Emas Bermunculan di Lahan Gambut Seusai Kebakaran Hutan di OKI, Sumatera Selatan

Diduga kuat bila Karang Agung Tengah, Air Sugihan, Tulung Selapan dan Cengal atau hampir seluruhnya daerah OKI merupakan pelabuhan dari Sriwijaya.

Emas Bermunculan di Lahan Gambut Seusai Kebakaran Hutan di OKI, Sumatera Selatan
HUMAS PEMPROV SUMSEL
Gubernur Sumsel Herman Deru turun langsung padamkan karhutla di Tulung Selapan. 

PALEMBANG, SRIPO -- Perhiasan emas bermunculan dari lokasi terbakarnya lahan gambut di kawasan Cengal OKI. Penemuan barang peninggalan Kerajaan Sriwijaya di Cengal OKI, memang tidak diragukan lagi. Karena memang, Cengal masuk dalam jalurnya yang dilalui Kerajaan Sriwijaya saat itu.

Karena, diduga kuat bila Karang Agung Tengah, Air Sugihan, Tulung Selapan dan Cengal atau hampir seluruhnya daerah OKI merupakan pelabuhan dari Kerajaan Sriwijaya ketika itu. Berdasarkan penelitian dari Badan Arkeologi Sumsel, bila Pantai Timur Sumatera merupakan jalur pelayaran dari Kerajaan Sriwijaya.

"Pelabuhan Kerajaan Sriwijaya kemungkinan ada di Teluk Cengal, karena Teluk Cengal ini tembus ke Selat Bangka. Begitu pula di Pulau Maspari yang diduga dulu memiliki peran penting pada jaman Kerajaan Sriwijaya," ujar Kepala Balai Arkeologi Sumsel Budi Wiyana yang ditemui di ruang kerjanya, Jumat (4/10).

Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan sejak lama, di wilayah Pantai Timur, Karang Agung Tengah, Air Sugihan dan Cengal juga banyak ditemukan gerabah, tiang rumah hingga emas yang berbentuk perhiasan.

Akan tetapi, dari Balai Arkeologi Sumsel hanya bisa mendapatkan gerabah, tiang rumah hingga dayung atau kemudi perahu. Itu lantaran, dianggap orang yang mencari barang bersejarah tidak memiliki nilai ekonomis. Sehingga hanya ditinggalkan begitu saja.

"Kalau emas itukan memiliki nilai ekonomis untuk dijual. Jadi, kami tidak pernah menemukan berupa emas. Namun, dari masyarakat yang sering dapat disana bila emas yang ditemukan berupa cincin polos. Cincin ini, biasanya digunakan untuk anak-anak. Tetapi ada pula untuk dewasa," jelasnya.

Tak hanya emas, tetapi juga sering ditemukan manik-manik baik dari kaca atau batu yang memiliki nilai ekonomis untuk dijual. Benda ini juga diambil masyarakat yang sengaja mencarinya dan setelah diperoleh kembali dijual.

Benda-benda peninggalan Kerajaan Sriwijaya ini, mulai muncul kepermukaan setelah lahan-lahan gambut terbakar. Sejak tahun 2015, benda-benda peninggalan Kerajaan Sriwijaya mulai bermunculan dari lahan gambut yang terbakar.

Masyarakat akan melakukan pemburuan barang-barang peninggalan Kerajaan Sriwijaya saat kondisi kemarau. Karena, ketika itulah barang-barang ini tidak tertutup air dan bisa digali untuk dicari.

"Penemuan barang-barang dari Kerajaan Sriwijaya ini, ada kemiripan dari peninggalan Kerajaan Punan di Vietnam pada abad 6, terutama temuan-temuan dari Cengal dan Air Sugihan. Karena, saat itu ada pernah ada perniagaan antara dua kerajaan ini," jelasnya.

Gerabah, tiang bahkan kemudi perahu yang panjangnya 3 meter sampai 6 meter ditemukan, kebanyakan sudah berada di atas tanah dan bahkan ada yang terbakar. Karena ini, dianggap tidak berharga untuk masyarakat yang mencari barang peninggalan kerajaan Sriwijaya.

Namun, bagi Balai Arkeologi Sumsel barang ini sangat berharga. Dengan penelitian yang dilakukan, bisa menunjukan aktivitas di lokasi-lokasi tersebut. Tak hanya aktivitas perniagaan yang dilakukan, tetapi juga pemukiman masyarakat saat itu.

"Kami hanya bisa berharap, bila masyarakat menemukan peninggalan Kerajaan Sriwijaya bisa dilaporkan sehingga bisa di data. Meski, dari masyarakat tidak mau menyerahkannya. Namun, kami bisa mengetahui ada penemuan itu," ujarnya.

Karena saat ini, perburuan barang-barang peninggalan masyarakat lama dan dari Kerajaan Srwiijaya terus dilakukan. Tiap musim kemarau, masyarakat tidak hanya masyarakat sekitar, tetapi masyarakat dari luar juga ikut melakukan perburuan. (ard)

Editor: Soegeng Haryadi
Sumber: Sriwijaya Post
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved