Human Interest Story

Diundang ke AS Gara-gara Sampah

Panggilan jiwanya yang begitu kuat untuk mencintai lingkungan, akhirnya ia buktikan setelah lulus kuliah pada 2018 lalu, membuatnya membentuk iGoGreen

BERAWAL saat duduk di bangku kuliah dan ikut bergabung dalam sebuah komunitas kepemudaan, lingkungan dan edukasi, membuat Aprilia Lestari akhirnya tergerak hatinya untuk peduli terhadap lingkungan. Panggilan jiwanya yang begitu kuat untuk mencintai lingkungan, akhirnya ia buktikan setelah lulus kuliah pada 2018 lalu, membuatnya membentuk iGoGreen.

iGogreen.id adalah sebuah aplikasi yang bisa didownloand dari playstore untuk menjual sampah daur ulang, plastik, kertas, logam dan sebagainya. Di aplikasi tersebut, bisa menjual sampah dan mendapatkan uang. Harga sampah yang dijual akan dihargai sesuai dengan jenis sampah tersebut. Dan didalam aplikasi tersebut sudah ada daftar harganya.

"Awalnya saya dan dua teman saya ini punya pemikiran yang sama yakni bagaimana bisa mengurangi sampah. Bagaimana bisa melakukan mendaur ulang sampah dan mencintai lingkungan," jelasnya.

Sejak itulah, ia bersama temannya membuat aplikasi tersebut dan hingga saat ini mendapatkan respon yang sangat bagus. Bahkan, anak keempat dari lima bersaudara ini sudah sering menjadi pembicara ditingkat internasional mewakili Indonesia dalam hal lingkungan.

"Jadi di aplikasi iGoGreen ini sampah dijual, lalu kita bayar dengan cash. Nanti petugas kami yang akan datang untuk memilah sampah-sampahnya dan akan kita hargai sesuai dengan harga pada saat itu karena harga sampah bisa berubah-ubah," ungkap gadia kelahiranPalembang, 3 April 1996.

Bahkan, pihaknya juga telah berkerjasama dengan beberapa puskesmas untuk berobat bisa menggunakan sampah. "Sudah ada di beberapa puskesmas yang kita ajak kerjasama yakni 7 ulu, kampus, kalidoni dan beberapa tempat lainnya," jelas dia.

Dengan mengedukasi secara tidak langsung seperti ini, setidaknya menyadarkan masyarakat agar dapat mencintai lingkungan dan mengurangi penggunaan sampah plastik.

"Saya sudah dua kalu menjadi pembicara di Amerika Serikat dan Belanda. Saya pun kagum melihat di sana konsisten tidak menggunakan plastik sangat tinggi," jelasnya. Kata dia, jika tempat jualan itu menggunakan plastik pembeli langsung menolak karena mereka tahu sampah plastik ini sulit terurai.

"Itu yang saya kagum. Dan bagi saya kalau kita juga sadar dan konsisten kita bisa kok tidak menggunakan sampah plastik sama sekali," tegasnya.

Namun, kata dia, seperti dirinya mengajak anggota keluarganya untuk mengurangi sampah plastik juga sulit dan memiliki tantangan tersendiri. "Jujur kalau dari dalam keluarga sendiri awalnya sulit yah tapi ini jadi tantangan sendiri. Kalau saya mulai bertahap mengingati anggota keluarga dirumah dan berkali-kali," ujar dia.

Apalagi, kata dia ibunya termasuk yang konsumtif juga namun ia langsung kasih kantong belanja yang bisa berkali-kali pakai tanpa harus menggunakan sampah plastik lagi. "Walaupun saya ingati tapi juga action gak harus selalu ngomong. Kita kasih dan sekarang ya kita sudah menerapkan meminimalisir penggunaan kantong plastik dirumah dan dapat memilah sampah-sampah yang bisa kita daur ulang," ungkap gadis cantik lulusan arsitek ini.

Dalam waktu dekat, ia pun akan menjadi salah satu pembicara di One Young World Summit pada 22 Oktober hingga 26 Oktober 2019 di Inggris. "Persiapan tak ada yang pasti kita akan membicarakan isu-isu lingkungan disana nantinya," tegas anak pasangan dari Marwan Satar dan Ratna Ningsih. (ts-Srie Riega)

Editor: Soegeng Haryadi
Sumber: Sriwijaya Post
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved