Wawancara Eksklusif: Saya Akan Cuci Kedua Kaki Kedua Orangtua

Awalnya saya tidak menyangka akan dihukum mati, sebab tuntutan awal JPU adalah hukuman seumur hidup.

Wawancara Eksklusif: Saya Akan Cuci Kedua Kaki Kedua Orangtua
SRIPO/ARDANI ZUHRI
Asri Marlin 

VONIS majelis hakim PN Muaraenim terhadap Asri Marlin, pelaku utama pembunuhan dan pemerkosaan Ina Antimurti yang mayatnya dibakar dan dibuang di Kabupaten Ogan Ilir, menyedot perhatian masyarakat Muaraenim. Penyebabnya beberapa kasus serupa di tanah air para pelakunya hanya dikenakan hukuman seumur hidup. Bagaimana Asri Marlin menjalani hari-harinya setelah ia divonis hukuman mati, berikut wawancara eksklusif wartawan Sriwijaya Post Ardani Zuhri dengan Asri Marlin.

Sripo (S): Assalamualaikum, apa kabar?
Asri Marlin (AM): Waalaikum Salam, Alhamdulilah baik dan sehat.

S: Mohon maaf jika mengganggu Anda. Kami ingin silaturahmi dan mengkonfirmasi soal vonis hukuman mati oleh majelis hakim Pengadilan Negeri Muaraenim yang dijatuhkan kepada Anda.

AM: Ooo... tidak apa-apa, kebetulan saya ingin menyampaikan unek-unek dan harapan saya baik kepada keluarga saya, keluarga korban, terutama majelis hakim.

S: Bagaimana perasaan Anda saat mendengar majelis hakim memvonis mati?
AM: Awalnya saya tidak menyangka akan dihukum mati, sebab tuntutan awal JPU adalah hukuman seumur hidup. Namun putusan hakim ternyata adalah hukuman mati, padahal saya mengira akan dikenakan hukuman maksimal 20 tahun penjara. Padahal saya sudah punya itikad baik sebab saya bukan ditangkap tetapi dengan kesadaran sendiri menyerahkan diri ke pihak berwajib.

S: Setelah vonisnya hukuman mati, apa yang pertama kali Anda pikirkan?
AM: Pertama kali adalah kedua putri saya, sebab masih kecil-kecil berumur enam tahun dan enam bulan. Bagaimana nasib dan masa depannya. Kemudian kedua orangtua saya. Meski saya nakal dan sering menyusahkan namun orangtuanya tetap memperhatikan, terutama ayah saya yang menderita penyakit jantung. Saya takut akan terjadi apa-apa ketika mendengar saya dihukum mati.

S: Bagaimana reaksi istri Anda ketika tahu dihukum mati?
AM: Yang pasti saya sangat kecewa dengan istri, sebab disaat saya sedang terpuruk, malah ia minta cerai sebelum putusan vonis. Namun saya ikhlas, jika itu yang terbaik bagi istri saya.

S: Apa yang menjadi penyebab Anda nekat membunuh Ina Antimurti?
AM: Penyebabnya spontan saja berawal dari hutang piutang uang hasil penjualan narkoba. Karena tidak bisa membayar akhirnya saya emosi dan spontan membunuh korban. Untuk menghilangkan jejaknya, saya membawa mayatnya dengan mobil pikup dan membakarnya di atas kasur springbed di kampung Rambutan, Ogan Ilir.

S: Seadainya saat ini di depan Anda hadir kedua orangtua, apa yang dilakukan terhadapnya?
AM: Pertama-pertama saya meminta maaf kepada kedua orangtua dan keluarga besar saya, serta memohon ampun dan bertobat kepada Allah SWT tidak akan melakukan perbuatan yang melanggar hukum terutama atas perbuatannya yang telah membunuh Ina Antimurti. Begitupun kepada almarhumah, kedua orangtuanya dan keuarga besar almarhumah meminta maaf yang sebesar-besarnya. Bahkan perwakilan keluarga saya sudah mencoba meminta maaf, namun tidak direspon. Saya mengaku salah dan ikhlas menerima hukuman sebagai penebus kesalahannya.

S: Selain itu, apakah ada lagi yang akan Anda katakan perihal hukuman mati ini?
Asri Marlin: Masih ada, memohon kepada majelis hakim dan pihak terkait untuk tidak menghukum dan membebaskan kedua teman saya, yakni Abdul Malik dan Feriyanto dihukum penjara 20 tahun. Sebab perbuatan tersebut murni dilakukan saya sendiri dan spontan. Kedua teman saya tidak tahu menahu soal membunuh dan membakar mayat Ina. Setelah vonis mati tersebut saya hanya berdoa dan giat beribadah sebab hanya Allah SWT yang bisa memberikan pertolongan dan ampunan. (*)

Penulis: Ardani Zuhri
Editor: Soegeng Haryadi
Sumber: Sriwijaya Post
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved