Muncul 198 Titik Panas di Sumsel

Saat ini tim darat dan udara terus melakukan pemadaman di daerah yang terbakar, terutama di wilayah yang terpantau titik panas.

Muncul 198 Titik Panas di Sumsel
HUMAS PEMPROV SUMSEL
Mahasiswa dan pemuda di Sumsel ikut terjun atasi karhutla. 

PALEMBANG, SRIPO -- Meski hujan mulai mengguyur Sumatera Selatan, namun kabut asap kembali muncul sejak dua hari terakhir. Bahkan, berdasarkan pantauan Satelit LAPAN pada 30 September 2019 ini terdapat 198 titik panas di wilayah Sumsel, meningkat dari hari sebelumnya sebanyak 63 titik panas.

Kepala Bidang Penanganan Kedaruratan Badan Penanggulangan Bencana Daerah ( BPBD) Sumsel, Ansori Titik panas hari ini naik lagi, tercatat ada 198 titik panas, 150 titik diantaranya ada di Ogan Komering Ilir.

Saat ini tim darat dan udara terus melakukan pemadaman di daerah yang terbakar, terutama di wilayah yang terpantau titik panas. Tim masih fokus melakukan pemadaman dengan waterbombing di OKI. Lantaran, kabupaten ini memang terbanyak titik panas dan titik api.

“Kalau kebakaran lahan terjadi di OKI yang rata-rata merupakan lahan gambut sehingga akan mudah meluas jika terbakar. Selain itu, asap hasil pembakarannya akan sangat mudah juga mengarah ke Palembang," ujarnya, Senin (30/9/2019).

Ansori mengatakan, sampai saat ini luas kebakaran di Sumsel mencapai 80.125 hektar. Tiga kabupaten yang lahan terbakar paling luas ada di Musi Banyuasin (24.304 hektar), Ogan Komering Ilir (24.129 hektar), dan Banyuasin (14.612 hektar).

“Jumlahnya akan terus bertambah jika tidak ditangani dengan segera,” ujarnya.

Sementara itu, Kepala Seksi Observasi Dan Informasi Stasiun Meteorologi Sultan Mahmud Badaruddin (SMB) II Palembang Bambang Benny Setiaji mengatakan, walau titik panas meningkat, Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU) untuk kualitas udara masih dalam kategori sedang dengan angka 55.

Sementara pantauan BMKG di tingkat Konsentrasi Partikulat (PM 10) di Kota Palembang masih dalam kategori sedang dengan nilai 72.51 mikrogram/meter kubik. PM 10 sempat menyentuh kategori tidak sehat pada pukul 07.00 WIB-08.00 WIB dengan nilai 188.77 mikrogram/meter kubik -172.29 mikrogram/meter kubik.

“Setelah munculnya potensi hujan dari 24-27 September 2019, intensitas hujan pada beberapa hari ke depan akan menurun. Fenomena ini terjadi karena secara regional, muncul Badai Tropis Mitag di Laut Cina Selatan mengakibatkan kembali adanya aliran massa udara ke arah pusat tekanan rendah badai tersebut,” jelasnya.

Kondisi tersebut mengakibatkan penurunan potensi dan intensitas hujan di wilayah Sumsel tiga hari ke depan (1-3 Oktober 2019). Adapun kondisi hujan akibat faktor lokal (awan konvektif) akan tetap berpotensi di wilayah Sumsel dikarenakan kelembaban udara lapisan atas cukup memadai untuk pertumbuhan awan.

Halaman
12
Penulis: Rahmaliyah
Editor: Soegeng Haryadi
Sumber: Sriwijaya Post
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved