan

BMKG Sumsel mencatat adanya Badai Tropis Neoguri dan Bualoi di Samudera Hindia mengakibatkan adanya penarikan massa udara ke pusat badai tropis.

Badai Tropis Neoguri dan Bualoi Pengaruhi Intensitas Hujan
SRIPOKU.COM/SYAHRUL HIDAYAT
Salah satu pilar Jembatan Ampera terlihat samar lantaran tertutup kabut asap yang pekat. 

PALEMBANG, SRIPO -- Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Sumsel mencatat adanya Badai Tropis Neoguri dan Bualoi di Samudera Hindia mengakibatkan adanya penarikan massa udara ke pusat badai tropis tersebut. Hal ini mengakibatkan adanya potensi penurunan intensitas hujan selama tiga hari ke depan (22-24 Oktober 2019) di wilayah Sumsel.

"Kemudian berpotensi peningkatan intensitas asap. Sedangkan secara lokal, kondisi hujan akibat faktor lokal (awan konvektif dan orografis) akan tetap berpotensi di wilayah bagian barat Sumsel dikarenakan kelembapan udara lapisan atas cukup memadai untuk pertumbuhan awan dan berdataran tinggi, biasanya hujan yang terjadi berlangsung sebentar, sporadis (berbeda tiap tempat) dan berpotensi petir disertai angin kencang," ujar Bambang Beni Setiadji, Kasi Observasi dan Informasi BMKG Sumsel, Senin (21/10/2019)

Lanjut Beni, berdasarkan analisa angin permukaan yang tercatat di BMKG Stasiun Meteorologi SMB II Palembang umumnya dari arah Timur–Tenggara dengan kecepatan 5-20 Knot (9-37 Km/Jam) mengakibatkan potensi masuknya asap akibat Karhutbunla ke wilayah Kota Palembang dan sekitarnya.

Sumber dari LAPAN Tanggal 21 Oktober 2019 tercatat beberapa titik panas di wilayah sebelah Tenggara Kota Palembang dengan tingkat kepercayaan di atas 80 persen yang berkontribusi asap ke wilayah Kota Palembang yakni pada wilayah Banyu Asin 1, Pampangan, Pedamaran, Tulung Selapan, Cengal, Lempung dan Pematang Panggang. Intensitas Asap (Smoke) umumnya meningkat pada pagi hari (04.00-08.00 WIB) dan sore hari (16.00-20.00 WIB) dikarenakan labilitas udara yang stabil (tidak ada massa udara naik) pada waktu-waktu tersebut.

"Fenomena Asap sendiri diindikasikan dengan kelembapan yang rendah dengan partikel-partikel kering di udara, mengurangi jarak pandang, beraroma khas, perih di mata, mengganggu pernafasan dan matahari terlihat berwarna oranye/merah pada pagi/sore hari, hal ini berpotensi memburuk jika adanya campuran kelembapan yang tinggi (partikel basah/uap air) sehingga membentuk fenomena Kabut Asap (Smog) yang umumnya terjadi pada pagi hari," jelasnya.

Jarak pandang terendah pada pagi hari 21 Oktober 2019 berkisar hanya 600-900 m dari jam 06.00-07.30 WIB dengan Kelembapan pada saat itu 91-90 persen dengan keadaan cuaca Asap (Smoke) yang berdampak pada 13 penerbangan di Bandara SMB II Palembang mengalami delay (tertunda).

"Kondisi Asap masih tetap berpotensi terjadi di Sumsel dikarenakan wilayah-wilayah yang memiliki jumlah titik panas yang signifikan belum terpapar hujan yang cukup mengingat luas dan dalamnya lahan gambut yang terbakar," jelasnya. (cr26)

Penulis: Rahmaliyah
Editor: Soegeng Haryadi
Sumber: Sriwijaya Post
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved