Human Interest Story

Saya Bantu Karena Kasihan Melihatnya

Selain di rumah sakit AK Gani dan RS Muhammadiyah Palembang ada pula mahasiswa lain yang dirawat di RS RK Charitas Palembang.

Saya Bantu Karena Kasihan Melihatnya
TRIBUN SUMSEL.COM/MELISA WULANDARI
Suasana aksi dari ribuan mahasiswa di Sumsel di depan gedung DPRD Sumsel sebelum akhirnya menjadi ricuh 

AKSI damai yang dilakukan puluhan ribu mahasiswa di kawasan Jalan POM IX, di depan DPRD Sumsel, berujung ricuh. Bentrok mahasiswa dengan kepolisian, membuat beberapa mahasiswa terluka hingga pingsan. Selain itu, tembakan gas air mata juga menyebabkan mata sejumlah mahasiswa perih dan memerah.

*********
Sejumlah mahasiswa yang berasal dari Universitas Muhammadiyah Palembang, Universitas Bina Darma, Universitas PGRI Palembang dan universitas lainnya terluka.

"Banyak ini yang dibawa dan masuk rumah sakit, ada yang kena injak dan sesak nafas. Kalau yang terpantau oleh saya, di RS Muhammadiyah Palembang ada satu mahasiswa UMP, di UGD RS AK Gani Palembang ada mahasiswa UMP juga. Tapi gak hanya mahasiswa UMP saja namun dari UIN RF juga ada," ujar Wakil Rektor III UMP Mukhtarudin Muhiri saat dihubungi Tribun melalui telepon, Selasa (24/9).

Selain di rumah sakit AK Gani dan RS Muhammadiyah Palembang ada pula mahasiswa dari UMP da mahasiswa dari Universitas lain yang dirawat di RS RK Charitas Palembang.

"Dan terkait mahasiswa kami (UMP) yang masuk rumah sakit, semua saya bantu (biaya pribadi) karena kasihan lihat mereka ini," katanya.

"Ini inisiatif pribadi saya aja, karena biayanya juga murah. Saya bertanggung jawab karena ini mahasiswa saya, jadi mereka ini kan diobati dengan pertolongan pertama seperti di RS AK Gani biayanya Rp 140 ribu dan saya bisa bantu, dan saya juga gak tega lihat mereka," tambahnya.

Sementara, mahasiswa UMP yang dirawat di RS Muhammadiyahada sebanyak 3 orang dan semua sudah membaik. "Alhamdulillah mereka sudah membaik, tadi sempat ada yang pingsan dari Universitas Bina Darma tapi sudah baik yang lainnya kena gas air mata," jelasnya.

"Dan saya sendiri tadi memang pertama-tama saya dekat dengan lokasi, dan saga lihat ada negoisasi antara pimpinan aksi dari mahasiswa, saya lihat dia naik ke mobil polisi yang ada speakernya katakanlah mobil komandonya polisi. Ketika nego sepertinya tidak terjadi kesepakatan sehingga mahasiswa bergerak maju dan berterika maju-maju dan membuat polisi menembakan water canon," jelasnya.

Saat ditembakan water canon, hanya basah tampaknya mahasiswa masih santai. "Kemudian setelah ditembak water canon, polisi menembakan gas air mata dan saya sudah lari ke belakang. Saya juga khawatir perlu menyelamatkan diri kan, karena tugas saya ini mengawasi anak-anak saya," katanya.

"Dari aksi yang berakhir ricuh ini, sehingga membuat beberapa mahasiswa UMP ada yang luka, rektor tahu semua karena saya terus koordinasi dengan rektor," tutupnya. (melisa wulandari)

Editor: Soegeng Haryadi
Sumber: Sriwijaya Post
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved