BERITA EKSKLUSIF: Alat Pengasuh Raden Fatah

Menurut Vebri, masuknya wayang kulit yang merupakan kesenian nusantara ke Palembang melalui jalur kerajaan.

BERITA EKSKLUSIF: Alat Pengasuh Raden Fatah
SRIPO/ODI ARIA SAPUTRA
Beberapa wayang kulit Palembang yang dimiliki dalang Kiagung Wirawan Rusdi 

PALEMBANG, SRIPO -- Ketua Dewan Kesenian (DKP) Palembang, Vebri Al Intani mengungkapkan Wayang Kulit Palembang merupakan kesenian yang sudah ada sejak abad ke-14. Konon kabarnya, alat tersebut digunakan oleh Aryo Damar (Pemimpin Palembang di abad ke -14) sebagai alat pengasuh Raden Fatah semasa kecil.

"Ada beberapa pendapat menyebutkan Wayang Palembang sudah ada sejak zaman Raden Fatah, wayang ini kepentingannya digunakan untuk mengasuh Raden Fatah," ujarnya, Minggu (6/10).

Menurut Vebri, masuknya wayang kulit yang merupakan kesenian nusantara ke Palembang melalui jalur kerajaan. Kerajaan Jawa yang masih memiliki ikatan dengan Palembang secara tidak langsung membawa kesenian wayang turut serta masuk ke kota pempek.

Meski demikian, diakui Vebri belum ada sejarah yang mencatat langsung asal muasal masuknya wayang kulit Palembang melalui jalur kerajaan.

"Tidak bisa dipungkiri wayang kita ada ikatannya Jawa. Tetapi ada juga pendapat mengatakan wayang Palembang masuk lewat jalur masyarakat," jelas Vebri.

Diakuinya, sama seperti di Pulau Jawa, wayang kulit Palembang juga digunakan oleh orang zaman dahulu sebagai media untuk menyebarkan agama islam di Sumatera Selatan.

Wayang kulit Palembang sendiri sempat tenar pada tahun 80 an, akan tetapi mulai meredup di era 1990 an. Sempat mati suri, wayang Palembang hidup kembali lewat tangan dingin Kiagus Wirawan Rusdi.

"Tahun 80 an sempat tenar digunakan dalam hajatan, namun sampai sekarang keadaannya terancam punah dan tinggal menyisakan satu dalang saja," ungkapnya.

Semakin ditinggalkannya wayang kulit Palembang di era milenial, tidak terlepas dari kurangnya perhatian dari pemerintah Palembang untuk melakukan upaya pelestarian.

Selain itu, faktor masyarakat yang kurang peduli dan tak pernah menggunakan wayang kulit Palembang dalam setiap hajatan, membuatnya kini semakin tergerus oleh zaman.

"Pemerintah harus serius jika memang ingin m melestarikan wayang. Jangan sampai budaya ini benar-benar punah karena tak adanya kepedulian," jelas Vebri. (oca)

Penulis: Odi Aria Saputra
Editor: Soegeng Haryadi
Sumber: Sriwijaya Post
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved