Kecanduan Main HP, Anak SMP Masuk RS Jiwa

HP kan bisa connect internet, bisa buka untuk rumas pelajaran, mengaji.

Kecanduan Main HP, Anak SMP Masuk RS Jiwa
ISTIMEWA
Ilustrasi 

PALEMBANG, SRIPO -- Kalau beberapa tahun terakhir, Rumah Sakit Jiwa Provinsi Jawa Barat di Cisarua, Kabupaten Bandung Barat (KBB) menerima pasien anak yang termasuk pada orang dengan masalah kejiwaan (ODMK). Masalah kejiwaan yang dialami anak-anak ini disebabkan penggunaan handphone atau gawai secara berlebihan. Ternyata di RS Jiwa Ernaldi Bahar (RS Erba) Palembang juga menangani anak yang kecanduan HP.

"Kecanduan HP karena video porno itu baru satu orang. Sekitar Agustus-September lalu. Pernah ada pasien cowok kelas 1 SMP, kecanduan HP/video porno. Rawat jalan saja," ungkap Kepala Instalasi Humas dan Layanan Pengaduan Rumah Sakit Ernaldi Bahar, Iwan Andhyantoro SKM MKes, Kamis (17/10).

Menurut Iwan, RS Erba sebagai institusi yang pasti berharap hal hal buruk ini bisa dicegah sedini mungkin. Ia mengingatkan jika teknologi itu ada dua sisi. Jangan sampai sisi negatif yang menonjol sehingga anak-anak terjebak dalam anti sosial.

Syarkoni SPsi MPsi psikolog klinis anak RS Ernaldi Bahar kepada Sripoku.com mengatakan sebenarnya ini salah satu kemajuan teknologi bidang komunikasi. Alat komunikasi banyak aplikasi permainan dari anak anak sampai dewasa.

Keluarga yang sangat menyayangi anak memfasilitasi ini yang membuat anak secara psikologis tertarik untuk mengulangi permainan yang ada di HP tersebut yang menimbulkan rasa senang dan kegembiraan.

Rasa senang ini dikaji dalam segi fisiologis (tubuh) di dalam otak ada hormon apabila meningkat akan menimbulkan senang. Hormon itu ada empat: endorpine, dopamin, seretonin, oksi toksin.

Pada saat memainkan game, otak menghasilkan hormon tadi. Apabila beristirahat tidak memainkan game, zat akan berkurang sehingga ada ketidaknyamanan untuk mengulangi kesenangan, jadi ketagihan.

Ini berefek negatif kalau hampir 24 jam anak asyik memainkan game. Berefek tidak melakukan kegiatan lain termasuk kegiatan belajar mengajar baik di kelas, maupun menyelesaikan Pekerjaan Rumah. Otomatis akan menurunkan prestasi belajar.

Solusinya kalau dilarang total akan berdampak buruk. Orangtua (Ortu) harus bijak membatasi pada jam tertentu boleh. Pada jam malam ditunda dulu. Harus fokus belajar. Ortu harus lebih bijak mengawasi anak di rumah.

Kebanyakan dampak lain yang fenomena ortu mengajak ke profesional atau instutusi rumah sakit atau psikologi buka kecanduan, tapi efek prestasi menurun dan perilaku berubah. Berbaring terus, lupa makan, malas belajar. Kebanyakan menurunnya prestasi anak akibat keseringan main gadget.

Halaman
12
Penulis: Abdul Hafiz
Editor: Soegeng Haryadi
Sumber: Sriwijaya Post
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved