Langit Sumsel 25 Kali Ditaburi Garam

Bila sudah dilakukan penyemaian dan turun hujan, diharapkan bisa meredam titik api bahkan bisa menjadi nol.

Editor: Soegeng Haryadi
SRIPOKU.COM/BERI SUPRIYADI
Tahapan operasi modifikasi cuaca. Tim gabungan terdiri dari unsur TNI, BPBD, BPPT MC menyiapkan bahan semai yang diangkut menggunakan pesawat Cassa. 

PALEMBANG, SRIPO -- Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) bersama dengan TNI terus berupaya menghilangkan kabut asap di wilayah Sumsel dan Jambi. Dengan menerapkan Teknologi Modifikasi Cuaca, sebanyak 2,4 ton NaCl (garam) ditaburkan di wilayah udara Sumsel dan Jambi.

Dengan menggunakan pesawat CN-295 A-2901, dengan pilot Kapten Enggal dan co pilot Lettu Joenoes, melakukan penyemai kapur NaCl di wilayah udara Jambi dan wilayah Sumsel. Pangdam II Sriwijaya Mayjen TNI Irwan didampingi Kepala Divisi TMC BNPB Marskal Pertama Basuki Rochmat, terjun langsung melakukan penyemaian, Sabtu (12/10).

Menurut Pangdam, sebanyak 2,4 ton bahan NaCL disemai di atas awan Tanjung Jabung Timur dan Muaro Jambi. Sedangkan untuk wilayah Sumsel dilakukan penyemaian di Muba, Banyuasin, Ogan Ilir, Ogan Komering Ulu dan OKU Timur.

“Kalau untuk Jambi, ini untuk ke lima kali. Sedangkan untuk Sumsel ini ke 25 kalinya," katanya.

Penaburan NaCl ini bertujuan untuk menyemai awan yang berpotensi munculnya hujan. Sehingga, dengan penyemaian yang dilakukan bisa mempercepat proses terbentuknya awan penghujan.

Bila sudah dilakukan penyemaian dan turun hujan, diharapkan bisa meredam titik api bahkan bisa menjadi nol. Karena, titik hotspot saat ini naik turun, tapi bisa ditekan dibandingkan dengan sebelumnya.

“Kami dari TNI terus melakukan pemadaman di lokasi hutan yang terbakar. Selain itu, bersama TMC membuat hujan buatan yang mana harapan kita hujan bisa turun," ujarnya.

Sementara itu, Kepala Divisi TMC, Marsekal Pertama Basuki Rochmat mengatakan, kapur yang dibawa ditebarkan di wilayah Jambi dan Sumsel. Hal itu dilakukan untuk menciptakan hujan buatan.

“Meski hujannya sifatnya lokal, ada yang 1 jam ada yang hanya 15 menit, yang jelas ini kita lakukan untuk menekan terjadinya karhutla," jelasnya.

Lanjutnya, tidak hanya menyemai kapur tohor, akan tetapi juga melakukan koordinasi dengan BMKG untuk mengetahui kondisi awan sebelum disemai. Sehingga penyemaian bisa efektif yang nantinya awan yang disemai menjadi hujan.

Dari hasil laporan, Operasi Teknologi Modifikasi Cuaca (TMC) yang dilakukan berhasil menghadirkan hujan buatan yang terjadi di beberapa daerah terutama di daerah Sumsel. Hujan turun pada sore hari hingga menjelang malam hari di beberapa wilayah. (ard-TS)

Sumber: Sriwijaya Post
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved